Sungguh beda, antara kaya dan terlihat kaya

“Usaha yang saya mulai dari nol, kemudian berkembang dan terus berkembang seakan harus rontok hanya dalam hitungan beberapa bulan. Sayapun masih terngiang-ngiang bagaimana susahnya membangun kepercayaan dari pelanggan,perbankan, namun….. sekarang seolah-olah akan rontok dalam hitungan bulan.”

Begitu sekelumit curhat seorang pengusaha paruh baya, sore itu di rumah Kang Soleh. 

Sosoknya terlihat perlente. 

Mobil yang ia pakaipun bukan mobil biasa, Toyota Alphard tidak tanggung – tanggung ia gunakan. Sungguh sangat paradoks dengan curhatnya yang sedang ia ungkapkan kepada Kang Soleh. 

Kang Soleh yang dicurhati, dari tadi … begitu setia mendengar curhatan si pengusaha itu. 

Sesaat kemudian, pengusaha itupun, melanjutkan curhatnya. 

“Kehidupan yang saya lalui Kang, jujur saya gengsi kalau harus makan di warung – warung pinggir jalan. Dalam hati kecil saya berkata, “masa pengusaha… makan di pinggir jalan, ya… minimal di kafe”. 

“Untuk menunjang penampilan saya, bertemu dengan klient… mobilpun saya harus yang berkategori mewah kang, apalagi sekedar sepatu, pakaian ya… harus bermerk. 

Bagaimana klient saya akan percaya, kalau penampilan saya tidak seperti orang kaya.” 

Sesaat kemudian Kang Soleh mulai berbicara. 

“Lo….sampeyan kesini pake mobil mewah…kalau makan juga minimal di kafe, kok bilang usaha mau rontok….kok bisa? ” 

Pengusaha menjawab. 

“Mobil yang saya pakai kreditan kang, saat ini penjualan turun drastis. Tagihanpun banyak yang belum bisa cair.” 

Kang Soleh menjawab. “Hemmmm…..”. 

“Sekarang kalau ada orang lihat sampeyan, orang itu sebelumnya ga pernah sampeyan…. kesan yang tertangkap, kira sampeyan tergolong orang kaya, atau orang miskin ?” 

“Ya….. jelas orang kaya ….. kang” jawab si pengusaha. 

“Sekarang dibalik, coba sampeyan malem2 duduk sendiri…. merenungi perjalanan hidup sampeyan dari kecil, sampai seperti sekarang…..kemudian sampeyan tanya kepada diri sendiri, termasuk orang kaya atau orang miskin ?” tanya Kang Soleh. 

Agak lama termenung, si pengusaha menjawab pertanyaan Kang Soleh. 

“Yang jelas…….sebenarnya saya bukan orang kaya kang….” jawab si pengusaha. 

“ Lo…. kok bisa ?” tanya Kang Soleh. 

“Saya sudah hitung, jika semua asset saya jual untuk melunasi seluruh hutang – hutang saya, ternyata tidak tertutup kang…” jawab si Pengusaha. 

Kang Solehpun…. ikut terdiam. Sesaat kemudian, Kang Soleh bertanya, 

“Seandainya, sekarang ada orang datang ke sini…. pakaian dia bergamis, dengan jubah di kepalanya. Apa kesan yang kita tangkap pada saat pertama kali melihat orang ini. Apakah soleh atau tidak ?” 

“Jelas ….. soleh kang….” jawab si pengusaha. 

“Sekarang kalau ditanya lagi….. betulkah, dia benar – benar orang yang soleh ?” 

 “Ya… harus lihat karakter dan perilakunya kang, kebiasaan sehari-harinya dia, …..” jawab si pengusaha. 

“Nah………..itu jawabanya.” Kata Kang Soleh. 

“Kita sering terlalu cepat mengambil sebuah kesimpulan, dari apa yang kita lihat pertama kali. Akibat dari hal tersebut, tidak sedikit orang dalam hidupnya berusaha memenuhi “supaya terlihat…….”. Terlihat kaya…… terlihat soleh….. terlihat cantik…. dan terlihat – terlihat yang lain….., namun yang terlihat belum tentu kaya……. belum tentu soleh.”  

Dan sampeyan…. termasuk kelompok orang-orang yang ingin “terlihat kaya” namun tidak membangun sebuah kekayaan yang sebenarnya”.  

Itu sama saja, orang – orang yang fokus kepada “supaya terlihat soleh” namun dia membangun kesolehan itu sendiri….”  

Apa yang akan ia dapat ? Sebuah kehancuran…  

Supaya tidak hancur….. segeralah bertobat, lakukan revolusi atas sikap dan perilaku diri sendiri. Fokuslah kepada yang sebenarnya bukan kepada yang terlihat.” 


Wallohu ‘alam.