Fiqih Qurban 02

Hukum Qurban menurut 4 Madzhab

• Menurut Madzhab Syafi’i

سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ فِي حَقِّنَا عَلَى الْكِفَايَةِ إنْ تَعَدَّدَ أَهْلُ الْبَيْتِ فَإِذَا فَعَلَهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ كَفَى عَنْ الْجَمِيعِ وَإِلَّا فَسُنَّةُ عَيْنٍ

Hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan) untuk kami (umat Islam) dengan sunnah kifayah (jika ada satu yang melakukan, maka yang lain gugur perintah melakukannya) apabila ahli rumah berbilang jumlahnya. Jika tidak berbilang (maksudnya hanya satu orang) maka hukumnya sunnah ‘ain. (Kitab Al-Iqna fii Halli Alfaazhi Abi Syujaa’ juz II halaman 278, cetakan Al Ma’aarif / juz II halaman 588, maktabah syamilah)

• Menurut madzhab Hanafi
الْأُضْحِيَّةُ وَاجِبَةٌ عَلَى كُلِّ حُرٍّ مُسْلِمٍ مُقِيمٍ مُوسِرٍ فِي يَوْمِ الْأَضْحَى عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ وَلَدِهِ الصِّغَارِ .
Udhiyyah (berqurban) hukumnya wajib bagi setiap orang merdeka (bukan budak), muslim, mukim dan kaya pada hari Adha untuk dirinya dan anak-anaknya yang kecil. (Kitab Fathu Qadiir Libni Humaam juz 22 halaman73, maktabah syamilah)

• Menurut Madzhab Maliki

قَالَ مَالِكٌ : الْأُضْحِيَّةُ سُنَّةٌ وَاجِبَةٌ لَا يَنْبَغِي تَرْكُهَا لِقَادِرٍ عَلَيْهَا مِنْ أَحْرَارِ الْمُسْلِمِينَ إلَّا الْحَاجَّ فَلَيْسَتْ عَلَيْهِمْ أُضْحِيَّةٌ.
Imam Malik berkata: Berqurban hukumnya sunnah yang wajibah (yang kokoh), tidak sepatutnya meninggalkan berqurban bagi orang merdeka yang muslim kecuali orang-orang yang berhaji, bagi mereka tidak diwajibkan (disunnahkan dengan kokoh) melakukan udhiyyah (berqurban). (Kitab Attaaj Wal Ikliil Li Mukhtashari Khaliil juz IV halaman 352, maktabah syamilah)

• Menurut Madzhab Hanbali
وَالْأُضْحِيَّةُ مَشْرُوعَةٌ إِجْمَاعًا …إلى أن قال… وَهِيَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ لِمُسْلِمٍ.
Udhiyyah (berqurban) adalah disyari’atkan menurut ijma. Hukumnya sunnah muakkad bagi orang Islam. (Kitab Kasysyaaful Qinaa’ Lil Buhuuti juz VII halaman 434, maktabah syamilah)

Syarat dan Ketentuan

1. Syarat binatang yang disembelih
a. Jenis hewan yang disembelih

فَصْلٌ وَلَهَا أَي الْأُضْحِيَّةِ شُرُوطٌ عَبَّرَ عنها الرَّافِعِيُّ كَالْغَزَالِيِّ بِالْأَرْكَانِ الْأَوَّلُ كَوْنُهَا من النَّعَمِ وَهِيَ الْإِبِلُ وَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ بِسَائِرِ أَنْوَاعِهَا بِالْإِجْمَاعِ وقال تَعَالَى وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ على ما رَزَقَهُمْ من بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ. ولم يُنْقَلْ عنه صلى اللَّهُ عليه وسلم وَلَا عن أَصْحَابِهِ التَّضْحِيَةُ بِغَيْرِهَا. وَلِأَنَّ التَّضْحِيَةَ عِبَادَةٌ تَتَعَلَّقُ بِالْحَيَوَانِ فَتَخْتَصُّ بِالنَّعَمِ كَالزَّكَاةِ فَلَا يُجْزِئُ غَيْرُ النَّعَمِ من بَقَرِ الْوَحْشِ وَحَمِيرِهِ وَالظِّبَاءِ وَغَيْرِهَا.
“PASAL: Qurban memiliki beberapa syarat yang oleh Imam Rofi’i dan Ghozali diistilahkan dengan beberapa rukun diantaranya : Berkurban harus memakai hewan ternak yakni unta, sapi dan kambing dengan berbagai macam spesiesnya menurut kesepakatan para ulama. Allah Ta’ala berfirman, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka” (QS. 22:34). Tidak dinukil sebuah keteranganpun dari Nabi SAW dan para sahabatnya menyembelih Qurban dengan menggunakan selain hewan tersebut. Dan karena qurban adalah ibadah yang berkaitan dengan binatang, maka hanya tertentu untuk jenis hewan-hewan ternak sebagaimana zakat (hewan yang wajib dizakati juga sebatas binatang ternak / unta, sapi dan kambing) maka tidaklah cukup berqurban dengan selainnya seperti memakai sapi hutan, keledai dan lainnya. (Kitab Asnaa al-Mathaalib I/535)

