Spirit Hijrah

Suatu malam, selepas sholat isya bertempat di rumah kang Udin, terlihat beberapa orang sedang berdiskusi tentang rencana – rencana mereka yang sebentar lagi akan memasuki tahun baru hijriyah. Suasanapun sudah mulai ramai masing – masing asyik dengan rencananya sendiri – sendiri dalam menyambut tahun baru hijriyah.
”Saya sudah nyiapkan duit kang, buat beli mercon gandengan buat malam tahun baruan nanti. ” kata kang Parto

”Kalau saya udah nyiapin duit buat liburan sekeluarga kang, hitung – hitung menghibur diri dan kelurga.” kata kang Syamsul

”Nah, saya ini….. yang duit cuma sedikit, cuma nyiapin diri buat ziarah ke makam almarhumah ibu saya kang. ” sela kang Agus.

Mendengar berbagai celoteh, kang Udin mulai berbicara.

”Kalau kita mau bertahun baru, alangkah lebih baik kita melihat sejarah dan esensi dari tahun baru hijriyah itu sendiri.

Dari peristiwa hijrah, Rasulullah SAW bisa membangun masyarakat baru di kota Madinah. Masyarakat yang terformulasikan dalam bentuk persaudaraan “ukhuwah” yang sangat kental antara orang-orang yang berhijrah dari Makkah ” Muhajirin ” dan penduduk kota Madinah yang membantu mereka ” al anshar “.

Kekentalan ukhuwah ini bisa dilihat dari sebuah ilustrasi ketika Abdurrrahman bin Auf r.a dari kelompok Muhajirin dipersaudarakan dengan Sa’ad bin al Rabi’ dari Anshar. Seketika Sa’ad r.a. dengan penuh kejujuran dan keikhlasan menawarkan kepada Abdurrahman untuk mengambil separuh dari kekayaanya dan salah seorang dari kedua istrinya”

”Terus kita harus gimana sebaiknya ?” sela kang Parto

Kang Udinpun kembali melanjutkan pembicaraannya.

”Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua syarat, yaitu pertama ada sesuatu yang ditinggalkan dan kedua ada sesuatu yang dituju. Kedua-duanya harus dipenuhi oleh seorang yang berhijrah.

Kalau sampeyan kemarin lebih berkeyakinan kepada omongan dukun atau paranormal, tekadkan hati untuk meninggalkan itu dan lebih memilih kalamnya gusti Alloh.

Kalau sampeyan kemarin lebih mengagumi pemikiran – pemikiran orang barat yang tidak islami, tekadkan hati untuk meninggalkan itu dan kagumilah Kangjeng Nabi Muhammad.

Kalau sampeyan kemarin lebih senang mendatangi tempat – tempat karaoke dan perkara sejenis lainnya, tekadkan hati untuk meninggalkan itu dan arahkan kesenangan untuk mendatangi majelis – majelis ilmu dan majelis dzikir.

Kalau sampeyan kemarin lebih senang marahi anak buah ketika melakukan kesalahan dibanding mencari solusi atas permasalahan, tekadkan hati untuk meninggalkan itu dan jadilah seorang pemaaf dan lebih berorientasi kepada solusi.

Itulah hijrah I’tiqodiyyah, Fikriyyah, Syu’uriyyah, Sulukiyyah, dan inilah spirit hijrah itu sendiri.”

Mendengar ungkapan itu, kang Parto langsung berikrar, ”kang uang saya tidak akan saya belikan mercon gandeng kang”.

Selamat Tahun Baru 1431 Hijriyah