Pecatlah anak buahmu bukan karena amarahmu..

image

“Bagaimana tidak marah dan kesal kang, gara2 kecerobohan anak buahku berakibat rugi puluhan juta…” keluh kesahku sama Kang Soleh.

Wajah memerah dan penuh emosi memang tak bisa kusembunyikan di depan Kang Soleh.

Sudah tergambar jelas di pelupuk mataku, besok pagi akan kudamprat habis anak buahku itu, dan langsung saya pecattt..

Seperti biasa, Kang Soleh mendengar keluhanku masih begitu dingin, walaupun saya tahu dari rautmukanya sedang merenung begitu dalam.

“Coba sejenak, kita tamasya yuk ke jaman sahabat Ali. ” tiba-tiba Kang Soleh berkata dengan tenang.

“Dalam suatu peperangan berhadap hadapan satu lawan satu antara kaum muslim dengan kaum kafir Qurais, dari pasukan kaum muslim majulah Ali bin Abi Thalib ketengah arena/lapangan menentang seorang jago dari pihak kaum kafir Qurais, keduanya merupakan jago yang diandalkan kedua belah kubu, dengan kehebatan dan menegeluarkan keahlian masing-masing pertarungan berjalan sangat seimbang, dan penuh ketangkasan, sambil penonton kedua pihak memberi supor dan semangat untuk masing-masing jagonya.

Pada suatu kesempatan Ali dapat menjatuhkan lawannya, disaat Ali akan menebas leher lawan yang terjatuh itu, dikala pedang Ali sudah menempel keleher musuhnya, disaat genting itu pula lawannya meludahi wajah Ali, Ali sangat marah , mukanya telihat merah, Ali marah sekali, tetapi disaat itu pula Ali menarik pedangnya dan menyarungkan nya kembali, dia tidak jadi membunuh lawannya.

Para sahabat kaget, bertanya “ Wahai Ali kenapa engkau tidak jadi membunuh lawanmu”, dengan tenang Ali menjawab,

“Semula aku akan membunuhnya karena ingin mencari ridha Allah, melaksanakan perintah Allah, tetapi disaat dia sempat meludahi wajahku, aku sangat marah dan malu sekali, namun disaat menahan kemarahan itu aku ingat kalau aku teruskan membunuhnya, aku membunuhnya tidak lagi krena perintah Allah tetapi membunuhnya karena kemarahan dan kebencian,serta didorong melepaskan rasa malu, takut saya pekerjaanku tidak diterima disisi Allah, karena itu aku tarik lagi pedangku dari lehernya” jawab Ali bin Abi Thalib ”

Sayapun terlarut mendengarkan kisah yang diceritakan Kang Soleh.

“Jadi…. saya ga boleh memecat anak buah saya ??? ” tanya saya.

“Lihatlah dulu ke dalam dirimu… kamu akan memecat anak buahmu karena apa ?”