b. Usia hewan qurban
عَنْ جَابِرٍ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ.
Dari Jabir dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu sembelih hewan untuk berkurban, melainkan Musinnah. Kecuali jika itu sulit kamu peroleh, sembelihlah Jadza’ah domba (domba yang usianya lebih dari 6 bulan).” (Shahih Muslim, 10/142)
Musinnah atau Tsaniyy adalah setiap hewan yang tanggal gigi serinya. Jamaknya Tsina’ dan Tsunyan. Bentuk lainya Tsaniyyah yang dijamakkan menjadi Tsaniyyat. Tsaniyy dari unta adalah unta yang genap berusia lima tahun, dari sapi yang genap dua tahun dan dari kambing yang genap satu tahun (Mu’jam Lughoti Al-Fuqoha’, vol I, hal. 188)
Rinciannya sebagai berikut:
• Domba (sheep; Ovis Aries), usia minimalnya adalah 6 bulan Hijriyyah
• Kambing (goat; Capra hircus), usia minimalnya adalah 1 tahun Hijriyyah
• Sapi (cow), usia minimalnya adalah 2 tahun Hijriyyah
• Unta (camel), usia minimalnya adalah 5 tahun Hijriyyah

c. Waktu penyembelihan

)و) يدخل (وقت الذبح) للأضحية (من وقت صلاة العيد) أي عيد النحر. وعبارة الروضة وأصلها «يدخل وقت التضحية إذا طلعت الشمس يوم النحر، ومضى قدر ركعتين وخطبتين خفيفتين». انتهى. ويستمر وقت الذبح (إلى غروب الشمس من آخر أيام التشريق)، وهي الثلاثة المتصلة بعاشر ذي الحجة.

Masuk waktunya menyembelih qurban mulai dari setelah shalat `id. Ungkapan dalam kitab Ar-Raudlah dan asalnya "Masuk waktunya qurban dimulai sejak terbit matahari dan ditambah seukuran 2 raka’at dan 2 khutbah yang ringan”. Berlaku masa menyambelih sampai tenggelam matahari hari tasyriq, yaitu 3 hari yang bersambung dengan tanggal 10 Dzulhijjah. (Kitab Fat-hul Qarib Al Mujib fii Syarh Alfaazh At Taqriib, hal. 147)

d. Boleh berqurban dengan hewan betina

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ فَرْقَ فِي اْلإِجْزَاءِ بَيْنَ اْلأُنْثَى وَالذَّكَرِ إِذَا وُجِدَ السِّنُّ الْمُعْتَبَرُ، نَعَمْ الذَّكَرُ أَفْضَلُ عَلَى الرَّاجِحِ، لأَنَّهُ أَطْيَبُ لَحْماً.

“Ketahuilah, bahwa dalam kebolehan dan keabsahan qurban/aqiqah tidak ada perbedaan antara ternak betina dan ternak jantan apabila umurnya telah mencukupi. Dalam hal ini memang ternak jantan lebih utama dari pada ternak betina karena jantan itu lebih lezat dagingnya”. (Kitab Kifayatul Akhyar juz II, hal. 236)

e. Qurban Sapi atau Unta 7 orang

عن جابرٍ بن عبد الله قال: نحرنا مع رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسَلَّم بالحُديبيةِ البدنةَ عن سبعةٍ والبقرةَ عن سبعةٍ

Dari Jabir bin Abdullah, berkata “Kami berqurban bersama Rasulullah SAW di tahun Hudaibiyah, unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang”. (HR Imam Malik dalam Kitab Al Muwaththa’, Juz I, hal. 321-322)

f. Berqurban (boleh) dengan hewan Kerbau
اتفق العلماء على أن الأضحية لا تصح إلا من نَعم: إبل وبقر (ومنها الجاموس) وغنم (ومنها المعز) بسائر أنواعها، فيشمل الذكروالأنثى، والخصي والفحل.

Para Ulama Fiqh sepakat bahwa kurban tidak diperbolehkan kecuali dengan binatang ternak yaitu : Unta, Sapi (termasuk kerbau) dan kambing (termasuk kambing kacang) dengan segala jenisnya mencakup ternak jantan atau betina, yang dikebiri atau menjadi pejantan. (Al-Fiqh al-Islaam IV/259)

g. Hewan yang dianggap cacat

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ شُرَيْحِ بْنِ النُّعْمَانِ الصَّائِدِيِّ وَهُوَ الْهَمْدَانِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَسْتَشْرِفَ الْعَيْنَ وَالْأُذُنَ وَأَنْ لَا نُضَحِّيَ بِمُقَابَلَةٍ وَلَا مُدَابَرَةٍ وَلَا شَرْقَاءَ وَلَا خَرْقَاءَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ شُرَيْحِ بْنِ النُّعْمَانِ عَنْ عَلِيٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ وَزَادَ قَالَ الْمُقَابَلَةُ مَا قُطِعَ طَرَفُ أُذُنِهَا وَالْمُدَابَرَةُ مَا قُطِعَ مِنْ جَانِبِ الْأُذُنِ وَالشَّرْقَاءُ الْمَشْقُوقَةُ وَالْخَرْقَاءُ الْمَثْقُوبَةُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ قَالَ أَبُو عِيسَى وَشُرَيْحُ بْنُ النُّعْمَانِ الصَّائِدِيُّ هُوَ كُوفِيٌّ مِنْ أَصْحَابِ عَلِيٍّ وَشُرَيْحُ بْنُ هَانِيءٍ كُوفِيٌّ وَلِوَالِدِهِ صُحْبَةٌ مِنْ أَصْحَابِ عَلِيٍّ وَشُرَيْحُ بْنُ الْحَارِثِ الْكِنْدِيُّ أَبُو أُمَيَّةَ الْقَاضِي قَدْ رَوَى عَنْ عَلِيٍّ وَكُلُّهُمْ مِنْ أَصْحَابِ عَلِيٍّ فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ قَوْلُهُ أَنْ نَسْتَشْرِفَ أَيْ أَنْ نَنْظُرَ صَحِيحًا

Telah menceritakan kepada kami [Al hasan bin Ali Al Hulwani] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Syarik bin Abdullah] dari [Abu Ishaq] dari [Syuraih bin An Nu'man Ash Sha`idi dan dia adalah orang? Hamdan] dari [Ali bin Abu Thalib] ia berkata:
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk memperhatikan baiknya mata dan telinga (hewan kurban). Beliau juga melarang kami untuk berkurban dengan hewan yang cacat telinga bagian depannya, dan tidak pula cacat telinga bagian belakangnya, tidak yang terbelah daun telinganya dan tidak pula yang terdapat lubang bundar pada daun telinganya." Telah menceritakan kepada kami [Al Hasan bin Ali] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ubaidullah bin Musa] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Isra'il] dari [Abu Ishaq] dari [Syuraih bin Nu'man] dari [Ali] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti hadits tersebut. Ia menambahkan, Ali berkata; "Muqabalah adalah hewan yang terpotong pada sisi ujungnya, Mudabarah hewan yang terpotong pada sisi telinganya, Syarqa’ hewan yang telinganya terbelah; dan Kharqa hewan yang telinganya berlubang."
Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan shahih. Syuraih bin An Nu’man Ash Sha`idi berasal dari Kufah, dan termasuk dari sahabat Ali. Syuraih bin Hani juga dari Kufah, bapaknya termasuk sahabat Ali. Syuraih Ibnul Harits Al Kindi Abu Umayyah Al Qadhi telah meriwayatkan dari Ali, mereka semua masih sahabat Ali yang hidup dalam satu masa. Perkataan Ali ‘memperhatikan baiknya’ maksudnya adalah memperhatikan kesehatan hewan kurban." (HR At Tirmidzi, No. 1418)

2. Prosesi pemotongan hewan qurban
Rukun penyembelihan itu ada 4, yaitu;
• Dzabhu (pekerjaan menyembelih)
• Dzabih (orang yang menyembelih)
• Hewan yang disembelih
• Alat menyembelih (disunnahkan yang tajam / baik)

Proses penyembelihan hewan qurban didahului dengan:
a. Membaca basmalah
b. Membaca Shalawat pada Nabi
c. Menghadap ke arah kiblat (bagi hewan yang disembelih dan orang yang menyembelih)
d. Membaca takbir 3 kali bersama-sama
e. Berdoa agar qurbannya diterima oleh Allah, orang yang menyembelih mengucapkan;
اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ، فَتَقَبَّلْ هَذِهِ الْأُضْحِيَّة، نِعْمَةً مِنْكَ عَلَيَّ، وَتَقَرَّبْتُ بِهَا إِلَيْكَ، فَتَقَبَّلْهَا.
Allhumma Hadza minka wa ilaika fa taqobbal hadzihil udlhiyyah ni’matan minka ‘alayya wa taqorrobtu biha ilaika fa taqobbalha.. [Hasyiyah Bajuri Juz 2]