Kenikmatan seteguk air

Saya kebetulan terlahir di sebuah kampung terpencil di Purbalingga, sampai sekarang masih terbayang-bayang bagaimana dulu sewaktu masih kecil, suasana kampung ketika ramadhan tiba. Bulan Ramadhan sangat berbeda bagi kami anak – anak kecil dibanding dengan bulan selain ramadhan.

Masih terbayang bagaimana senangnya bersama-sama teman-teman sebaya menabuh bedug saat usai shalat tarawih, yakni saat mengiringi lantunan bacaan surat al Ikhlas secara berjamaah. Kebahagiaan itupun belum berakhir begitu selesai shalat tarawih duduk berjajar membentuk lingkaran untuk menikmati apa yang dinamakan ”tajil”, namun jangan membayangkan tajilnya berisi makanan seperti di kota saat ini. Tajil yang ada pada saat itu hanyalah singkong rebus, pisang rebus, ketela rebus ditambah segelas teh tawar.

Kebahagiaan itupun masih terus terasa bertambah ketika menjelang lebaran tiba, dimana tradisi tahunan akan dilakukan. Bagi saya waktu itu, salah satu tradisi tahunan adalah dibelikan sebuah baju dan sarung atau celana, yah dibelikan baju dalam satu tahun hanya sekali saja. Namun justru karena baju dibelikan setahun sekali kenikmatannya sungguh – sungguh sangat terasa.

Selain baju, ada juga tradisi tahunan yang lain yakni membeli ikan / daging di pasar untuk dimasak sebagai lauk khususnya pada saat selamatan ”tenongan” setelah shalat hari raya I’dul Fitri. Makan dengan ikan / daging pada saat saya kecil merupakan sebuah kemewahan tersendiri, namun sekali lagi…. justru karena setahun sekali itu…kenikmatannya sungguh-sungguh bisa dirasakan.

Kini……

Saya dan keluarga, serta rekan – rekan …bisa membeli baju baju mungkin tiap minggu, atau mungkin tiap bulan….dan baju yang dibelipun tidak sekedar baju sebagai penutup aurat saja, namun masih ditambah yang lain seperti bermerk ….sesuai trend saat ini. Setiap haripun menu makan kita tidak lepas dari apa yang dinamakan ikan / daging, namun ketika semua itu telah tercukupi, maka kenikmatannya hampir-hampir dikatakan berkurang, walaupun sesungguhnya masih ada rekan – rekan yang dibawah kita, namun seolah – olah kita tidak memperdulikannya.

Namun ….

Ketika bulan ramadhan tiba, saat lapar dan dahaga mempersempit aliran darah dalam tubuh kita, maka kita mulai bisa merasakan lagi…. arti sebuah kenikmatan. Tatkala adzan maghrib dikumandangkan, dan saat berbuka puasa telah tiba…maka kebahagiaan itu serasa dihujamkan oleh Allah kepada hamba-hambanya yang berpuasa, walaupun ketika berbuka puasa hanya dengan sebiji kurma atau seteguk air.

Inilah barangkali salah satu rahasia dari puasa, dengan puasa bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tetapi juga disuruh merasaakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Di sinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah.

Wallahu a’alam