Tekad Baja

Ketika di tanah Pasundan, Sang Raja Galuh pertama, Wretikandayun berusia 33 tahun telah memerintah dan menjadi raja, sejak usia 21 tahun, dan tercatat menjadi raja yang lama sejak 612 – 702 M. Seorang raja yang dikenal ahli dalam berdiplomasi, dan memilih daerah yang subur, diapit dua hulu sungai, Citanduy dan Ciwulan sebagai pusat pemerintahan, yang di kemudian hari disebut Karang Kamulyan, terletak di Cijeungjing Ciamis.

Nun jauh di sana,

Pada tanggal 13 Maret 624 M / 17 Ramadan 2 H, Baginda Rasulululloh Shalalahu ‘Alaihi Wassalam membawa Pasukan sejumlah 313 orang kaum muslimin, untuk menghadapi Pasukan Kafir Quraisy yang berjumlah 1000 orang. Dalam kondisi sedang berpuasa, kalah perbekalan, kalah persenjataan dan kalah jumlah. Inilah perang yang disebut sebagai Perang Badar.

Sebagaimana dinukil dari Al Bidayah wa al Nihayah, Rasululloh tidak tidur di malam itu. Beliau shalat di bawah batang pohon dan banyak berdoa di sujudnya "Ya Hayyu Ya Qayyum,", Beliau mengulang-ulangnya dengan meminta pertolongan kepada Allah.

Beliaupun berdo’a "Ya Allah, Inilah Quraisy, mereka datang dengan segala kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka menantang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, kurniakan kemenangan yang telah Engkau janjikan kepadaku . Ya Allah, binasakanlah mereka pada pagi ini." (Sirah Ibnu Hisyam)

Sejarah kemudian mencatat, Perang Badar dimenangkan oleh Pasukan Muslimin yang kalah jumlah, bekal, senjata, dan sebagainya.

Apa rahasia dari kemenangan tersebut ?

Tekad baja, berani mati, pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Inilah sumber kekuatan besar umat muslim saat Perang Badar. Demikian menurut Ustadz Atoillah, Mudir Ponpes Miftahul Huda.

Dalam konteks kekinian, salah satu dari kebiasaan orang yang bermental baja adalah ketekunan, yang oleh Psikolog Angela Lee Duckworth disebut dengan Grit.

"Salah satu faktor muncul sebagai kunci sukses, itu bukan kecerdasan sosial, ketampanan, kesehatan fisik atau IQ. Itu grit," kata Duckworth.

"Grit adalah gairah atau ketekunan untuk tujuan jangka yang sangat panjang. Grit adalah memiliki stamina. Grit yang menempel dengan masa depan Anda, hari demi hari, bukan hanya untuk satu hari, bukan hanya sebulan, tetapi selama bertahun-tahun, untuk membuat masa depan itu menjadi kenyataan".

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *