Fiqih Ibu Hamil & Melahirkan

Saudaraku sekalian yang berbahagia. Beribadah kepada Allah bisa dilakukan semua insan dalam berbagai kesempatan berdasarkan kemampuannya masing-masing. Seorang ibu yang hamil pun tetap harus beribadah kepada Allah meski dalam kondisi serba terbatas secara fisik. Oleh karena itu, pengetahuan tentang panduan ibadah bagi ibu dalam kondisi hamil dan melahirkan ini menjadi penting.

Panduan ini juga tidak terbatas untuk para ibu, tapi juga bagi kaum pria yang menjadi pendamping hidup dalam membantu sang istri. Sebab, suami juga akan turut berperan dalam mendoakan, menuntun ibadah, membantu menghilangkan najis, mengumandangkan adzan untuk bayi yang melahirkan, dan lainnya yang berkenaan dengan ibu hamil atau melahirkan.

Kaitannya dengan wanita hamil juga, muncul permasalahan tentang hukum menjatuhkan thalaq saat istri hamil, tentang hukum menikahi wanita yang hamil, dan lainnya.

PERTAMA : MASA KEHAMILAN

Masa sedikitnya wanita hamil adalah enam bulan lebih, seukuran lamanya bersetubuh dan lamanya melahirkan. Waktu tersebut di hitung dari kumpul suami dengan istrinya sesudahnya akad nikah. Masa kebiasannya wanita hamil adalah sembilan bulan dan masa hamil paling lama adalah empat tahun Qamariyah, sebagaimana yang dialami sendiri oleh Imam Syafi’i di kandungan ibunya.

Masalah sedikitnya masa hamil, kebiasannya dan lamanya, yang digunakan setandar bulan yang penuh 30 hari dan bukan bulan penanggalan yang kadang hanya berisi 29 hari.

Maka, apabila ada seorang bayi lahir setelah akad nikah belum sampai penuh enam bulan, nasabnya tidak bisa kepada bapak. Dan jika ada seorang anak lahir setelah perpisahan orang tuanya sampai teng-gang lebih dari empat tahun, maka nasab anak tersebut juga tidak bisa kepada bapak. Tetapi apabila pada saat lahirnya anak belum sampai tenggang cukup empat tahun, maka masih tetap dihukumi anaknya ba-pak yang sudah perpisahan dengan ibunya (Referensi: Kitab Fathul Qaribul Mujib pada Hamisy Al-Bajuri: 1/113, Hasyiyah Al-Bujairami ‘Alal Khatib: 1/305 dan Tabyinal Ishlah: 158).

TAHAPAN PERKEMBANGAN JANIN

Setelah terjadi pembuahan yang ditakdirkan oleh Allah Azza wa Jalla hingga berproses menjadi seorang anak, mulailah sang ibu mengalami perubahan-perubahan di rahimnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu hadits shahih bersabda.

إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ،

Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dipadukan bentuk ciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari (dalam bentuk mani) lalu menjadi segumpal darah selama itu pula (selama 40 hari), lalu menjadi segumpal daging selama itu pula, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh pada janin tersebut, lalu ditetapkan baginya empat hal: rizkinya, ajalnya, perbuatannya, serta kesengsaraannya dan kebahagiaannya.” [Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu].

KEDUA : AMALAN IBU HAMIL

1. Banyak berdoa’a kepada Allah dengan doa-doa yang baik

2. Menjalankan segala ibadah yang pokok seperti shalat lima waktu

3. Perbanyak istigfar dan bertaubat

4. Sempurnakan ibadah dengan mengerjakan ibadah yang bersifat sunnah (shalat dhuha, dll)

5. Perbaiki akhlak dan adab keseharian kita

6. Perbanyak dzikir dan shalawat

7. Makan dan minum yang halal dan terbaik

8. Perbanyak mengkaji ilmu, terutama ilmu yang berkaitan dengan kehamilan dan melahirkan. Bisa juga dengan banyak konsultasi tentang kehamilan. Juga bisa dengan banyak membaca buku.

9. Ajak komunikasi janin dengan bahasa hati.

10. Selalu jaga pikiran positif.

Tentu itu di antara sebagian amalan yang kami ringkas berdasarkan pengalaman wanita-wanita sholeh di masa lalu.

Termasuk dzikir itu adalah membaca Al Qur’an dan perdengarkan bacaan tersebut (bisa juga menggunakan alat pemutar audio murottal) ke perut ibu hamil.

