Jika yang berilmu tetap tawadhu, bagaimana mungkin yang bodoh berpongah diri ?

Sekitar tahun 2000an, ketika masih ngurusi jual beli kendaraan, masih teringat saya dipertemukan dengan orang-orang yang berduit, namun tetap rendah hati.

Sebut saja, salah satu kejadian dimana orang yang akan membeli kendaraan yang jumlahnya lima, bahkan sepuluh mobil si pembeli datang bukan naik mobil mewah nan megah, namun ia datang dengan menggunakan sepeda motor butut.

Hal itu belum berhenti disitu, tatkala akan transaksipun tak seperti kebanyakan yang transaksi dengan memberi cek tunai atau transfer di tempat kami, namun dengan santainya ia cuma bilang, tunggu saja di lantai dua suatu bank. Maksudnya adalah dia masuk nasabah prioritas.

Sebelum transaksi ataupun sesudah transaksipun ia tak risih, ikut ngumpul bareng minum kopi sachetan di pinggir jalan, bukan kopi mahal di kedai kopi.

Sifat rendah hati atau tawadhu dalam hal kenikmatan duniawi itulah yang membuat saya justru semakin menghormati.

Sifat seperti itulah, yang barangkali masuk seperti yang diungkap oleh Basyr bin Al Harits, “Aku tidaklah pernah melihat orang kaya yang duduk di tengah-tengah orang fakir, yang bisa melakukan demikian tentu yang memiliki sifat tawadhu."

Itulah, salah satu contoh orang-orangbyang dianugerahi kerendahan hati, tatkala dititipi amanah berupa kenikmatan duniawi (harta).

Kemudian, bagaimana teladan orang-orang yang berilmu tapi tetap rendah hati ?

Sejarah mencatat, bagaimana seorang Imam Ibnu Hambal, Sang Imam salah satu madzhab, yang marah karena melawan hawa nafsu sombong, ketika kedatangan tamu yang memohon untuk mendo’akan kesembuhan untuk ibunya.

Dalam kitab Siyâr A’lâm al-Nubalâ’, Imam al-Dzahabi memasukkan riwayat tentang Imam Ahmad bin Hanbal dan seseorang yang meminta doa kepadanya.

Abbas bin (Muhammad) al-Dauri berkata: Diceritakan oleh Ali bin Abi Fazarah, tetangga kami, ia bercerita:

“Ibuku (sakit) lumpuh sekitar dua puluh tahun lamanya.

Suatu hari ia berkata padaku: "Pergilah ke (rumah) Ahmad bin Hanbal. Mintalah ia mendoakanku."

Aku pun mendatangi (rumah Ahmad bin Hanbal), kuketuk (pintu rumah)nya, ternyata ia berada di halaman depan (rumah)nya.

Ia bertanya: "Siapa ini?"

Aku menjawab: "(Aku) orang yang disuruh ibuku yang lumpuh untuk memintamu mendoakannya."

Kemudian aku mendengar nada bicara orang marah dengan mengatakan: "Kami lebih butuh doamu."

Maka aku pun pergi.

Tiba-tiba seorang wanita tua keluar dan berkata: "Setelah kau pergi, Ahmad bin Hanbal berdoa untuk ibumu."

(Ketika) sampai di rumah, aku mengetuk pintu, ibuku berjalan keluar dengan kakinya sendiri.”

Kemarahan Imam Ahmad tampaknya karena ia tidak ingin terjebak dalam pujian. Sebab, “anggapan” orang tentang kedudukan seseorang di sisi Tuhannya adalah pujian yang paling berbahaya.

Bisa menyebabkan lahirnya perasaan “merasa lebih mulia” dari lainnya.

Perasaan yang sama dengan Iblis ketika menentang perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam.

Dengan penuh kebanggaan, Iblis menjawab (QS. Al-A’raf: 12): “Anâ khairum minhu, khalaqtanî min nâr wa khalaqtahu min thîn—aku lebih baik darinya (Adam), Kau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Kau ciptakan dari tanah.”

Perasaan itulah yang membuatnya terlempar dari surga, karena dia mengira “api” lebih mulia dari “tanah” meski Tuhan tidak pernah mengatakannya, dia mengasumsikan itu sendiri, karena kesombongannya.

Jika yang kaya saja bisa rendah hati, yang berilmupun begitu menjaga hati, lalu bagaimana dengan kita yang tak berilmu dan berharta ?

Masihkah berpongah diri ?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: