Syukuri nikmatmu…

“Bro…. hayoooo….” Sayup – sayup terdengar suara memanggilku.

Setelah kupandangi sekitar, ternyata saya ditinggal sendirian di dalam masjid. Ah…. ketiduran kali ya saya barusan. Tapi kok, tadi ada yang manggil saya pakai bahasa gaul gitu…. pake bro… segala.

“Bro…. teh manis sudah menanti tu… di rumah.” Terdengar panggilan lagi. Namun kali ini saya sudah sadar, siapa yang memanggil saya, kang Soleh. Hemmm kok tumben Kang Soleh agak gaul seperti itu. 

 “He..he.. kang, kok panggil saya pake bro….? “ tanya saya. 

“Ah…. cuma sok muda dikit… itu loh…. liat di twitter… pada manggil pake bro….” jawab kang Soleh. 

Sesaat kemudian sayapun berjalan bersama kang Soleh menuju rumahnya, yang jaraknya hanya sekitar seratus meteran dari masjid tempat kami shalat berjamaah. 

“Gimana kamu, sudah agak tenang kan sekarang ?” tanya kang Soleh. 

“Alhamdulillah kang, sedikit mereda.” Jawab saya. 

Sebenarnya diam –diam dalam hati, saya malu bila berkunjung ke tempat Kang Soleh karena lebih banyak membawa masalah ketimbang membawa sebuah solusi. Namun namanya juga Kang Soleh selalu saja terbuka buat teman sharing, dan lebih banyak memberi inspirasi tanpa menggurui. 

Celotehnya tidak mendoktrin namun memberi motivasi, guyonannya tidak hanya memberikan tawa… namun ada makna yang ia sempilkan didalamnya. 

“Namun gini kang, ada yang masih mengganjal dalam hati saya ?” sayapun mulai memulai pembicaraan. 

“Ganjalnya dibuang ……” jawab Kang Soleh. 

Sayapun terkekeh mendengar jawaban kang Soleh, walaupun dalam hati membetulkan. 

“Kalau orang lagi terhimpit beban dunia, kok malah dibilang “harusnya membuat lebih bisa bersyukur, karena bisa menyadarkanmu bahwa nikmat dari Alloh tak bisa engkau hitung dengan apapun”, itu membuat saya bingung Kang ?” tanya saya. 

“Bingungnya yang mana ?”jawab kang Soleh enteng. 

“Orang lagi terhimpit, kok dijadikan sarana untuk bisa lebih bersyukur…….” Jawab saya. 

Mendengar pertanyaan seperti itu, kang Soleh masih dalam keadaan duduk tiba – tiba mengangkat kedua tangannya, sedangkan telapak kedua tangannya dihadapkan persis di muka saya. Saya dalam hatipun bingung, mau nunjukan apa – apaan nih kang Soleh. 

“Coba kamu lakukan seperti yang saya lakukan !” kang Soleh menyuruh saya melakukan hal yang sama kepada saya. Sayapun masih dalam keadaan ragu mengikuti perintah Kang Soleh, kuangkat kedua tangan saya dengan telapak tangan menghadap ke depan, ke muka Kang Soleh. 

“Coba kamu lihat dan focus ke tangan kiri kamu !” perintah Kang Soleh. 

“Ketika kamu fokus ke tangan kirimu, apakah dengan jelas kamu bisa melihat punggung telapak tangan kananmu ?” 

“Enggak kang “ jawab saya. 

 “Ya sudah……sekarang turunkan lagi !” suruh Kang Soleh. 

Sejenak kemudian kang Soleh, berkata, 

“Ketika kita menghadapi sebuah masalah, kita terlalu fokus kepada masalah itu sendiri. Dalam ilustrasi tadi, terlalu fokus melihat tangan kiri, padahal ada tangan kanan …. namun tidak bisa terlihat dengan jelas.” 

“Maksudnya gimana kang ?” 

“Ketika dirundung masalah duniawi, energi dihabiskan untuk memikirkan masalah itu sendiri….. padahal di saat yang bersamaan nikmat yang diberikan Alloh masih begitu besar, dan tak kan bisa dihitung.” Jelas Kang Soleh. 

Belum selesai Kang Soleh berbicara, tiba – tiba di pintu ada yang ucapkan salam. 

 “Assalamu’alaikum…..” 

 “Wa’alaikum salam ….” Sayapun ikut menjawab, salam dari seorang tamu. 

“Eh… silahkan masuk mas…..” 

Setelah dipersilahkan masuk, seorang pemudapun ikut duduk disamping saya. Setelah berbasa basi sebentar si pemuda itupun, mulai berbicara kepada Kang Soleh. 

“Punten kang, saya utusan dari keluarga Pak Saeful kesini, hanya mau ngasih kabar buat Kang Soleh, bahwa Pak Saeful sekarang sedang di rumah sakit, besok pagi rencana mau dioperasi karena penyakit ginjal yang ia derita, mohon perkenan Kang Soleh bersama jamaah di masjid untuk mendo’akan kesembuhan Pak Saeful.” 

Mendengar uraian pemuda itu, saya lama terdiam. Dalam hati saya, tak henti – hentinya beristighfar. Sayapun tanpa sadar membayangkan, seandainya saya jadi Pak Saeful. Seandainya saya menjadi Pak Saeful, tentu akan saya korbankan harta yang saya miliki, demi sebuah kesembuhan dari beban penyakit yang mengidap dalam tubuh saya. 

Sesaat kemudian pemuda itupun pergi, dalam hati saya masih merenung. 

“Kok, diam ?” tanya Kang Soleh. 

“Saya sudah tau jawabannya kang” 

“Kesehatan yang saya miliki, nilainya sungguh – sungguh diatas masalah yang sedang saya hadapi, namun saya tidak bisa melihat nikmat kesehatan itu sendiri.” 

Sesaat kemudian Kan Soleh berkata,

“Nah…alhamdulillah mulai sadar…”

Berapa nilai jantung kamu ?, Berapa nilai ginjal kamu ?, berapa nilai rambut kamu ?, Berapa nilai otak yang ditanam di kepalamu ?” “Kamu seolah sedang terjatuh dalam sebuah jurang yang dalam. Kamu ratapi nasibmu, kamu sesali perjalananmu…namun tidak sadar bahwa disampingmu ada sebuah tangga yang bisa mengantarkanmu ke atas.”

“Semoga kabar pemuda itu, bisa menjadi sarana penyadaranmu, bahwa kamu masih punya banyak hal…disaat kamu sedang merasa tidak punya apa – apa…tidak punya tempat berkeluh kesah…”

“Jika kamu sudah bisa menyadari bahwa kamu masih mempunyai banyak hal sebagai anugerah dari Alloh..setahap demi setahap kamu bisa mengerti makna syukur”

“Barangkali inilah salah satu cara Alloh, menunjukkan kepadamu bahwa kamu memang harus bisa bersyukur…”

“Digelapkan duniamu…dihimpit berbagai tekanan makhluk…, supaya kamu bisa kembali melihat anugerah Alloh yang telah diberikan kepadamu, namun selama ini kamu tidak bisa bersyukur…karena tertutup nafsu duniamu….”

Merinding bulu kuduk saya…begitu teriris perasaan saya mendengar uraian Kang Soleh. 

Wallahu a’alam.