Menunggu Panggilan

“Kasihan banget kang, kalau lihat saudara – saudara kita, kemarin yang rela antri untuk mendapatkan sekilo daging kurban.” kata Somad.

“Kasihan gimana ?” balas Kang Soleh.

”Ya, kasihan mereka rela antri berjam – jam, untuk mendapatkan sekilo daging. Belum lagi harus berdesak – desakan.” jelas Somad.

”Untuk memenuhi sebuah panggilan…..” sela Kang Soleh.

”Iya kang, panggilan untuk mendapatkan sekilo daging. he..he…” jawab Somad sambil terkekeh – kekeh..

” Sebenarnya yang kasihan bukan hanya mereka kok !” balas Kang Soleh.

Belum selesai mereka bercengkrama, tiba – tiba muncul di depan pintu Edi, seorang kontraktor yang juga sering ikut nongkrong di tempat Kang Soleh.

”Bos yang satu ini, nih…juga kasihan nunggu panggilan…” ledek Kang Soleh kepada Edi.

”Maksud panggilan gimana kang ? ” tanya Edi.

”Ya … nunggu panggilan dapat proyek, dapat tender, dapat pekerjaan.” jawab Kang Soleh.

” Ya nunggunya kasihan kang….. tapi kalau dapat proyek kasihannya terbayarkan.” jawab Edi kalem.

” Namun, sebenarnya kita semua kasihan kok ! ” celetuk Kang Soleh.

” Jelasnya gimana to ? ” tanya Somad yang dari tadi terlihat antusias.

” Tidak sedikit dari saudara – saudara kita rela antri untuk sekedar mendapat penggilan demi sekilo daging kurban. Edi inipun, rela menunggu dan menjalani berbagai proses untuk menunggu panggilan untuk mendapatkan sebuah proyek. Setelah proyek didapat, untuk mendapatkan keuntungan harus melalui proses yang tidak sederhana dan berliku.”

Namun ada sebuah panggilan yang begitu pasti keuntungannya, bahkan keuntungan itupun sudah dikasih persekot terlebih dulu, namun kita sering menyepelekan panggilan itu….”

Panggilan dari siapa ……? Panggilan dari Gusti Alloh.

Betapa banyak dari kita begitu terburu – buru memenuhi panggilan dari bosnya, dari atasannya, namun begitu santai memenuhi panggilan adzan.”

Mendengar uraian kalimat dari Kang Soleh, Edi dan Somad bertatapan saling melongo.