Anhar Gonggong : Jangan Tarik Buku Adam Malik Agen CIA!

Jakarta – Kejagung akan menarik buku “Membongkar Kegagalan CIA” karya Tim Weiner yang menyebut mantan Wakil Presiden Adam Malik sebagai agen CIA, jika mengganggu stabilitas keamanan. Rencana ini dianggap sebagai tindakan bodoh.

“Biarkan saja masyarakat dewasa. Apa urusannya Kejaksaaan. Kita harus berpikir bahwa menarik buku itu sama halnya membakar buku. Dan itu tindakan bodoh,” ujar sejarahwan Anhar Gonggong kepada detikcom, Senin (24/11/2008).
Menurut Anhar, masyarakat akan mengontrol sendiri informasi yang mereka dapatkan. “Kapan kita dewasa jika setiap kali terjadi kontroversi setiap kali itu juga ditendang. Itu adalah proses pendewasaan, jadi tidak tepat kalau menarik buku itu,” ujar Anhar.

Sebelumnya, Kejagung meminta keluarga untuk mengajukan keberatan secara resmi atas pengungkapan bahwa Adam Malik adalah agen CIA. Setelah ada pelaporan,aparat akan melakukan tindakan sesuai jalur hukum. Menurut Anhar, kebijakan Kejagung itu tidak tepat.

“Nggak bisa. Biarkan keluarga ajukan protes, tapi harus dalam kerangka pendewasaan. Kalau itu bener (Adam Malik agen CIA), Anda mau ngomong apa,” tanya Anhar.

Langkah tepat yang harus diambil oleh keluarga atau pun pihak penerbit, menurut Anhar, adalah harus dilakukan dialog, dalam bentuk bedah buku atau sejenisnya. “Makanya kita dialog apakah benar atau tidak. Pihak penerbit harusnya mendiskusikan tentang buku ini,” pungkasnya.

Tim Weiner yang pernah meraih hadiah Pulitzer menulis “Membongkar Kegagalan CIA” berdasarkan 50.000 arsip CIA dan wawancara mendalam dengan ratusan veteran CIA. Plus pengakuan sepuluh orang direktur CIA. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini sudah dipasarkan sejak dua bulan yang lalu.

Adam Malik disebut sebagai agen CIA oleh perwira CIA, Clyde McAvoy. “Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik,” ujar McAvoy.
(anw/nrl)

sumber : detiknews.com

Software

Berikut daftar software yang bisa didownload :
Untuk mendownload silahkan klik pada software yang akan didownload.

01. Software Muslim :

01. Al Qur’an Digital
02. Al Qur’an In Word
03. Salaat Time
04. Qur’an Auto Reciter
05. Al Qur’an 3 Dimensi
06. Athan (Azan) Basic 3.4
07. Shollu 3.08.2

02. Anti Virus

01. Bitdefender Total Security v7831
02. Eset NOD 32 Smart Security 3.0.645.0 Full + 67 year updates
03. avast! Professional Edition 4.8.1296
04. Symantec Endpoint Protection v11.0.4000 MR4 Retail-ZWT
05. Ashampoo Antivirus 1.50
06. AVG Anti-Virus Pro Plus Firewall v8.0.164
07. Panda Antivirus Pro 2009 8.0

Ebook

Berikut daftar ebook yang bisa didownload :
Ebook kebanyakan dalam format pdf, untuk mendownload silahkan klik pada judul ebook yang akan didownload.

01. Ebook Muslim

01. Mahkota Sufi ~ Idries Shah
02. Kimia Kebahagiaan ~ Imam Ghazali
03. Riyadus Shalihin ~ Imam Nawawi
04. Riyadus Shalihin II ~ Imam Nawawi
05. Bulughul Maram ~ Ibnu Hajar Al ‘Asqolani
06. Kenalilah Aqidahmu ~ Munzir Al Musawa
07. Kitab Al Hikam ~ Ibnu Athaillah
08. Cara Praktis Menghafal Qur’an ~ Dr. Abdul Muhsin Al Qasim
09. Jalan Terindah ~ Imam Sutrisno

02. Ebook Motivasi

01. Sukses Tanpa Gelar ~ Andreas Harefa
02. Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya ? ~ Safir Senduk
03. Siasat Bisnis ~ Hermawan Kartajaya
04. The Seven Habits of Highly Effective People ~ Stephen R. Covey
05. How To Win Friends And Influence People ~ Dale Carnegie
06. The Science of Getting Rich ~ Wallace D. Wattles
07. You Can Win ~ Shiv Khera

Cara berlangganan artikel

Untuk berlangganan artikel kangtris.com, sehingga memungkinkan anda dapat menerima update artikel yang saya tulis, dengan cara :

Berlangganan melalui RSS Feed

Berlangganan melalui RSS Feed, bisa anda lakukan dengan mengklik menu berikut (di sebelah kanan atas )

Atau menu berikut ( di sebelah kanan bawah )

Setelah mengklik salah satu dari menu diatas, maka anda akan dibawah ke menu berikut :



Kemudian silahkan pilih ke tempat yang anda kehendaki, misalnya My Yahoo anda.

Berlangganan melalui Email

Berlangganan melalui alamat email, bisa anda lakukan dengan mengklik menu navbar di atas blog, seperti menu berikut :

atau mengklik menu berikut ( paling bawah blog sebelah kanan )

Setelah mengklik salah satu menu diatas, maka anda akan dibawah ke halaman berikut :

Isi alamat email anda dengan benar dan lengkap di fom setelah tulisan ”Your email address:”, kemudian isi kode yang tertera dalam box (pastikan isian benar) kemudian klik ”Complete Subscription Request”, hingga anda dibawa ke menu berikut :

Kemudian, buka email anda untuk melakukan aktivasi permintaan berlangganan. Silahkan cari di inbox ( bila tidak ada cari di kotak sampah / bulk ) sebuah email dari ”FeedBurner Email Subscriptions” dengan subyek ” Activate your Email Subscription to: kangtris bLog”, setelah ketemu buka email tersebut, kemudian klik kode link untuk aktivasi seperti berikut

Setelah mengklik, link aktivasi maka proses anda sudah selesai, dan akan menerima email setiap saya mengupdate blog.

Selain cara tersebut diatas, andapun bisa melakukan pendaftaran update artikel via email, dengan mengisi langsung alamat email seperti dalam menu dibawah ini ( terletak di kanan atas )

Silahkan isi alamat lengkap email anda, di kotak tersebut. Setelah mengisi alamat email anda, ikuti langkah – langkah berikutnya seperti memasukkan kode, aktivasi lewat email seperti langkah diatas.

Terima kasih.

Muadz pun Menangis

Ibnu Mubarak menceritakan bahwa Khalid bin Ma’dan berkata kepada Mu’adz, “Mohon Tuan ceritakan hadits Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam yang Tuan hafal dan yang Tuan anggap paling berkesan. Hadits manakah menurut Tuan? Jawab Mu’adz, “Baiklah, akan kuceritakan.”

Selanjutnya, sebelum bercerita, beliau pun menangis. Beliau berkata, “Hmm, Betapa rindunya diriku pada Rasulullah, ingin rasanya diriku segera bertemu dengan beliau.”

Kata beliau selanjutnya, “Tatkala aku menghadap Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, beliau menunggang unta dan menyuruhku agar naik di belakang beliau.
Kemudian berangkatlah kami dengan berkendaraan unta itu. Selanjutnya beliau menengadah ke langit dan bersabda:
Puji syukur ke hadirat Allah Yang Berkehendak atas makhluk-Nya, ya Mu’adz!
Jawabku, “Ya Sayyidi l-Mursalin”

Beliau kemudian berkata, ‘Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu. Apabila engkau menghafalnya, cerita itu akan sangat berguna bagimu. Tetapi jika kau menganggapnya remeh, maka kelak di hadapan Allah, engkau pun tidak akan mempunyai hujjah (argumen).

Hai Mu’adz! Sebelum menciptakan langit dan bumi, Allah telah menciptakan tujuh malaikat. Pada setiap langit terdapat seorang malaikat penjaga pintunya. Setiap pintu langit dijaga oleh seorang malaikat, menurut derajat pintu itu dan keagungannya. Dengan demikian, malaikat pula-lah yang memelihara amal si hamba. Suatu saat sang Malaikat pencatat membawa amalan sang hamba ke langit dengan kemilau cahaya bak matahari. Sesampainya pada langit tingkat pertama, malaikat Hafadzah memuji amalan-amalan itu.

Tetapi setibanya pada pintu langit pertama, malaikat penjaga berkata kepada malaikat Hafadzah:
“Tamparkan amal ini ke muka pemiliknya. Aku adalah penjaga orang-orang yang suka mengumpat. Aku diperintahkan agar menolak amalan orang yang suka mengumpat. Aku tidak mengizinkan ia melewatiku untuk mencapai langit berikutnya!”
Keesokan harinya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal shaleh yang berkilau, yang menurut malaikat Hafadzah sangat banyak dan terpuji.

Sesampainya di langit kedua (ia lolos dari langit pertama, sebab pemiliknya bukan pengumpat), penjaga langit kedua berkata, “Berhenti, dan tamparkan amalan itu ke muka pemiliknya. Sebab ia beramal dengan mengharap dunia. Allah memerintahkan aku agar amalan ini tidak sampai ke langit berikutnya.”

Maka para malaikat pun melaknat orang itu.
Di hari berikutnya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amalan seorang hamba yang sangat memuaskan, penuh sedekah, puasa, dan berbagai kebaikan, yang oleh malaikat Hafadzah dianggap sangat mulia dan terpuji. Sesampainya di langit ketiga, malaikat penjaga berkata:

“Berhenti! Tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku malaikat penjaga kibr (sombong). Allah memerintahkanku agar amalan semacam ini tidak pintuku dan tidak sampai pada langit berikutnya. Itu karena salahnya sendiri, ia takabbur di dalam majlis.”

Singkat kata, malaikat Hafadzah pun naik ke langit membawa amal hamba lainnya. Amalan itu bersifat bak bintang kejora, mengeluarkan suara gemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, ibadah haji, dan umrah. Sesampainya pada langit keempat, malaikat penjaga langit berkata:

“Berhenti! Popokkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat penjaga ‘ujub (rasa bangga terhadap kehebatan diri sendiri) . Allah memerintahkanku agar amal ini tidak melewatiku. Sebab amalnya selalu disertai ‘ujub.”
Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal hamba yang lain. Amalan itu sangat baik dan mulia, jihad, ibadah haji, ibadah umrah, sehingga berkilauan bak matahari. Sesampainya pada langit kelima, malaikat penjaga mengatakan:
“Aku malaikat penjaga sifat hasud(dengki). Meskipun amalannya bagus, tetapi ia suka hasud kepada orang lain yang mendapat kenikmatan Allah swt. Berarti ia membenci yang meridhai, yakni Allah. Aku diperintahkan Allah agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku.”

Lagi, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal seorang hamba. Ia membawa amalan berupa wudhu’ yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah. Sesampai di langit keenam, malaikat penjaga berkata:
“Aku malaikat penjaga rahmat. Amal yang kelihatan bagus ini tamparkan ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain, bahkan apabila ada orang ditimpa musibah ia merasa senang. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku, dan agar tidak sampai ke langit berikutnya.”

Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit. Dan kali ini adalah langit ke tujuh. Ia membawa amalan yang tak kalah baik dari yang lalu. Seperti sedekah, puasa, shalat, jihad, dan wara’. Suaranya pun menggeledek bagaikan petir menyambar-nyambar, cahayanya bak kilat. Tetapi sesampai pada langit ke tujuh, malaikat penjaga berkata:
“Aku malaikat penjaga sum’at (sifat ingin terkenal). Sesungguhnya pemilik amal ini menginginkan ketenaran dalam setiap perkumpulan, menginginkan derajat tinggi di kala berkumpul dengan kawan sebaya, ingin mendapatkan pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar amal ini tidak melewatiku dan sampai kepada yang lain. Sebab ibadah yang tidak karena Allah adalah riya. Allah tidak menerima ibadah orang-orang yang riya.”

Kemudian malaikat Hafadzah naik lagi ke langit membawa amal dan ibadah seorang hamba berupa shalat, puasa, haji, umrah, ahlak mulia, pendiam, suka berdzikir kepada Allah. Dengan diiringi para malaikat, malaikat Hafadzah sampai ke langit ketujuh hingga menembus hijab-hijab (tabir) dan sampailah di hadapan Allah. Para malaikat itu berdiri di hadapan Allah. Semua malaikat menyaksikan amal ibadah itu shahih, dan diikhlaskan karena Allah.

Kemudian Allah berfirman:
“Hai Hafadzah, malaikat pencatat amal hamba-Ku, Aku-lah Yang Mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk Aku, tatapi diperuntukkan bagi selain Aku, bukan diniatkan dan diikhlaskan untuk- Ku. Aku lebih mengetahui daripada kalian. Aku laknat mereka yang telah menipu orang lain dan juga menipu kalian (para malaikat Hafadzah). Tetapi Aku tidak tertipu olehnya. Aku-lah Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib. Aku mengetahui segala isi hatinya, dan yang samar tidaklah samar bagi-Ku. Setiap yang tersembunyi tidaklah tersembunyi bagi-Ku. Pengetahuan-Ku atas segala sesuatu yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku atas segala sesuatu yang belum terjadi. Pengetahuan-Ku atas segala sesuatu yang telah lewat sama dengan yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas segala yang telah lewat sama dengan yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas orang-orang terdahulu sama dengan pengetahuan-Ku atas orang-orang kemudian.
Aku lebih mengetahui atas sesuatu yang samar dan rahasia. Bagaimana hamba-Ku dapat menipu dengan amalnya. Mereka mungkin dapat menipu sesama makhluk, tetapi Aku Yang Mengetahui hal-hal yang gaib. Aku tetap melaknatnya…!”

Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat berkata, “Ya Tuhan, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka.”
Kemudian semua yang berada di langit mengucapkan, “Tetaplah laknat Allah kepadanya, dan laknatnya orang-orang yang melaknat.”‘

Sayyidina Mu’adz (yang meriwayatkan hadits ini) kemudian menangis tersedu-sedu. Selanjutnya berkata, “Ya Rasulallah, bagaimana aku bisa selamat dari semua yang baru engkau ceritakan itu?”
Jawab Rasulullah, “Hai Mu’adz, ikutilah Nabimu dalam masalah keyakinan.”
Tanyaku (Mu’adz), “Engkau adalah Rasulullah, sedang aku hanyalah Mu’adz bin Jabal. Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”

Berkatalah Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, “Memang begitulah, bila ada kelengahan dalam amal ibadahmu. Karena itu, jagalah mulutmu jangan sampai menjelekkan orang lain, terutama kepada sesama ulama. Ingatlah diri sendiri tatkala hendak menjelekkan orang lain, sehingga sadar bahwa dirimu pun penuh aib. Jangan menutupi kekurangan dan kesalahanmu dengan menjelekkan orang lain. Janganlah mengorbitkan dirimu dengan menekan dan menjatuhkan orang lain. Jangan riya dalam beramal, dan jangan mementingkan dunia dengan mengabaikan akhirat. Jangan bersikap kasar di dalam majlis agar orang takut dengan keburukan akhlakmu. Jangan suka mengungkit-ungkit kebaikan, dan jangan menghancurkan pribadi orang lain, kelak engkau akan dirobek-robek dan dihancurkan anjing Jahannam, sebagaiman firman Allah dalam surat An-Naziat ayat 2.”

Tanyaku selanjutnya, “Ya Rasulallah, siapakah yang bakal menanggung penderitaan seberat itu?”
Jawab Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam, “Mu’adz, yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah. Engkau harus mencintai orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu. Dan bencilah terhadap suatu hal sebagaimana kau benci bila itu menimpa dirimu. Jika demikian engkau akan selamat.”
Khalid bin Ma’dan meriwayatkan, “Sayyidina Mu’adz sering membaca hadits ini seperti seringnya membaca Al-Qur’an, dan mempelajari hadits ini sebagaimana mempelajari Al-Qur’an di dalam majlis.”

Sumber: Al Ghazali, Minhajul Abidin, dan Bidayatul Hidayah

Sabar Menahan Amarah

Berikut ini adalah kisah seorang yang berkonsultasi dengan Al Harits Al Muhasibi, karena tidak bisa sabar menahan amarah karena hal – hal yang sepele.

”Aku tidak kuat menahan amarah ketika dicela dan disakiti.” kata si sakit. ”Engkau sulit menahan marah dan mudah membalas, sebab engkau menganggap bahwa menahan marah itu adalah perbuatan hina dan keserampangan sebagai kerhormatan.”kata Al Muhasibi.

”Lalu dengan apa aku dapat menahan amarah yang besar ?” kata si sakit. ”Dengan kesabaran jiwa dan menahan anggota badan.” jawab Al Muhasibi. ”Dengan apa aku bisa mendapatkan kesabaran jiwa dan mengekang anggota badan?” tanya si sakit. ” Dengan mengetahui dan menyadari bahwa menahan marah itu adalah kemuliaan dan keindahan sedangkan keserampangan adalah kehinaan dan corengan.” jawab Al Muhasibi.

”Bagaimana aku dapat menyadari itu sementara dalam hatiku telah bercokol lawannya ? Dan bagaimana pula aku dapat menyadarinya sementara dalam diriku telah timbul suatu perasaan bahwa jika aku tidak membalas, aku merasa terhina di hadapan orang yang memarahiku ? selain itu, dalam hatiku timbul perasaan bahwa orang yang memarahiku adalah telah menginjak-injak harga diriku, dan jika aku tidak membalasnya, aku merasa dianggap sangat lemah dan tidak berdaya ?” tanya si sakit.

”Hatimu terus menerus memiliki perasaaan seperti itu, karena engkau tidak mengetahui bentuk lahir keburukan sikap seseorang yang suka marah. Selain itu engkau tidak mengetahui rahasia menahan marah dan keagungan pahala dari Allah swt. Untukmu di akhirat kelak.” jawab Al Muhasibi.

”Bagaimana caranya supaya aku mengetahui kedua hal tersebut (rahasia menahan marah dan pahala agung) ?” tanya si sakit.

”Adapun keburukan dari suka marah dan tidak bisa menahan marah dapat engkau lihat dari keadaan orang yang memarahi dan mencela dirimu ketika marah dan emosi. Perhatikan roman mukanya, kelopak kedua matanya, warna merah mukanya, pelototan kedua matanya, ketidakelokan penampilannya, kerendahan dirinya dan hilangnya ketenangan dan ketentraman dari dirinya.”

”Engkau melihat dengan jelas keadaan itu dari orang permarah dan tampak nyata oleh setiap orang yang berakal. Jika engkau mendapat ujian dari Allah swt, dengan sikap suka marah, ingatlah pahala yang dijanjikan oleh Allah swt. kepada orang – orang yang menahan marah, yaitu mendapatkan cinta dan pahalanya yang agung. Sesungguhnya sikap suka membalas menimbulkan kegelisahan dan akibat buruk yang akan terus abadi sampai di akhiratmu. Sedangkan menahan marah menimbulkan ketenangan dan dapat menabung pahala Allah swt. di akhirat kelak.”

”Tidaklah pantas seseorang yang berakal rela atas kehinaan dari akibat dirinya suka dengan kepuasan sekejap, seperti ia marah – marah hanya karena satu perkataan saja, bertindak melampaui batas, sedang anggota badannya tak terkendali, padahal perkataan tersebut tidak mengharuskan si pengucapnya untuk dimarahi. Dan orang yang mendengarnyapun tidak akan rugi, baik secara keagamaan ataupun keduniaan, bahkan sebenarnya si pengucap itu mesti disayangi, karena ia telah menjatuhkan harga diri dan martabatnya serta masuk ke dalam kehinaan. Sementara bagi yang dimarahi dan dihina, haruslah bersyukur sebab ia sesungguhnya tidak dijatuhkan martabatnya, tidak seperti yang menghinanya.” jawab Al Muhasibi.

Demikian semoga menjadi bahan renungan.

Diambil dari ”Psikoterapi Sufistik: karya Dr. Amir An Najar

Selalu ada Jalan Keluar

Di suatu pagi, mentari tampak meredupkan cahayanya, tak seperti biasanya yang selalu tersenyum lebar dan menebarkan aroma cahaya kecerahan pada setiap insan di muka bumi.

Sementara di sebelah sanapun sang hujan mulai menggoda, mulai melambai-lambaikan godaan awan seolah mengejek sang mentari tuk mulai bersenda gurau, “pagi yang menyejukkan ..” guraunya.

Sang mentaripun tersenyum simpul mendengar ejekan sang hujan, dengan lirihpun berucap, “wangi aroma cahayaku tak sirna oleh lambaian godaan awanmu….”. Sang hujanpun balas mengejek, “bagaimana mungkin engkau tak kan terhalang, sedang aroma cahayamu tak sampai di muka bumi ?”.

Sang mentari dengan tegas menjawab, “wangi aroma cahayaku akan selalu terpancar oleh hati-hati hamba yang beriman, walau mendung awan menyelemuti bumi mereka”. Mendengar jawaban demikian sang hujanpun berujar, “sungguh engkau telah benar !”.

Itulah sepenggal kalimat yang barangkali menjadi sebuah bahan inspirasi, bahwa pada dasarnya sinar cahaya akan selalu benderang menghiasi ruangan – ruangan hati hamba yang beriman. Sang cahaya tak hilang walau diterjang berbagai awan yang melintang, karena sesungguhnya awan itu hanyalah sebuah “sarana penegasan” untuk bisa melihat sang cahaya kembali.

Begitulah, kita hidup di dunia ini, terkadang karena berbagai problema hidup seolah menenggelamkan sumber cahaya abadi yang ada dalam hati ini, padahal justru karena problema hidup itu, “nilai” kita semakin teruji. Bagaimana mungkin kita bisa dibedakan dengan makhluk Allah yang lain, bila kita tidak pernah diuji.

Justru karena ujian, kita “dipaksa” untuk selalu mengasah akal dan fikiran kita. Justru karena ujian, kita selalu dan selalu melihat tanda -tanda kekuasaan Allah. Karena sesungguhnya bagi seorang mu’min “segalanya merupakan kebaikan”.

Dalam sebuah haditspun Rasulullah pernah bersabda, ” Sungguh unik perkara orang mukmin itu ! Semua perkaranya adalah baik. Jika mendapat kebaikan ia bersyukur, maka itu menjadi sebuah kebaikan baginya. Dan jika ditimpa musibah ia bersabar, maka itu juga menjadi sebuah kebaikan baginya. Dan ini hanya akan terjadi pada orang mukmin.”

Terkadang, saat kita mengalami sebuah persoalan ekonomi misalnya, begitu berat gundah gulana melanda fikiran kita, perasaan kita bahkan hati kita terasa kacau balau. Namun sadarkah kita, bahwa seberat apapun masalah yang kita hadapi “pasti” sesuai ukuran yang Allah berikan kepada kita. Ini yang harus senantiasa menjadi sebuah “keyakinan mutlak” dalam diri kita.

Sikap kita terhadap sebuah permasalahan, ternyata lebih penting dibanding masalah itu sendiri. Kita sadar di dunia ini tidak ada satupun manusia yang tidak mempunyai masalah, karena memang karena itulah manusia terlahir ke muka bumi, untuk merampungkan masalah. Melalui sebuah masalah, sungguh-sungguh nilai kita diuji oleh Allah. Akankah karena suatu masalah membawa kita semakin dekat kepada Allah ? atau malah mungkin semakin jauh dari bimbingan Allah ?

Tatkala karena suatu masalah menimpa kita, lalu setahap demi setahap semakin bisa melihat “betapa besar kekuasaan Allah”, maka insya Allah balasan dari Allah lebih besar dari masalah itu sendiri. Namun jika kita semakin membawa diri kepada sebuah kemalasan, kejenuhan, hilangnya motivasi diri…. jangan-jangan kita terbawa kepada sebuah “tipu daya” dari nafsu kita sendiri, yang pada akhirnya membawa kepada sebuah kesengsaraan hakiki.

Sikap kita bisa “selamat”, tatkala pada titik puncak “keyakinan hakiki” mengatakan bahwa, “tiada daya dan upaya kecuali karena Allah semata”, bukan karena fikiran kita, bukan karena strategi kita, bukan karena kelihaian lobby kita, bukan karena skill kita…. dan bla.. bla …… Tatkala kita “merasa” bisa mengatasi permasalahan namun dalam hati kita, berkata ” karena kemampuan fikiran saya” dan melupakan “pemberi” fikiran kita sendiri… maka sesungguhnya lambat laun tanpa sadar… kita terbawa pada arus “kesombongan diri”..”Na’udzubillah !!!!.

Maka, seandainya saja, kita sudah bisa melihat “rahasia” sebuah masalah, maka sungguh “penglihatan akan keagungan kekuasaan Allah semakin terbuka”. Yang terbuka oleh mata hati ini….. karena hati ini telah bisa melihat, maka pancaran cahayanyapun akan menyinari sang fikiran untuk berfikir lebih jernih… lebih terarah…, juga kan menyinari setiap langkah dan lintasan fikiran kita…. hingga “jalan keluarpun” akan diturunkan oleh “Sang Pemberi Cahaya”.

Dalam do’a Ibnu Athaillah, disebutkan, “Inilah aku mendekat pada-Mu dengan perantara kefakiranku (kebutuhanku) kepada-Mu, Dan bagaimana aku akan dapat berperantara kepada-Mu, dengan sesuatu yang mustahil akan dapat sampai kepada-Mu (yakni tidak ada perantara kepada Allah dengan sesuatu selain Allah). Dan bagaimana aku akan menyampaikan kepada-Mu keadaanku, padahal tidak tersembunyi daripada-Mu. Dan bagaimana akan saya jelaskan pada-Mu halku, sedang kata-kata itu pula daripada-Mu dan kembali kepada-Mu. Atau bagaimana akan kecewa harapanku, padahal telah datang menghadap kepada-Mu. Atau bagaimana tidak akan menjadi baik keadaanku, sedang ia berasal daripada-Mu dan kembali pula kepada-Mu.”