Bersyukur

Suatu sore saya berkunjung ke seorang rekan, kebetulan rekan saya ini tidak bertemu sekitar lima bulanan. Tempat tinggalnya sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena kesibukan jarang sekali bertemu. Rekan saya ini, kebetulan secara fisik memiliki postur tubuh yang besar dan tinggi, ditambah lagi dandanan pakaiannya boleh dibilang nyentrik, walaupun usianya diatas saya. Sepintas orang melihat, pantas kalo jadi bodyguard, karena tinggi dan besar.

Okelah, setelah ngobrol ngalor ngidul, hingga rekan saya ini, mengajukan sebuah pertanyaan kepada saya begini, ”saya ini sudah berdo’a siang dan malam, sampai –sampai ribuan ayat telah saya wiridkan, sesuai petunjuk dari A, tapi kenapa keadaan saya tidak berubah, malah tambah parah, padahal cita – cita saya itu mulia. Saya ingin membahagiakan isteri dan anak, kemudian bila saya kaya, sebagian harta itupun akan saya sumbangkan kepada fakir miskin…. tapi kenapa Allah tidak mengabulkan ?????”, begitu desak keluh kesahnya kepada saya.

”Kalo saya bercita-cita ingin mencuri….jadi penjahat….. itu ga dikabulkan sama Allah, … ga apa-apa……, tapi saya bercita – cita jadi orang bener, tapi kenapa juga tidak dikabulkan, sampai – sampai saya berfikir Allah itu tidak adil.” lanjutnya ia berkeluh kesah kepada saya.

Sejenak saya bernafas dalam, pada saat itu saya berfikir, bagaimana menjawab pertanyaan rekan saya ini, yang didalam benaknya sudah sedikit terpolusi kotoran, yang menganggap bahwa Allah itu tidak adil.

Pada saat itu, sayapun berfikir, kalau saya menjawab keluh kesah dengan mengeluarkan fatwa dengan memetik ayat suci Al Qur’an secara tekstual, belum tentu kena…., karena
Iapun sudah ketemu ustadz yang memberi nasehat kepadanya. Setelah merenung lama, akhirnya saya mencoba bercerita sebuah kisah yang terjadi pada jaman Nabi Musa AS.

Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang-panjang. Mereka ada yang kaya dan juga ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping dan sangat lusuh berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Baginda Musa AS, “Ya Nabiyullah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya.

Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, “saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, Bagaimana aku mau banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan pun hanya satu lembar ini saja”!. Akhirnya si miskin itu pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.

Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya juga rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai Nabiyullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu.

Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, “wahai saudaraku, janganlah kamu bersyukur kepada Allah SWT. Ya Nabiyullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku dapat melihat. Telinga yang dengannya aku dapat mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya”, jawab si kaya itu.

Akhirnya si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Kemudian terjadi adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT mengambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT.

Setelah mendengar kisah itu, rekan saya inipun terdiam. Sayapun tidak tahu apakah ia bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya atau tidak. Namun setelah itu, ia menyalami saya dan bilang, ”terima kasih”.