Titipan yang dibanggakan

Sambil menunggu waktu maghrib saat buka puasa, Somad memang tidak terlihat seperti pemuda kampung lainnya, yang disibukkan dengan jalan – jalan ngabuburit. Ia lebih memilih nongkrong di tempat Kang Soleh untuk berdiskusi berbagai hal, termasuk masalah titipan Alloh yang dibangga – banggakan.

“Kang Soleh, gimana sih, bisa menghilangkan rasa bangga atas titipan harta dari gusti Allah ?” tanya Somad.

” Kok, to the point Mad, ga seperti biasanya.” Jawab Kang Soleh.

“ Edisi puasa kang….he..he…” jawab Somad.



”Rasa bangga yang berlebihan biasanya muncul karena kita merasa memiliki atas hal yang dibanggakan.” , jawab Kang Soleh.

” Stop….stop …kang !!” sergah Somad.

” Ya … jelas memiliki to kang…. memang punya sendiri…..”

” Sekarang kamu lihat, kalau kamu pergi ke sebuah tempat. Kemudian mobil kamu dititipkan ke tukang parkir.”

” Tukang parkir dengan sepenuh tenaga akan menjaga mobil kamu kan ? ’ tanya kang Soleh.

” Sudah semestinya kang…. ”, jawab Somad.

” Tukang parkir, bangga tidak atas mobil yang kamu titipkan ? ” tanya kang Soleh.

” Ya … engga lah kang …..”, jawab Somad.

” Nah…. itu jawabannya……” celetuk kang Soleh.

” Sekarang kita lihat, bukan hanya masalah kebendaan seperti kasusmu adalah mobil. Kita lihat sekarang amaliah seseorang dalam kaitannya dengan kebanggaan. Apakah kebanggaan akan amal ibadah diperbolehkan ? ”

” Termasuk dosa kang ….” jawab Somad.

” Right……:”, jawab Kang Soleh.

Somadpun terkekeh-kekeh… tumben Kang Soleh bilang ”right”.

”Terus, gimana ngobati penyakit bangga terhadap amalnya kang ?, tanya Somad.

” Ya…. jadilah seperti tukang parkir.” jawab Kang Soleh enteng.

”Yang lebih jelas gimana kang ?, tanya Somad

” Ketika seseorang melihat dari dalam dirinya terasa sifat membanggakan amalnya, hendaklah ia bertafakur dan berkata kepada dirinya, “Amalku ini dilakukan oleh anggota badanku, kemampuanku, dan kehendakku sedangkan semuanya itu bukan dari diriku dan bukan ditujukan kepada diriku melainkan bahwa semua itu adalah ciptaan dan anugerah Allah swt.

Dialah yang menciptakan badan dan nyawaku, Dialah pula yang menciptakan kemampuan dan kehendakku, Dialah yang menggerakkan anggota badanku demikian pula kemampuan dan kehendakku, bagaimana aku dapat membanggakan amalku bahkan membanggakan diriku, sedangkan semuanya itu dari Tuhan Penciptaku ?”

Wallahu a’lam.