Mengubah Cara Pandang

Mengubah Cara Pandang

Saya yakin sampeyan-sampeyan pernah membaca, atau melihat teori setengah isi atau setengah kosong.

Ya…. gelas diisi setengah air. Wujudnya ya tetap sama, gelas yang diisi setengah. Kemudian cara melihatnya orang-orang berbeda-beda.

Ada yang bilang, itu setengah isi, ini yang kemudian dimaknai orang yang optimis. Ada juga yang bilang setengah kosong, ini yang dimaknai orang yang pesimis.

Barangnya sama…. obyeknya sama… cara memandang dan membacanya beda. Cara pandang ini yang menentukan sikap, perbuatan selanjutnya.

Yang menjadi masalah adalah, penerapan teori gelas tersebut dalam kehidupan sehari-hari yang tak sesederhana itu.

Seorang ibu rumah tangga yang meributkan hal – hal sepele karena kebiasaan buruk suami misalnya, yang kurang bersih, sembarangan naruh barang, seorang ibu tidak serta merta bisa merubah cara pandangnya.

Karena apa ? Dongkol sudah pasti, kecewa pasti mengiringi, menjengkelkan juga terjadi.

Butuh sesuatu yang lebih tinggi untuk melunturkan rasa kecewa, jengkel dan dongkol tersebut.

Apakah uang ???

Tak melulu dan tak selalu harus yang namanya uang, apalagi hal ini menyangkut rasa dan bersifat kejiwaan.

Bagi seseorang ibu yang memahami agama, tentu bisa tersadarkan dengan pahala dan kesadaran bahwa segala tindakan yang dilakukan punya nilai ibadah.

Kesemrawutan cara hidup suami, justru dijadikan ladang pahala, untuk menunaikan amal.

Dengan demikian, ia bisa meluluhlantakan rasa jengkel dengan imbalan amaliah yang dilakukan.

Apakah jengkelnya akan menghilang ? Apakah suami juga akan tetap berperilaku semrawut ?

Biasanya tingkat kejengkelan berbanding terbalik dengan tingkat keikhlasan.

Lo kok bisa ?

Iya… kalau keikhlasannya tinggi, tingkat kejengkelan akan menurun. Begitu juga sebaliknya. Kalau jengkelnya naik, yaaa berarti ikhlasnya turun..atau malah2 ga ikhlas.

Bagaimana dengan suami ? Apakah perilakunya berubah ?

Menurut saya, sama juga…. tergantung keikhlasan. Semakin ikhlas, justru suami akan tersadarkan dengan sendirinya.

Teori ini, tak hanya berlaku untuk hal – hal yang negatif, kebiasaan buruk, namun juga hal – hal positif, kebaikan yang kita inginkan terjadi pada pasangan atau orang lain.

Seorang suami pernah bercerita tentang keinginannya agar istrinya istiqomah dalam wirid, baik saat pagi, tengah hari, maupun petang hari menjelang tidur.

Ia ceramahi istri dengan berbagai dalil tentang keutamaan dzikir, namun apa yang terjadi ?

Si istri tetap keukeuh tak menuruti kemauan sang suami.

Apa yang dilakukan si suami ?

Berdo’a ….

iya berdo’a memohon kepada Alloh supaya istrinya berubah.

Apa yang terjadi kemudian ?

Apakah istrinya mau menuruti kemauan si suami ?

Berdzikir sesuai keinginan si suami ?

Ternyata……….

Tidak juga ……. hehehe…

Apa ada yang salah dengan suami ?

ngga lah……

Hingga…. suatu waktu…….

Setelah beberapa tahun kemudian …..

Tertegun mata suami, karena didepannya sang istri dengan lembut memegang tasbih, ia lantunkan wiridan.

Ia lakukan bukan hanya pagi, siang, bahkan menjelang tidur ia wiridan. Bukan itu saja saat di tempat peraduanpun tasbih tak ia lepas, ia tetap jaga lisannya dengan berdzikir.

Hal yang membuat termenung dari suami adalah, ia melihat perilaku istri seperti itu, justru di saat ia telah melupakan tuntutannya kepada istri, saat ia justru telah melupakan do’anya yang dulu ia panjatkan.

Saat ia sudah tak berharap, justru Alloh hadirkan.

Itulah….yang menurut saya, telah ikhlas.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: