Sahabat yang sesungguhnya

Sahabat yang sesungguhnya

Ramadhan tahun ini sudah menginjak ke pertengahan, kirang lebih separuh perjalanan telah terlewati dalam Ramadhan tahun ini.

Setelah ramadhan tiba, maka Idul Fitri akan menghadiri kita dengan segala suka citanya menyambut kemenangan yang terengkuh sebulan menahan hawa nafsu di bulan Ramadhan.

Setelah ramadhan itulah, buah dari ramadhan akan tertampakkan. Bila istiqomah dan perbaikan kualitas diri muncul dalam diri kita, pertanda ada buah ramadhan yang kita petik. Namun bila yang terjadi adalah sebaliknya, kita harus introspeksi harus berapa kali lagi kita latihan dan selalu latihan di bulan suci.

Seperti kebanyakan diantara kita, setelah ramadhan akan mengadakan silaturahim, bahkan reuni sesama sahabat sekolah, sahabat kerja di masa lalu.

Lalu yang kita sebut sahabat sesungguhnya seperti apa ?

Bagi generasi yang sudah 30-40 tahunan, saya yakin sudah sangat mengerti dan memahami arti sesungguhnya seorang sahabat.

Mengapa saya bilang 30-40an tahun ? Karena dalam usia tersebut biasanya sudah malang melintang bertemu dengan berbagai tipikal teman, rekan kerja, dan sebagainya. Tak hanya sekedar bertemu namun berinteraksi secara aktif dan bahkan kerjasama dengan berbagai tipe manusia.

Ketika kesuksesan, kekayaan, sedang menyertai kita, jangan tanyakan seberapa banyak teman, sahabat yang mendatangi kita. Namun tanyakan seberapa banyak teman yang mendatangi kita dalam kondisi kita terperosok, terjatuh bahkan terhinakan.

Sahabat tak hanya yang memuja muji kita di depan atau di belakang kita, namun terkadang rela berdebat, berbeda pendapat tatkala mengingat kita, ketika kita melakukan kesalahan yang fatal.

Setelah merenung, maka akan bertemu berapa banyak sesungguhnya sahabat yang sesungguhnya. Yang senantiasa menemani kita bukan hanya kita kala diatas, namun ketika dibawah.

Namun….

Lebih penting lagi, adalah sikap dan persepsi kita terhadap semua sahabat, baik yang tetap dekat maupun yang menjauh adalah…tersadarkanya diri kita, bahwa…

Kita tak boleh bergantung kepada sesama makhluk, ketergantungan kita hanya satu, yakni kepada Allah SWT.

Sahabat yang menjauh, itu menyadarkan kita untuk tak berharap kepada makhluk.

Semoga manfaat

Leave a Reply

%d bloggers like this: