Fiqih Qurban 03

Kesunnahan dalam Qurban

Bila qurbannya sunnah, bukan qurban yang nadzar, maka diperbolehkan baginya;
a. Sunah baginya memakan daging qurban , satu, dua atau tiga suap, karena untuk tabarruk (mencari berkah) dengan udlhiyyahnya.
b. Diperbolehkan baginya memberi makan (ith’am) pada orang kaya yang Islam.
c. Wajib baginya menshadaqahkan daging qurban. Yang paling afdhal adalah menshadaqahkan seluruh daging qurban, kecuali yang ia makan untuk kesunahan.
d. Apabila orang yang berqurban mengumpulkan antara memakan, shadaqah dan menghadiahkan pada orang lain, maka disunahkan baginya agar tidak memakan di atas sepertiga, dan tidak shadaqah di bawah sepertiganya.
e. Menshadaqahkan kulit hewan qurban, atau membuatnya menjadi perabot dan dimanfaatkan untuk orang banyak, tidak diperbolehkan baginya untuk menjualnya atau menyewakannya.

Permasalahan-Permasalahan dalam Qurban

1. Upah pengurusan Daging Qurban

عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا، وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا، قَالَ: نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا
"Diriwayatkan dari `Ali RA, beliau berkata : "Rasulullah SAW memerintahkanku untuk mengurusi hewan Qurban beliau. Aku pun lantas membagikan dagingnya, kulitnya dan pakaiannya. Beliau memerintahkanku untuk tidak memberi upah kepada jagal dari hewan kurban, sedikit pun. Beliau bersabda, ‘Kami akan memberi upah untuk jagal dari harta kami yang selainnya.” (Shahih Muslim, no.1317 )

2. Berqurban untuk orang yang sudah meninggal
(وَلاَ تَضْحِيَةَ عَنِ الْغَيْرِ) الْحَيِّ (بِغَيْرِ إذْنِهِ) وَبِإِذْنِهِ تَقَدَّمَ (وَلاَ عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا) وَبِإِيصَائِهِ تَقَعُ لَهُ. (قوله وَبِإِيصَائِهِ) … إلى أن قال: وَقَالَ الرَّافِعِيُّ: فَيَنْبَغِي أَنْ يَقَعَ لَهُ وَإِنْ لَمْ يُوصِ لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنَ الصَّدَقَةِ.
“Imam Nawawi berpendapat bahwa tidak sah berqurban untuk orang lain yang masih hidup tanpa mendapat izin dari yang bersangkutan, tidak sah juga berqurban untuk mayit, apabila tidak berwasiat untuk diqurbani. Sementara itu Imam Rafi’i berpendapat boleh dan sah berqurban untuk mayit walaupun dia tidak berwasiat, karena ibadah qurban adalah salah satu jenis shadaqah”. (Kitab Qalyubi, Juz IV, hal. 255)

3. Mendistribusikan daging qurban ke luar daerah sendiri
a. Yang mengharamkan
وَيَحْرُمُ نَقْلُهَا كَالزَّكَاةِ.
“Dan haram hukum memindahkannya (hewan qurban) sebagaimana haram memindahkan zakat.” (Kitab Busyral Karim, juz II, hal. 128)
b. Yang membolehkan
مَحَلُّ التَّضْحِيَةِ بَلَدُ الْمُضَحِّيْ. وَفِى نَقْلِ الْأُضْحِيَةِ وَجْهَانِ تَخْرِيْجًا مِنَ الزَّكَاةِ، وَالصَّحِيْحُ هُنَا الْجَوَازُ.
“Adapun tempat berqurban adalah daerah orang yang berqurban itu sendiri. Ada dua pendapat mengenai hokum memindahkan qurban itu, sebagaimana adanya perbedaan pendapat ulama tentang hukum memindahkan zakat. Sedangkan menurut pendapat yang shahih dalam masalah ini adalah pendapat ulama yang membolehkan.” (Kitab Kifayatul AKhyar, Juz II, hal. 229)
c. Yang utama
اَلْأَفْضَلُ اَنْ يُضَحِّيَ فِى دَارِهِ بِمَشْهَدِ اَهْلِهِ، هَكَذَا قَالَهُ اَصْحَابُنَا.
“Lebih utama ia menyembelih hewan qurbannya itu di rumahnya dengan disaksikan oleh keluarganya. Demikianlah telah dikemukakan oleh sahabat-sahabat kami (dari Madzhab Syafi’i). (Kitab Al Majmu` Syarah Al Muhadzdzab, Juz VIII, hal. 425)

6. Mewakilkan pembagian daging qurban
(قَوْلُهُ وَتَفْرِقَةُ الزَّكَاةِ مَثَلاً) أَيْ وَكَذَبْحِ أُضْحِيَةٍ وَعَقِيْقَةٍ وَتَفْرِقَةِ كَفَّارَةٍ وَمَنْذُوْرٍ وَلاَ يَجُوْزُ لَهُ أَخْذُ شَيْءٍ مِنْهَا إِلاَّ إِنْ عَيَّنَ لَهُ الْمُوَكِّلُ قَدْرًا مِنْهَا.
“Penjelasan: Boleh mewakilkan kepada orang lain dalam hal membagi-bagi zakat, demikian pula dalam hal menyembelih qurban dan aqiqah serta membagi-bagi kaffarat dan nadzar. Dan bagi si wakil tidak boleh mengambil bagian sedikit pun dari apa yang dibagikan itu kecuali jika orang yang mewakilkan menyatakan boleh mengambil bagian tertentu dari benda tersebut”. (Kitab Bajuri juz I, hal. 286)

Binatang-Binatang yang Tidak Diperbolehkan untuk Kurban

Syarat-syarat binatang yang untuk kurban adalah bintang yang bebas dari aib (cacat). Karena itu, tidak boleh berkurban dengan binatang yang aib seperti di bawah ini:
1. Yang penyakitnya terlihat dengan jelas.
2. Yang buta dan jelas terlihat kebutaannya
3. Yang pincang sekali.
4. Yang sumsum tulangnya tidak ada, karena kurus sekali.
5. Rasulullah saw bersabda, “Ada empat penyakit pada binatang kurban yang dengannya kurban itu tidak mencukupi. Yaitu yang buta dengan kebutaan yang nampak sekali, dan yang sakit dan penyakitnya terlihat sekali, yang pincang sekali, dan yang kurus sekali.” (HR Tirmidzi seraya mengatakan hadis ini hasan sahih).
6. Yang cacat, yaitu yang telinga atau tanduknya sebagian besar hilang.

Selain enam macam binatang cacat di atas, ada binatang-binatang lain yang tidak boleh untuk kurban, yaitu:
1. Hatma’ (ompong gigi depannya, seluruhnya).
2. Ashma’ (yang kulit tanduknya pecah).
3. Umya’ (buta).
4. Taula’ (yang mencari makan di perkebunan, tidak digembalakan).
5. Jarba’ (yang banyak penyakit kudisnya).