Bagi wanita yang sedang kontraksi, ada beberapa bacaan yang dibacakan kepada sang ibu tersebut dengan membaca ayat yang maknanya menunjukkan janji kemudahan, misalnya ayat:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan Allah tidak menghendaki kesulitan untuk kalian.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Atau ayat yang berbicara tentang kehamilan atau melahirkan, misalnya ayat,

وَمَا تَحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلا تَضَعُ إِلَّا بِعِلْمِه

“Tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya.” (QS. Fathir: 11)

Atau bisa juga membaca firman Allah,

إِذَا زُلْزِلَتِ الأَرْضُ زِلْزَالَهَا . وَأَخْرَجَتِ الأَرْضُ أَثْقَالَهَا

“Apabila bumi digoncangkan dengan keras. Dan bumi mengeluarkan beban beratnya.” (QS. Az-Zalzalah: 1–2)

Membaca beberapa ayat di atas, insya Allah bermanfaat dan mujarab dengan izin Allah. Dan semua ayat Alquran bisa jadi obat. Jika orang yang membaca ruqyah dan yang diruqyah beriman dengan pengaruh dan dampak baik Alquran, maka akan memberikan hasil yang baik. Karena Allah berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلاَّ خَسَاراً

“Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82).

Tentang acara tasyakkur 4 bulanan kehamilan dan sejenisnya, secara khusus tidak ditemukan dasar dalam syariat. Hanya saja, dalam fikih disampaikan bahwa apabila dalam kegiatan tersebut tidak terdapat hal-hal yang dilarang agama bahkan merupakan kebajikan seperti sodaqoh, qiro’atul qur’an dan sholawat kepada Nabi serta tidak meyakini bahwa penentuan waktu itu adalah sunnah, maka hukumnya diperbolehkan.

KETIGA : NIFAS

Definisi nifas berbeda-beda menurut ijtihad imam madzhab. Berikut beberapa definisinya menurut masing-masing madzhab:

– Menurut Syafi’iyah dan Hanafiyah: Darah yang keluar dari rahim setelah melahirkan
– Menurut Hanabilah: Darah yang keluar dari rahim karena melahirkan
– Menurut Malikiyah: Darah yang keluar dari rahim saat dan sesudah melahirkan

Atas perbedaan definisi ini, maka konsekuensinya, kewajiban menunaikan shalat juga berbeda-beda bergantung pada madzhab mana kita mengacu.

Sebagai contoh, kalau kita mengacu pada madzab Syafi’i bahwa Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan, maka ketika proses melahirkan ada darah yang keluar, darah tersebut bukan dianggap darah Nifas sehingga kewajiban shalat tetap melekat pada diri kita. Begitu pula sebaliknya, jika kita mengacu pada madzhab Maliki bahwa Nifas adalah darah yang keluar saat dan setelah melahirkan, maka darah yang keluar saat proses melahirkan tersebut sudah dikategorikan sebagai darah Nifas dan kita sudah tidak diperbolehkan shalat lagi.

Wirid dan Do’a Ibu Hamil & Melahirkan

1. Wiridan wanita hamil

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ [الفرقان : 74]

“Robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrota a’yun”

Artinya : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. 25:74)

** Dibaca setiap saat sebanyak mungkin

2. Doa agar mudah melahirkan

ﺤﻨﺎ ﻭﻟﺪﺖ ﻤﺭﻴﻡ ﻭﻤﺭﻴﻡ ﻭﻟﺪﺖ ﻋﻴﺴﻰ ﺍﺨﺮﺝ ﺍﻴﻬﺎ ﺍﻟﻤﻮﻟﻮﺪ ﺒﻗﺪﺮﺓ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﻤﻌﺒﻮﺪ

“ Hannaa Waladat Maryama Wa Maryama Waladat ‘Iisaa Ukhruj Ayyuhal Mauluudu Biqudrotil Malikil Ma’buudi “.

Artinya : “ Hana melahirkan Maryam, sedangkan Maryam telah melahirkan ‘Isa. Keluarlah (lahirlah) hai anak dengan sebab kekuasaan Raja (Allaah) yang disembah “.

** Dibaca saat proses persalinan diulang-ulang sebanyak-banyaknya oleh ibu yang akan melahirkan dan orang-orang yang hadir di saat persalinan tersebut.
==========================​======

3. Doa setelah melahirkan

أُعِيْذُهُ بِالوَاحِدِ الصَّمَدِ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِى حَسَدٍ

“U’iidzuhuu bil waahidis shomadi min syarri kulli dzii hasadin”

Artinya : “Aku berlindung akannya dengan pertolongan Tuhan yang Esa yang ditumpu segala kehendak kepadaNya daripada sekalian yang mempunyai dengki”

** Dibaca 3/7 X
==========================​====

4. Setelah bayi lahir diadzani ditelinga sebelah kanan dan dibacakan doa

إِنّى أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ( آل عمران 36

“Innii u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa minas syaithoonir rojiimi”

Artinya : “Sesungguhnya aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.” (QS. 3:36).

* Kemudian dibacakan kalimah Iqomah ditelinga sebelah kiri, diberi nama yang bagus, dicukur rambutnya, dicelaki dan disuapi makanan-makan yang manis seperti madu, kurma dll. Sambil dibacakan doa

اللهم بارك لنا ولهذا الولد في حياته وطول عمره بطاعتك يا ارحم الراحمين

“Allaahumma baarik lanaa wa lihaadzal waladi fii hayaatihii wa thowwil ‘umrohuu bi thoo’atika Yaa arhamar Roohimiin”

Artinya : “Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kami dan anak ini, serta panjangkan umurnya dengan senantiasa (menjalani) taat kepada-Mu wahai Dzat Yang paling menyayangi diantara yang menyayangi”
==========================​========

5. Doa mencium anak kecil

اللهم حببه واحب من يحبه

“Allaahumma habbibhu wa ahibba man yuhibbuhuu”

Artinya : “Ya Allah cintailah dia dan cintai pula orang-orang yang mencintainya”

 

KEEMPAT : HAL – HAL YANG DILAKUKAN SETELAH MELAHIRKAN

Jabang bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibu semestinya diusahakan agar dapat mengikuti jejak sunnah Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, dan para ulama terdahulu yang salih-salih yaitu antara lain sebagai berikut:

1. Hendaklah dibacakan adzan pada telinga bayi sebelah kanan dan diiqamati pada telinga sebelah kiri, agar diselamatkan Allah dari gangguan Ummus Sibyan (jin), ank arena mengikuti sunnah Nabi Muhammad Sallallau Alaihi wa Sallam, yang paduka laksanakan azan dan iqamat itu di telinganya Sayidina Hasan bin Ali, ketika baru dilahirkan dari kandungan Sayidatina Fatimah al-Zahra’ Radliyallahu ‘Anhuma, serta sekaligus menanamkan tauhid ke dalam hati dan pendengarannya.

2. Hendaklah pada telinganya yang kanan dibacakan doa:
a. Jika bayi yang dilahirkan perempuan, Anda bisa baca,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

b. Jika bayi yang lahir laki-laki, kita bisa membaca,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهُ بِكَ وَذُرِّيَّتَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya dua teks doa ini sama,

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu untuknya dan untuk keturunannya dari setan yang terkutuk.”

3. Hendaklah kepada bayi itu dibacakan surat Ikhlas tiga kali pada telinganya sebelah kanan, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, juga pernah berbuat demikian.

4. Hendaklah “dicetaki” atau ditahnik dengan buah kurma. Kalau tidak ada, biasa dengan makanan manis, yang tidak dimasak dengan api. Teknisnya adalah kurma yang dikunyah oleh seseorang yang shalih atau orang tuanya yang dikunyah sampai lumat kemudian dikolohkan atau di putar di rongga mulut bayi atau digosok-gosok ke rongga mulut bayi, terutama di tempat tumbuhnya gigi bayi dan yang paling inti adalah di langit-langit mulut bayi.

5. Hendaklah dibacakan surat Al-Qadar atau surat Innaa Anzalnahu pada telinganya yang kanan, karena bayi yang dibacakan surat tersebut, Allah mentakdirkan, anak tersebut tidak akan berbuat zina selama hidupnya (Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarhi Al-Minhaj: V/267, Hasyiyah Al-Bajuri: 11/305, Fathul Qarib: 63, Fathul Wahab pada Hamisy Hasyiyah Al-Jamal: V/265).

6. Hendaklah sunah mengaqiqahkan putra lelaki dengan menyembelih kambing dua ekor dan putra wanita dengan menyembelih kambing satu ekor. Ketika menyembelih aqiqah disunahkan pada hari yang ketujuh dari kelahirannya.

7. Hendaklah sunah memberi nama yang bagus kepada anak ketika pada hari ke tujuh pula.

8. Hendaklah, setelah menyembelih aqiqah, disunahkan memo-tong atau mencukur rambut bayi dan disunahkan pula sede-kah emas atau perak sebobot rambutnya tadi (Syarhu Al-Minhaj serta Hasyiyah Al-Jamal: V/266).

9. Hendaklah memohon kepada Allah agar pada saatnya lahir bayi nanti dimudahkan Allah dan lahir dengan selamat yaitu membaca:
لوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ – .هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ – هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ – هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ- وننزل من الـقرأن مـا هو شفاء ورحمـة للمؤ منـين .

(Hasyiyah Al-Bujairami Ala Al-Khatib: V/310).