Sang Kyai Turun Gunung

Sang Kyai Turun Gunung

Di tengah cuaca kota Bandung sore itu yang terasa cukup panas, tiba-tiba notifikasi getar whatsapp terasa di genggaman. Perlahan kubuka aplikasi whatssapp. Ya…memang saya ga pakai nada dering, cukup nada getar.

Sesaat kemudian, dari beberapa pesan yang masuk, ternyata ada salah satu pesan dari seorang Kyai karismatik di Bandung Timur.

Perlahan saya buka pesan itu….

Apa isi pesannya ?

“Saya diundang supaya ngisi pengajian di sebuah Mall di Bandung, menurut sampeyan gimana ?”

Saya masih diam, dan ga berani membalas…

Ya…ga berani lah…..

Gimana mungkin, seorang alim, Kyai minta saran ke saya …

Belum sempat membalas, kemudian muncul lagi pesan berikutnya.

“Sebenarnya, sudah saya tolak……..”

Masih diam juga saya…. gimana mau jawab …. hehehe….

Sejenak kemudian, saya sedikit bisa memahi. Kyai ini memang benar – benar tawadhu. Rela bergaul dan meminta pendapat ke siapapun, termasuk saya.

Teringat saya, kepada Mbah Kyai Umar Abdul Mannan, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta, yang sangat tawadhu.

Beliau banyak berhubungan dengan wong-wong cilik yang kalau dilihat dari segi nasab biasa-biasa saja. Kepada mereka, Mbah Umar seringkali berbicara dalam bahasa krama inggil, seperti kepada tukang becak, tukang bangunan, tukang pos, para santri yang belum cukup beliau kenal, dan sebagainya.

Kembali ke pesan itu….

Secara spontanpun, akhirnya saya beranikan untuk menjawab.

“Harus Kyai…….hehehehe…
Lah, kalau Kyai ga mau, ga turun…. nanti akan diisi oleh Kyai2an… ”

Dengan sontoloyonya saya jawab gitu…

Iya…Kyai2an…. Ustadz2an…. yang saya maksud adalah, mereka yang sebenarnya tidak punya basic keilmuan agama mumpuni, malah yang turun…. berabe kan…

Kalau ulama yang bener-bener berilmu tidak turun, maka yang kemudian mengisi adalah mereka yang hanya bisa ceramah tapi tanpa bekal keilmuan yang mumpuni….

Bisa ditebak kan, apa yang terjadi di umat itu sendiri, kalau ngajinya sama kyai2an, ustadz2an….

Sejenak kemudian, saya tambahi itu balasan pesan Kyai…

“Kasihan Umat…, kalau Kyai tidak turun….”

Beberapa hari kemudian…, tampaklah terlihat di beberapa status whatsapp teman – teman, pengumuman pengajian di Mall tersebut.

Alhamdulillah…

Sejenak, imajinasi sayapun membayangkan ribuan jamaah hadir di pengajian tersebut. Ketika jamaah yang hadir begitu banyak, Kyaipun terkejut, sejenak kemudian bermunajat, persis munajat dari Syaikh Abu Yazid,

“Ya Allah jangan sampai kehadiranku menjadikan mereka terhijab dariMu. Jangan pula gara – gara dukungan massa ini membuatku terhijab dariMu.”

Wallohu ‘alam

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: