Istighfar untuk masa lalu, Bersyukur untuk hari ini, Berdo’a untuk hari esok

Pagi ini, ngelihat postingan guru ngaji saya, Kyai Lukman Hakim, tak hanya mengintrospeksi, namun tetap adem, dan penuh optimistis, dan inipun tak hanya pas saat pergantian tahun seperti ini, namun sesungguhnya pas untuk setiap pergantian hari, bahkan pergantian waktu.

Masa lalu, seindah atau seburuk apapun tetaplah masa lalu, yang seujung waktupun tak akan bisa diputar kembali. Kita tak akan bisa menggapai kembali ataupun menyesalinya dengan berlarut-larut.

Masa lalu menjadi berbuah kebaikan, ketika diiringi dengan istighfar. Tanpa istighfar sudah lewat begitu saja.

Mengapa Istighfar ?

Karena begitu kita menengok ke belakang, sesungguhnya kita lebih banyak melihat kealpaan dan penuh dosa, kalau toh ada kebaikan, belum ada jaminan bisa diterima dan kebaikan itupun sebenarnya anugerah semata. Istighfar inilah, yang menyambungkan, menegaskan bahwa kita insan yg penuh nestapa dihadapan-Nya, penuh cacat, tak punya kuasa apa-apa. Istighfar inilah menjadi jalan bahwa kita memang betul-betul hanya sekedar hamba-Nya.

Hari ini adalah hari terbaik untuk kita. Makanya hari ini harus diliputi rasa syukur. Ketika hari ini diliputi rasa syukur, sesungguhnya kita sedang menyiapkan wadah untuk menerima kucuran-kucuran anugerah yang lain.

Ketika hari ini kita melewatinya tanpa rasa syukur, sama saja kita sedang menutup pintu-pintu wadah yang akan jadi tempat kucuran anugerah-anugerah yang lain.

Bagaimana mungkin bersyukur, bila keadaan saya lagi susah ?

Ini berarti hatinya sedang ditutupi kegelapan ? Coba renung-renung, terkadang kita menyadari kesusahan yg dirasakan di masa lalu, itu menjadi sebab kesenangan di masa yang akan datang.

Seorang Mas Mono, bisnis ayam bakarnya barangkali tidak akan sebesar sekarang, jika ia dahulu tidak digrebeg satpol PP, dikala jualan di trotoar pinggir jalan. Justru karena digerebeg kemudian berfikir, mencari tempat dagangan yang menetap.

Menyikapi keadaaan susah, itu jauh lebih berguna dibanding keadaan susahnya itu sendiri.

Dengan skala yang barangkali berbeda, kisah – kisah seperti Mas Mono, itu hadir di sekeliling kita, bahkan sangat mungkin diri kita sendiri.

Berdo’a untuk esok hari. Do’a saya memaknai sebagai wujud, bahwa kita memang tak bisa berbuat apa-apa, tanpa kuasa, kehendak dariNya.

Do’a itu senjata bagi kita, do’a itu sendiri jauh melampaui berbagai teori perencanaan, organizing, control atas berbagai aktivitas kita, karena do’a itu melampaui batas ikhtiar kita.

Dengan do’a kita tak berkecil hati di kala hasil yang kita ikhtiari tak sesuai harapan kita. Dengan do’a pula memupus rasa sombong, ketika hasil yang kita kejar sesuai harapan kita.

Mengapa ?

Karena nilai ketika berdo’a, sesungguhnya lebih berharga ketimbang apapun hasil dari ikhtiar kita.

Selamat Tahun Baru.
Semoga kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Aamiin…

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: