Ponari ; solusi atau ironi ?

Sebuah fenomena yang cukup menggemparkan kembali terlihat di negeri yang konon harusnya gemah ripah loh jinawi, ya Ponari. Bocah kecil itu seolah telah membius ribuan bahkan jutaan orang di negeri ini. Ribuan orang setiap hari sampai detik ini, kabarnya masih rela mengantri berjam-jam bahkan ada yang berhari – hari untuk mendapatkan “celupan batu ajaib” milik Ponari. Sanking terlalu banyaknya tamu yang mau berobat, pihak panitia membatasi tamu sehari maksimal lima ribu tamu dalam sehari. Sebuah jumlah yang fantastis.

Bagi seorang yang melihat segalanya dari sisi bisnis duniawi, tentu angka lima ribu bisa diartikan lima ribu kali dua puluh ribu rupiah (misal seperti itu) sama dengan lima puluh juta. Itu baru dalam waktu satu hari, padahal seorang Ponari sudah buka praktek pengobatan berminggu-minggu, jadi tidak heran jika menurut media massa penghasilan Ponari sekarang sudah menembus angka lebih dari satu milyard. Jelas bukan sebuah jumlah yang sedikit.


Sementara itu, dari kalangan dunia kesehatan berkomentar fenomena ini cermin dari lemahnya fasilitas kesehatan yang disediakan pemerintah. Alih – alih mencari alibi bahwa bantuan untuk kesehatan yang selama ini masih belum mencukupi kebutuhan yang seharusnya. Atas hal ini, sang menteripun ikut turun tangan.

Lain lagi pandangan dari kacamata sosial, fenomena ponari cermin masyarakat yang rapuh secara mental dan sosial, masyarakat sudah mendekati putus asa atas permasalahan yang mereka hadapi, sehingga berusaha mencari jalan pemecahan yang serba instan, tidak mau pusing dengan lamanya sebuah proses.

Sebagian ulamapun tidak mau kalah untuk berkomentar, munculnya Ponari sebagai cermin bahwa masyarakat masih kental dengan nuansa perklenikan, padahal dalam kacamata mereka klenik sama dengan syirik alias musyrik, karena mempercayai yang menyembuhkan itu karena batu ajaib si Ponari, namun merekapun tidak berkomentar bahwa banyak masyarakat kita, yang pola fikirnya penyakit bisa terobati oleh obat anu, obat anu, oleh dokter anu dan dokter itu, namun tidak melihat bahwa penyembuh adalah dari Allah, obat dan dokter hanyalah perantara semata.

Sementara itu, bagi bi Iyem…sebut saja begitu, Ponari muncul bak dewa penolong, kehadiran Ponari laksana penyelamat di tengah kepedihan yang telah lama ia rasakan. Deraan penyakit yang bertahun – tahun menyelimutinya, disembuhkan karena pertolongan seorang Ponari. Bahkan karena keyakinan seperti itulah ada banyak yang lain yang terpaksa nyawanyapun ikut hilang, karena berebut dewa penolong. Bagi mereka Ponari adalah sebuah solusi jitu atas rumitnya problema yang mereka hadapi.

Jadi, Ponari solusi atau ironi ??