Memaknai Syukur

Syukur berasal dari kata Syakara, yang berarti membuka. Sedangkan lawannya Kafara, yang berarti menutupi.

Syukur itu gambaran kenikmatan dalam benak dan menampakkanya diluar, sedangkan kufur itu menutupi, menyembunyikan akan nikmat tersebut.

Membuka apa ? Membuka atas berbagai hal yang telah Allah berikan kepada kita. Harta yang kita terima, sebagian disisipkan kepada yang berhak. Ilmu yang telah kita dapat kita berbagi dengan yang lain, begitu juga hal – hal lain.

Sedangkan kebalikannya, yakni menutupi, menyembunyikan akan nikmat yang telah diterima, dengan menumbuhkan sifat kikir, dan tak mau berbagi dengan yang lain, padahal anugerah yang diterima sebenarnya dari Allah semata.

Syukur bermakna mempergunakan sesuatu sesuai dengan kehendak sang pemberi sesuatu tersebut. Meyakinkan kan dalam hati, memuji dengan lisan, dan menggerakkan dalam tindakan nyata amal perbuatan.

Bagaimana meyakinkan dalam hati ?
Ingatlah, ketika Allah berfirman kepada Nabi Musa AS, Bagaimana engkau akan bersyukur dengan sebenarnya kepadaKu ?
Lalu Nabi Musa menjawab, Bagaimana saya akan bersyukur kepadaMu, sedangkan rasa syukur itupun anugerah dari Mu ?, Lantas Allah berfirman, Engkau telah memahami syukur yang sebenarnya, karena telah meyakini bahwa segala sesuatu sesungguhnya dari Allah semata.

Lalu bagaimana dengan lisan ?
Pertama, pergunakan lisan untuk memuji dan berdzikir kepada Allah. Kedua bila telah terlanjur berbuat dosa, segeralah meminta ampun kepada Allah.

Lalu bagaimana dengan. Perbuatan ?
Nikmat yang telah diterima, nyatakan lah, syiarkanlah. Kemudian selalu bertindak sesuai sang pemberi nikmat.