Hidup Kudu Rajin, jeung Disiplin

Hidup kudu rajin, jeung disiplin

Raut wajahnya terlihat sudah menua, kerut wajahnyapun sudah nampak begitu rupa. Namun seolah ada cahaya yang bersinar dari balik wajahnya yang sudah keriput.

Cahaya penuh semangat, cahaya yang tak mudah berpasrah, dan cahaya yang penuh optimisme dan rasa syukur.

Itulah sedikit gambaran, nenek penjual nasi kuning di sebuah sudut perempatan jalan di Pasir Jati, Bandung Timur.

Sebenarnya saya sudah beberapa kali mampir di warung kopi, yang tempatnya juga menjadi tempat jualan si nenek tersebut, namun baru pagi ini ada kesempatan ngobrol lebih deket dengan si nenek penjual nasi kuning tersebut.

Dari cara berbicara yang runut dan tertata, memang menunjukan bukan penjual nasi kuning biasa. Dan memang seorang nenek yang telah ditinggal si kakek meninggal dunia, dan kakek adalah salah seorang pensiunan PNS di kota Bandung.

Ia berjualan nasi kuning setiap hari, tanpa rasa malu dan mudah pasrahpun, si nenek sering terlihat begitu akrab dengan pembeli. Tidak kaku dalam melayani, setiap pembeli yang datang bila ada kesempatan diajak ngobrol dengan santai, namun gaya bicaranya tertata.

Ada yang cukup sedikit mencengangkan bagi saya, untuk seorang penjual nasi kuning, dimana si nenek tersebut tanpa ragu sedikitpun mendekati saya, iapun berkata.

"Hidup itu kudu rajin, jeung disiplin." Apa yang bisa diharapkan kalau yang muda-muda tak rajin, juga tak berdisiplin.

Si nenek masih bercerita panjang lebar. Sayapun hanya mengangguk, sambil terkadang memegang tangannya yang sudah terlihat renta.

"Yang tak boleh terlewat, juga harus shodaqoh. seberapapun jumlahnya, dalam wujud apapun yang dishodaqohkan." Si nenek masih memberi nasihat ke saya.

Sebenarnya masih ada hal lain yang nenek sampaikan juga, namun tidak saya share disini.

Bagi pribadi saya, melihat yang telah renta masih bekerja, itu sungguh luar biasa. Ketidakmauan hidupnya menjadi tanggungan anak-anaknya, itu sungguh suatu hal yang istimewa.

Sementara, disisi lain, saya melihat ada sebagian orang yang justru masih muda dan kuat, namun malas untuk bekerja dengan berbagai alibi dan argumentasi. Kalaupun bekerja, yang dikerjakan kurang maksimal dan asal-asalan.

Belajar itu tak harus dari seorang mentor bisnis yang handal, ataupun seorang kyai yang bersorban. Saya bilang tidak melulu, dan tidak harus, namun alangkah bagus bila dilakukan.

Artinya, belajar dari setiap orang yang kita temui pasti ada nilai yang bisa kita ambil. Ada pelajaran yang bisa kita perolah, ada hikmah yang akan tertularkan.

Jika yang tua renta, masih bersemangat dalam bekerja, gimana kita yang masih lebih perkasa kok maunya enak2 saja.

Apa ga malu ???

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: