Dari Kampanye ke Situ Gintung

Setiap siang dalam beberapa hari terakhir, saya kalau berjalan ke tengah kota Bandung, hampir bisa dipastikan bertemu dengan arak-arakan sepeda motor menuju lapangan gasibu. Apalagi kalo bukan arak-arakan kampanye partai politik. Luapan kegembiraan mereka dengung-dengungkan dengan bunyi gas sepeda motor, walaupun dengungan mereka, barangkali menjadi dengungan kesedihan bagi warga lain, yang kebetulan juga sedang melintas di jalan.

Setiap hari langit kota Bandung pun seolah penuh sesak dengan berbagai awan janji – janji para caleg yang sedang menebarkan berjuta – juta harapan di depan ribuan ”simpatisan”nya, bahkan para calegpun seolah tidak peduli mereka yang mendengarkan orasinya, karena semata-mata ingin tahu visi misinya, atau hanya karena sekedar demi lembaran rupiah.

Keadaan seperti ini, barangkali tidak beda jauh dengan kondisi di kota anda. Ya memang sekarang memang lagi jadwalnya kampanye terbuka, tiap hari para caleg mencoba memberikan janji – janji manisnya.

Belum selesai kampanye terbuka digelar, mendadak khalayak disentakkan dengan peristiwa yang begitu miris, ”tragedi situ gintung”. Tanggul situ gintung mendadak jebol, karena tidak kuat menahan beban air yang banyak. Menambah kesedihan lagi bagi kita, korban yang jatuh tidaklah sedikit, tercatat 99 jiwa meninggal dunia, lebih dari 100 jiwa hilang, dan tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut akan bertambah. Belum lagi kerugian materiil harta benda yang ikut terhanyut bersama gelombang air bah, mirip tsunami kecil itu.

Di tengah kesedihan yang begitu mendera, terutama bagi saudara kita yang kehilangan keluarganya, ternyata tidak sedikit pula sebagian masyarakat kita, dengan alasan ”ingin tahu” menonton ke lokasi kejadian. Padahal berulang kali perilaku tersebut justru menyulitkan rekan-rekan yang tengah berupaya mengevakuasi korban. ”Barangkali masyarakat kita tidak puas dengan wisata air laut, belanja, ataupun yang lain namun tidak kalah ramai juga wisata bencana alam”, demikian ungkap seorang ibu via telepon dalam acara ”Mario Teguh Golden Ways”, minggu malam.

”Loh, masyarakat ke lokasi, kan justru ingin melihat lebih dekat bagaimana kekuasaan Allah itu….” seseorang berkilah ke saya. Sayapun menjawab, ”Tanpa anda ke sanapun, kekuasaan Allah tak akan berkurang satu milipun”. Barangkali akan lebih baik bertindak yang lebih logis, untuk mengekspresikan ”rasa impati” kita. Menyisihkan sebagian harta anda, atau minimal berdo’a itu lebih dari cukup sebagai ekspresi ”empati”.

Kesedihan ternyata belum terhenti, ketika melihat sebagian masyarakat kita sibuk menonton di lokasi kejadian, namun lebih sedih lagi ketika bertanya, ”siapa yang bertanggung jawab ?”. Wuih…………… Coba lihat apa kata mereka yang kebetulan dikasih amanah sebagai pejabat , serta jajaran dibawahnya…. hemmmmm……. nggak ada yang mengaku bertanggung jawab.
Keterkejutan itu….. ternyata juga belum berakhir, ketika melihat pemandangan di sebuah kampanye. Tragedi Situ Gintungpun tak luput menjadi sebuah sarana dalam berkampanye. Seperti meneruskan tradisi saling lempar, tragedi itupun menjadi sarana politik demi mendongkrak sebuah ”simpati”……huhhhhhhhhh.

Ketika semakin terhenyak-henyak sayapun jadi teringat lagi sebuah cerita, seorang wali Allah, Syeikh Sariy as Saqathy yang pernah berkata, ”Tiga puluh tahun aku beristighfar memohon ampun Allah atas ucapanku sekali, Alhamdulillah”. ”Lho bagaimana itu ?”, tanya seseorang yang mendengarnya. Kemudian syeikh menjelaskan, ”Ada kebakaran di kota Baghdad, lalu ada orang yang datang menemuiku dan mengabarkan bahwa tokoku selamat tidak ikut terbakar. Aku waktu itu spontan mengucap, ”Alhamdulillah!”, maka ucapan itulah yang kusesali selama tiga puluh tahun ini. Aku menyesali sikapku yang hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain.”

Astaghfirullahal ’adzim……..