Berbuat baik … Jangan Tunda !!

 Sosoknya perlente, baju dan celana yang dipakainyapun bermerk. Itulah Ikbal, seorang pemuda dengan sederet prestasi kemapanan yang telah ia sandang di usia muda.

Suatu sore ia bertandang ke tempat Kang Soleh. Binar wajahnya serta tajam sorot matanya seolah mencerminkan jiwa kepemimpinan dan kematangan mentalnya dalam dunia bisnis. 

“Dari Jakarta jam berapa berapa kemarin berangkat ?” tanya Kang Soleh. 

“Kemarin ba’da maghrib kang ?” jawab Ikbal. 

Setelah ngobrol panjang lebar, tentang bisnis – bisnisnya, Ikbal mulai bertanya kepada Kang Soleh. 

“Gini kang, mengapa kalau saya mau berbuat baik kok sering ketunda – tunda ? Mau sholat tepat waktu… tertunda – tunda urusan lain, mau sedekah dinanti – nanti… ” tanya Ikbal. 

” Ya…kamu sendiri yang tahu penyebabnya lah…”Jawab Kang Soleh ringan. 

” Ya…ya…, penyebabnya memang sikap saya yang suka menunda – nunda kang.” 

“Kalo sudah tahu, karena sikapmu yang penunda..rubahlah sikapmu menjadi tidak penunda…gitu aja kok repot…” Jawab Kang Soleh sambil nyengir. 

” Wah…jawaban Kang Soleh, sama saja jawaban dari motivator-motivator itu…” ledek Ikbal. 

“Lo….memang betul…tidak salah…kata motivator – motivator itu…” 

“Adakah sesuatu kang, yang menggerakkan supaya sikap saya menjadi berubah ?” tanya Ikbal. 

“Ada….”jawab Kang Soleh singkat. 

Tiba – tiba handphone Ikbal berbunyi, iapun mohon ijin sebentar kepada Kang Soleh untuk menerima telpon. Setelah Ikbal selesai menerima telepon, sejenak wajahnya tambah berbinar, namun setelah itu kelihatan wajahnya agak memucat. 

“Kamu ada apa, kok kelihatan memucat ? tanya Kang Soleh. 

“Calon investor mendadak terbang ke Jakarta pengin ketemu saya, dan menginginkan saya mempresentasikan projek saya kang.” 

“Hubungannya apa dengan kamu ?” tanya Kang Soleh. 

“Ya jelas ada to kang…. saya harus segera menyiapkan bahan – bahan untuk presentasi.” Jawab Ikbal. 

Jadi, diskusi kita…stop dulu ya …”tanya Kang Soleh. 

“Astaghfirullohal ‘adzim…., ya kang, kita teruskan….justru karena saya ingin tahu jawabannya saya butuh pencerahan dari Kang Soleh.” jawab Ikbal dengan rasa bersalah. 

Kang Soleh, kemudian siam sejenak. Tarikan nafasnya terlihat begitu dalam. 

“Jawaban atas pertanyaanmu, sudah bisa kamu temukan dalam kejadian yang menimpa dirimu sendiri.” Kata Kang Soleh. 

“Sory kang, saya benar – benar tidak mengerti yang dimaksud Kang Soleh.” jawab Ikbal. 

“Begitu gugupnya kamu, ketika ada pemberitahuan investor mau datang. Engkau tidak ingin kehilangan sebuah kesempatan “emas” bagi dirimu sendiri.” 


“Jangankan menunda, terlintas dalam fikiran untuk menundapun, saya yakin tidak ada. Saya yakin sederet schedule tindakan apa yang akan kamu lakukan menghadapi investor, sudah tersusun rapih dalam benak fikiranmu.” 


“Bila kamu bisa bertindak dengan segera, tersusun rapih dan sistematis tanpa penundaan sama sekali, untuk menghadapi panggilan investor… “bagaimana mungkin kamu mudah melakukan penundaan ketika kamu dipangggil sang pencipta …”” 

Mendengar uraian Kang Soleh, Ikbalpun mulai tertunduk, wajah pucatnya semakin menjadi. Degap jantungnya serasa meningkat. 

“Itulah barangkali salah satu makna mengapa dalam Al Hikam tertulis “Menunda amal perbuatan yang baik karena menanti-nanti kesempatan yang lebih baik merupakan tanda kebodohan yang mempengaruhi jiwa”

Obat untuk mengatasi penundaan adalah seolah kamu mau dipanggil sang pencipta, dalam bahasa kanjeng Nabi, “mengingat kematian”. 

“Bagaimana mungkin kamu bisa bercepat – cepat memenuhi panggilan investormu, sedangkan panggilan pencipta investor kamu tunda – tunda.”