Kentongan Kekinian (dibaca Buzzer)

Kentongan Kekinian (dibaca Buzzer)

Dulu, sewaktu saya masih kecil, yang terlahir di sebuah desa terpencil, masih teringat suara kentongan dan bedug yang dipukul, minimal menjelang sholat maghrib dan Isya.

Suara kentongan dan bedug, menjadi lebih sering terdengar di saat bulan Ramadhan.

Ada saat dimana suara kentongan bertalu-talu.

Kapan itu ?

Saat warga rame-rame mengejar pencuri, juga saat warga berpatroli dalam ronda siskamling.

Kentongan…

Menjadi semacam alat pengingat, atau semacam pendengung.

Pendengung untuk mengingatkan waktu shalat, mengingatkan patroli warga, mengingatkan untuk rame-rame mengejar maling.

Kini…..

Seiring waktu jamanpun berubah, pengingat shalatpun digantikan dengan suara alarm jam.

Kemajuan tekhnologipun semakin melesat, seperti kita tak kuasa untuk menghentikannya, yang ada hanya bisa menyesuaikan, syukur2 kalau bisa memanfaatkan.

Alarm jam, tergantikan dengan digital yang melekat di smartphone.

Pendengung…

Tak hanya sekedar alat pengingat, namun berkembang melampaui batas-batas yang tak pernah terfikirkan sebelumnya.

Dan.. pendengung di dunia media sosial dikenal dengan istilah buzzer. Demikian setidaknya menurut Ivan Lanin, seorang pakar bahasa mengartikan istilah buzzer, dengan "pendengung".

Ya…. pendengung….

Pendengung di media sosial. Tak hanya satu dua akun untuk bisa mendengung supaya gaungnya membahana, bisa ratusan, bisa juga ribuan.

Bisa dibayangkan…

Kalau di saat yang sama, ribuan akun serentak mendengungkan sebuah topik yang sama.

Jadilah kalau di twitter istilahnya trending topik. Bisa trending topik lokal di Indonesia, bisa juga trending topik dunia.

Ketika sebuah topik atau isu sudah menjadi trending topik, maka isu tersebut bisa menjadi viral.

Tak hanya di twitter, maka di facebookpun akan bermunculan, di instagrampun akan bergentayangan, dan yang tak kalah seru, seperti pesan berantai, di whatsappun beredar masif.

Dari mana asalnya ?

Pasukan pendengung, atau sekarang disebut Buzzer.

Ketika buzzer, menyampaikan propaganda positif, tentu sangat menguntungkan dan mencerdaskan, namun bagaimana bila buzzer bergerak hanya berdasar "terima orderan", layaknya transaksi jual beli.

Maka…

Siapa yang berani bayar tinggi, itulah yang akan dikerjakan. Topik atau isu akan ditrendingkan, diviralkan…ini yang akan mereka kerjakan.

Ujung-ujungnya kembali ke kalkulasi ekonomis.

Memang tak semua buzzer, bertindak semata-mata faktor orderan, ada juga yang memang karena idealisme tertentu.

Oiya…

Kalau buzzer itu ibarat kentongan, alarm, pe dengung, ada istilah lain lagi yang tak kalah seru.

Apa itu ?

Influencer….

Diterjemahkan sebagai Pemengaruh, yakni orang yang bisa mempengaruhi khalayak. Dalam media sosial, orang ini (akun ini) haruslah yang mempunyai follower ratusan ribu hingga jutaan.

Sehingga, sekali posting atau sekali cuit, maka potensi yang akan melihat sebanyak followernya.

Bisa kita bayangkan…

Jika sebuah isu, diposting oleh seorang influencer, yang notabene memiliki jutaan follower, kemudian isu tersebut didengungkan oleh ribuan akun-akun buzzer, maka yang terjadi …..

Jadi viral….
Jadi trending topik ….

Dan….

Suka tak suka….
Mau atau ngga mau….

Saat ini, kita dikelilingi oleh isu, topik yang memang diciptakan untuk menjadi viral.

Terkadang kita tersadar …
Terkadang tanpa sadar terbawa ….

Bahkan….

Terkadang kita ikut menikmati, ikut juga memviralkan sebuah isu, hanya karena lagi ngetop, lagi trending.

Padahal ….

Belum tentu yang sedang ngetop sesuai dengan akal sehat kita….

Sesuai dengan hati nurani kita….

Dan …

Kitapun tak tahu, maksud apa yang sebenarnya di belakang sebuah isu yang sedang viral.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: