Mengapa yang menolong kita, bukan orang yang kita tolong ?

Mengapa yang menolong kita, bukan orang yang kita tolong ?

Pada awalnya, saya menganggap bahwa ketika kita berbuat kepada orang lain, maka harapannya orang lain, bisa kita minta tolong saat kita kesulitan. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata…disitulah sebenarnya sedang diuji keikhlasannya.

Sebenarnya kata ikhlas, untuk kondisi tersebut belum terlalu pas, terlalu tinggi kalau dimasukkan kategori ikhlas dan enggaknya. Lebih pas, sepertinya kalau menggunakan kata rela atau tidak. Tulus atau tidak.

Kembali ke bahasan awal. Kita beranggapan lumrah, ketika kita berbuat baik, menolong orang, kita juga berharap dapat imbal balik dari orang yang kita tolong.

Namun…..

Itu, sebenarnya salah…..

Tidak sedikit fakta, justru orang yang kita tolong, tak hanya tidak bisa menolong kita saat kita sedang kesulitan, malahan kita sulitpun, salah satu penyebab dari orang yang kita tolong…. hehehhee…

Beneran, ini mah….

Fakta juga, orang yang menolong kita saat sedang mengalami kesulitan, justruuuu orang lain.

Orang lain itu, bisa orang yang baru kita kenal, orang yang tak terduga sama sekali, bisa juga anak buah kita….hehhehe…

Pendek kata, orang yang tak terfikir dan terkirakan sebelumnya.

Lalu…

Apakah logika kita, harus mengatakan, kalau begitu, kita ga perlu berbuat baik ? ga usah menolong orang lain ?

Secara sederhana, tentu…. hati kita juga akan menolak logika tersebut. Kita tetap harus berbuat baik.

Lalu….

Mengapa orang yang kita tolong, justru tak menolong kita, sementara yang tidak kita tolong, malah menolong kita ?

Pertanyaan seperti itu, pernah dilontarkan oleh seseorang kepada seorang Ajengan di Bandung.

Lalu…, apa jawaban Ajengan tersebut ?

"Jika kamu berbuat segala sesuatu karena Allah, pertanyaan seperti itu tak akan muncul."

Jadi….

Silahkan selami sendiri….

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: