Orang Yang Menolongmu Bukan Orang Yang Kau Tolong

Dalam sebuah majelis, Kang Sholeh sedang membahas salah satu petikan hikmah dari Kitab Al Hikam, Syaikh Ibnu Athaillah As Syakandari.

Petikan tersebut adalah, "Diantara tanda bersandar pada amal adalah kurangnya harapan ketika terjadi kesalahan". Kang Sholeh juga menukil pertanyaan dalam kitab Al-Hikam Al-Athoiyah Syarh wa Tahlil, terkait petikan hikmah dalam Kitab Al Hikam tersebut.

"Adakah bergantung pada amal dianggap terpuji atau tercela? Jawabannya….. Tercela. Itulah sebabnya kita dilarang bergantung pada amal baik apapun yang telah kita lakukan."

Beramal itu perintah Allah, amaliah merupakan bukti ketertundukan sebagai seorang hamba, semangat dalam beribadah adalah bukti syukur kita kepada Allah.

Persembahkan amal yang terbaik untuk DIA ! Titik. Jangan hiraukan amal kita yang telah kita persembahkan itu ! Jangan kita hitung-hitung lagi amal kita ! Apalagi, kita hitung-hitung balasan apa yang akan segera kita nikmati !

Mari kita renungi, hadits Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wassalam,

"Dari Abi Hurairah, beliau berkata ; aku mendengar Rasulullah berkata, “Amal seseorang tidak akan memasukkannya kedalam surga”.

Sahabat bertanya, “Tidak juga Anda Ya Rasulullah?”.

Beliau menjawab, “Tidak! Tidak pula Aku kecuali bila Allah menyelimutiku dengan anugerah dan rahmat (NYA). Maka berlaku luruslah dan mendekatlah! (Diriwayatkan oleh Al-Bukhori; 5673, Muslim; 7294 dari Abi Ubaid Maula Abdirrahman bin Auf).

Lantas, bagaimana kaitan dengan urusan Duniawi ?

Bekerja itu urusan kita melakukan Perintah Allah. Sedangkan rizki itu Allah yang menentukan.

Jangan pernah, beranggapan bahwa kebahagiaan, kesuksesan, keberlimpahan kita hidup di dunia itu, karena amal kebaikan kita. Ini yang tercela.

Lebih ironis lagi, kita tanpa terasa telah bergantung kepada amal. Kita lebih percaya kepada amal kita sendiri dari pada kepada Allah.

Apa buktinya ?

Syaikh Ibnu Atha’illah lebihnlanjut mengatakan, "Anda akan kehilangan harapan ketika tergelincir dalam kekurangan dan kesalahan dalam amal".

Ketika shalat malammu kenceng, sedekahmu brutal, dakwahmu habis-habisan, kok hidup terasa sulit, masalah selalu datang, akibatnya engkau kecewa, menggerutu,seolah berputus asa……..lantas kau beranggapan, rahmat Allah tak datang.

Setelah Kang Sholeh selesai menjelaskan, pada sesi tanya jawab, ada seorang pengusaha yang mengajukan pertanyaan.

"Adakah bukti lagi Kang, terkait kesalahan dalam bergantung kepada Amal ?"

"Sampeyan pengusaha, sebelum sukses sampeyan pernah bangkrut ?"

"Pernah, sebelum bangkrut malah sy juga sukses." Jawab si Pengusaha sambil tertawa.

"Hehehe… baik…., pas sampeyan sukses di awal, sampeyan banyak bantu mitra, ya…. partner, ya… kawan, ya .. anak buah, atau nggak bantu ?"

"Bukan hanya itu, tetangga, saudara saya bantu." Jawab si Pengusaha, lagi – lagi sambil tersenyum.

"Ya…ya… pas sampeyan bangkrut, mereka semua yang sudah sampeyan bantu dulunya, apakah balik bantu sampeyan ?"

Mendengar pertanyaan ini, si pengusaha agak lama menjawab, dan terlihat agak menarik nafas panjang.

"Enggak Kang….. justru yang bantu saya ketika saya bangkrut adalah orang yang sebelumnya tidak saya bantu, walau mereka sudah sukses".

"Bukankah, itu juga bukti nyata… "Orang Yang Menolongmu, Bukan Orang Yang Kau Tolong" seandainya sampeyan mengandalkan amal sampeyan, mestinya dibantu sama orang yang sampeyan bantu…. kenyataannya ngga kan ?, itu juga tanda bergantunglah ke Allah…, bukan ke makhluk."

Mendengar penuturan Kang Sholeh, si pengusaha itupun mengangguk paham.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *