Kapan mengingat Allah ?

Siang itu langit kota Bandung terlihat sedikit temaram, namun panasnya udara seolah tak mau berhenti, hingga di jalan – jalanpun rasa panas begitu terasa di badan, apalagi bagi yang mengendarai sepeda motor. Rasa panas itupun lebih menyengat lagi karena hari ini sudah memasuki bulan Ramadhan. Rasa lapar dan dahaga semakin menggelora di ujung tenggorokan, seolah ada sesuatu yang berusaha meronta-ronta sekuat tenaga untuk keluar dari sebuah ikatan.

Sementara itu di Jalan PHH Mustofa, terlihat sebuah mobil sedan BMW 320i Executive warna silver meluncur perlahan ke arah barat, terlihat didalamnya duduk seseorang yang masih cukup muda duduk di sebelah kiri driver. Duduknya terlihat santai, badanpun ia rebahkan ke jok mobilnya, tatapannya lurus ke depan seolah tak mau kehilangan apapun yang di depan matanya. Sesekali ia terlihat menelepon seseorang di sana, dengan Blackberry Bold di genggaman tangan kanannya.

“Gimana puasanya pak Hadi ?” tiba-tiba Johan bertanya kepada driver di sebelah kanannya. Pak Hadipun dengan lirih berkata, ”Alhamdulillah pak, insya allah lancar belum pernah bolong – bolong sih pak.”

”Pak… kita ambil kanan saja, nerobos lewat jalan kecil, setelah Itenas kita ambil kanan, kita lewat Dago atas saja pak…lebih hemat waktu sampai ke sheratonnya…” mendadak Johan memberi instruksi ke Pak Hadi supirnya. Rupanya mereka hendak menuju ke hotel Sheraton. Pak Hadipun membelokkan kendaraan ke kanan melewati Jalan Pahlawan menuju Hotel Sheraton namun melewati jalan yang cukup kecil.

Kendaraan berjalan dengan sedikit perlahan, karena ternyata jalan yang dilewatipun sedikit macet sedangkan jalan cukup sempit, maksud hati menghindari kemacetan namun walaupun lewat jalan yang lebih sempitpun masih sedikit macet juga. Sementara itu di dalam mobil terlihat Johan, sedikit menguap sedangkan Pak Hadi masih berkonsentrasi menghindari sliweran sepeda motor di sebelah kanannya.

”Saya itu agak bingung pak ?” mendadak Johan bertanya ke Pak Hadi. ”Emang kenapa pak ?”, balas Pak Hadi. ”Saya ini, nanti mau ketemu sama seseorang dari sebuah BUMN yang katanya mau ngasih proyek, tapi belum apa – apa, dia sudah berani minta uang di depan. Saya sebenarnya agak ragu, saya baru saja mau masuk ke BUMN itu, karena seperti Pak Hadi sendiri tahu, saya ga pernah berhubungan dengan BUMN, tapi ya itu…… baru mau masuk saja, aromanya sudah terasa menusuk…ha..ha..gimana menurut Pak Hadi ?” tanya Johan kepada Pak Hadi.

Mendengar pertanyaan itu, Pak Hadipun sedikit sedikit tersenyum, dan sedikit bicara, ”kayaknya memang hal seperti itu biasa kok pak, tapi kan gini pak…walaupun begitu bapak juga menikmati kan ?” balas Pak Hadi. ”Hus….walaupun saya begini, bukan hasil dari proyek begituan pak…saya ini justru baru masuk pertama kali di BUMN itu, kok keadaannya seperti itu, apa mereka ga takut ya ? gimana pertanggungjawabannya ?” balas Johan.
”Kalau menurut saya sih gini pak, orang – orang seperti itu jauh dari mengingat Allah” kata Pak Hadi.

”Jangan salah pak Hadi, orang ini sudah pergi haji ke Mekkah, bahasa arabnyapun tidak kalah fasih ?” balas Johan.

”itu bukan mengingat Allah pak….tapi hanya menyebut Allah, lisannya fasih menyebut Allah, namun hatinya kering dari Allah…sehingga kekeringan hatinya menembus ke batas lahirnya pak, kalau lahirnya ia bisa ke Mekah namun hatinya jauh dari Mekah. Kalau lisannya fasih menyebut asma Allah….hatinya mengingat selain Allah…. ” cerocos Pak Hadi tiba – tiba tanpa bisa ia bendung sendiri, padahal ia sedang berbicara dengan bosnya.

”e..e…maaf pak, saya jadi ngelantur….” tambah Pak Hadi setelah bisa sedikit menguasai diri.

