Masihkah belum bisa bersyukur ?

Tak seperti biasanya, hari sabtu pagi fikiran saya terbebani dengan berbagai bayang – bayang beban yang menumpuk.

 Dalam fikiran yang terlintas, bukannya hal – hal yang sudah saya terima, namun keinginan – keinginan yang belum didapat. Muka kusut, wajah cemberut menghiasi pagi saya…. duh….kok gini, guman saya dalam hati. 

Sayapun tidak mau berlarut – larut dengan keadaan seperti itu, sayapun kemudian keluar rumah untuk melihat pekerjaan di proyek. 

Kotornya jalanan, dengan tempelan lumpur bekas hujan semalam sama sekali tidak menjadi beban. 

Setelah selesai sayapun mendekat ke pos satpam, ternyata…. dari sinilah, saya merasa ditegur sama Alloh. 

Seorang satpam mendekat ke saya, dengan penuh sumringah dan bangga bercerita bahwa gajinya bulan Januari akan naik. 

Gajinya akan dinaikkan bulan Januari mendatang menjadi 1.5 juta. 

Melihat sumringahnya dia, dan bangganya dia menceritakan tentang rencana dapat kenaikan gaji, saya jadi tertegun. 

Dalam hati saya berbicara, ia bisa sumringah dan bangga hanya karena akan dapat kenaikan gaji 1.5 juta per bulan….. lah saya ???? 

Kok ga bisa bangga dan sumringah, padahal penghasilan jauh diatas itu…kenapa tidak bersyukur.. 

Sayapun kemudian pulang, bersujud dan beristighfar… mohon ampun atas berkurangnya rasa syukur saya. 

Masihkah kita kurang bisa bersyukur, hanya karena keinginan kita belum kita dapat. 

Masihkah kita kurang bersyukur, di saat orang lain di bawah kita, sudah bisa bersyukur ? 

Masihkah kita kurang bersyukur, padahal yang kita terima jauh lebih banyak dibanding apapun ?