Kematian itu dekat

Masih terngiang-ngiang di benak kita, bagaimana tragedi situ Gintung, menelan banyak korban baik meninggal maupun yang masih dinyatakan hilang. Terbayang betapa beratnya seorang ayah yang harus kehilangan istri dan anak – anaknya sekaligus. Belum lagi, hati ini serasa miris, melihat geliat tangisan seorang anak kecil yang ditinggal mati oleh ibu bapaknya.

Belum tuntas permasalahan atas tragedi tersebut, senin siang, 06 April 2009 sebuah pesawat Fokker terjatuh dan seluruh penumpangnya meninggal dunia. Sekali lagi kita diingatkan betapa kematian itu sungguh dekat dengan kita

Pada suatu hari Imam Ghazali bertanya kepada murid-muridnya, ” Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “mati”. Sebab kematian adalah janji Allah SWT. “Setiap yang bernyawa (pasti) akan merasakan mati.” (QS Ali Imran [3]: 185).

Jadi, berbagai tragedi hendaknya bisa dijadikan alat instropeksi diri bagi kita, bahwa kematian itu sungguh dekat. Apabila kematian adalah hal yang pasti terjadi, dan tidak mungkin kita hindari, bagaimana mungkin kita bisa lalai kepada-Nya ?

Sikap memperbanyak mengingat kematian, niscaya bisa meremehkan berbagai kelezatan yang ada di muka bumi ini. Dengan mengingat kematian, diri ini bisa bersegera untuk melakukan taubat, baik taubat dari segala kemaksiatan maupun dari kealpaan kita terhadap Allah swt.

Selain itu, mengingat kematian bisa membawa ke sebuah ibadah yang lebih istiqomah dan terjaga, karena hati selalu sadar bahwa hidup ini hanya sementara.

Walllahu’alam.