Seuntai kejujuran dalam bisnis

Suatu sore, terlihat seorang pemuda datang ke tempat kang Soleh. Dandanannya terlihat sederhana, dengan jean berwarna biru serta berkaos oblong putih. Syahrul nama pemuda itu. Sementara itu, diluar angin semilir mengiringi langkah kaki Syahrul ke tempat kang Soleh.

“Saya hari ini, benar – benar mendapatkan keuntungan yang luar biasa kang.” celoteh Syahrul tiba – tiba, setelah di rumah kang Soleh.

”Alhamdulillah…., berarti ke sini, mau hitung – hitungan berapa zakat dan shodaqoh yang mau dibayar ya ? tanya kang Soleh, dengan sedikit tersenyum.

”Bukan itu … maksud saya kang ?”

” O… kirain itu, lalu apa ?” tanya kang Soleh.

” Saya sehari – hari, sebagaimana kang Soleh ketahui kan jualan mobil bekas, sudah menjadi rahasia umum dalam jual beli mobil bekas, terkadang kejujuran menjadi hal yang sangat jauh diterapkan dalam bisnis mobil.”

” Ehm……” sergah kang Soleh.

” Sayapun mengakui, kadang – kadang mobil jelek dibilang bagus ke konsumen, demi meyakinkan untuk membeli, apalagi kalau yang beli tidak tahu detil mobil. Bahkan untuk mengakali konsumenpun kilometer disetel mundur.”

”Maksudnya ?” sergah kang Soleh.

” Yaitu kang, umpamanya kilometer sebenarnya sudah seratus ribu, disetel menjadi lima puluh ribu, jadi kan bilang ke konsumen mobil ini baru dipakai lima puluh ribu bukan seratus ribu.” jawab Syahrul.

Kang Solehpun terlihat manggut – manggut, baru mengerti kalau di dunia jual beli mobil bekas namanya kilometer bisa disetel ulang.

”Nah, hari ini saya ketemu orang yang main jual beli mobil bekas, tapi kejujuran diutamakan, dia tidak mau merubah – ubah kilometer mobil yang diperjual belikan. Karena dia tahu konsumen kurang minat membeli mobil yang kilometernya tinggi, iapun memilih membeli mobil yang kilometernya masih rendah, dibanding ia harus memanipulasi kilometer mobil.

Tidak hanya itu kang, perilakunyapun menurut saya lebih soleh dibanding pemain mobil yang lain, prinsip yang ia terapkan ketika menjual mobil tak hanya mencari keuntungan dari jual beli mobil, namun lebih jauh daripada itu, ia berusaha memberikan kenyamanan, kemudahan dilandasi kejujuran kepada konsumen.” Ini sebenarnya maksud saya kang, hari ini saya mendapatkan keuntungan luar biasa, karena saya bertemu orang yang masih mengutamakan kejujuran, padahal dalam lingkungan yang penuh dengan ketidakjujuran.

Mendengar penuturan Syahrul, kang Solehpun terlihat tersenyum lebar, kemudian berkata,

”Alhamdulillah, semoga kamu oleh Allah akan dipertemukan dengan orang – orang yang disayang sama gusti Allah.

Semoga orang yang kamu temui itu, sedang melaksanakan sebagian dari etika bisnis sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bahwa kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis, beliau pernah bersabda, “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya”.

Selain itu, orang itu mempunyai kesadaran tentang signifikansi sosial kegiatan bisnis. Pelaku bisnis, tidak hanya sekedar mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, sebagaimana yang diajarkan Bapak ekonomi kapitalis, Adam Smith, tetapi juga berorientasi kepada sikap ta’awun (menolong orang lain) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnis. Tegasnya, berbisnis, bukan mencari untung material semata, tetapi didasari kesadaran memberi kemudahan bagi orang lain dengan menjual barang.”

Wallahu a’alam.