”o..o…ga pak Hadi…ga apa-apa, saya malah jadi bingung…kok Pak Hadi bisa lancar bilang seperti itu gimana critanya ya ?

”Saya, juga ga tau pak, cuma tadi saya sekilas jadi ingat kata – kata mursyid saya di kampung.” begitu penjelasan Pak Hadi.

Setelah itu, Johan jadi terdiam lidahnya kaku, fikirannya melambung jauh tinggi…namun sesaat kemudian terdengar lirih….”astaghfirulllahhal ’adzim…”

”Pak Hadi parkir di tempat parkir ya pak, saya paling ketemu sama orangnya paling lama setengah jam. Tunggu saja.” begitu kata Johan ketika mereka sudah sampai di depan Hotel Sheraton.

Sekitar setengah jam kemudian Johanpun sudah terlihat keluar dari Hotel Sheraton, sesaat kemudian dari tempat parkir Pak Hadi dan mobilnya meluncur menjemput Johan, Johanpun kemudian terlihat naik ke mobil tersebut.

”Kita ke Jalan Asia Afrika pak !”, kata Johan kepada Pak Hadi. Merekapun kemudian melaju menuruni Jalan Juanda turun dengan perlahan, hingga sampai di perempatan yang menuju Dipati Ukur. Mobilpun terus melaju lurus ke depan dengan perlahan.

”Kok…mobil goyang ya pak….?”tanya Johan tiba-tiba. ”Ya…nih pak, ga tauh…..” jawab pak Hadi. Namun sesaat kemudian di depan mereka terlihat banyak orang berhamburan ke halaman dan jalan dipenuhi orang, sambil berteriak histeris….”gempa..gempa….”, ada juga yang mengumandangkan ”Allahu Akbar…Allahu Akbar”.

”Astaghfirullahhal’adzim….pak gempa,…cepat keluar dari mobil…” begitu kata Johan setelah menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terlihat banyak wanita yang pucat pasi wajahnya, ada juga yang sedikit menangis. Sementara banyak juga yang sibuk mencoba menelepon ke sanak keluarganya. Tak terkecuali Johanpun segera menelepon istri dan anaknya. Sedangkan Pak Hadi kelihatan terpaku, dengan tidak berhenti berkata …astaghfirullahhal’adzim…”.

Setelah keadaan agak mereda, Johanpun menyuruh Pak Hadi ke mobilnya, ”Pak, kita balik ke kantor saja, ke Asia Afrika dibatalkan saja dulu.” kata Johan.

Kendaraanpun berbalik arah menuju ke kantor Johan, sepanjang perjalanan tak henti-hentinya keduanya bercerita dahsyatnya gempa tadi. Pak Hadipun bercerita ia mencoba telepon istrinya yang di Majenang belum bisa. Keduanyapun terlihat sering mengambil nafas dalam – dalam.

”Kalau sudah begini ya pak…..hampir semua orang bisa mengingat Allah dengan benar-benar mengingat…” tiba – tiba Johan berkata kepada Pak Hadi.

”ya begitulah pak….kayaknya betul….” kata Pak Hadi.

”Saya yakin pak, ketika gempa tadi sebagian besar orang tidak mengingat-ingat berapa harta yang ia punyai, mobil yang ia miliki…namun hanya satu ”bagaimana ia bisa selamat dari gempa ini”, untuk bisa selamatpun mereka hanya bergantung satu…yakni hanya kepada Allah semata….” kata Johan.

Johanpun melanjutkan cerita, ”tadi proyek yang rencananya dikasih ke saya, sudah saya batalkan pak …..”

”lo kok gitu pak ?” tanya Pak Hadi.

”Ya…iya, …kan sudah dibilangin Pak Hadi tadi…. masa gara-gara proyek itu, saya dan orang itu sama-sama melalaikan Allah….” jelas Johan.

”Saya masih ada satu pertanyaan lagi pak Hadi, ”apa iya manusia supaya bisa mengingat Allah dengan benar…harus dikasih gempa dulu ?” tanya Johan.

Mendengar pertanyaan itu, Pak Hadi tertawa terpingkal – pingkal, dan Johanpun ikut tertawa – tawa. Namun setelah mereka tertawa tiba – tiba Pak Hadi berkata lirih, ”astaghfirullahal ’adzim….pak, saya Cuma takut….barangkali saya termasuk golongan itu pak..mau mengingat Allah, kalau dikasih cobaan dulu…”

Keduanyapun akhirnya terdiam membisu, akalpun melayang….dalam hati mereka bertanya, ”jangan – jangan saya baru mengingat Allah kalau dikasih cobaan”

Wallahu a’lam.