Tasbih sang nenek ; cahaya di awal tahun

Sekitar jam 18.30 malam tanggal 31 Desember 2008, selepas maghrib saya berangkat dari Bandung, hendak menuju Rembang, untuk rencana bersilaturahim dengan keluarga di sana. Kebetulan untuk kali ini saya berangkat sendirian, karena keluarga kebetulan sudah mendahului pergi ke sana, sedangkan saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, sehingga baru malam ini saya bisa berangkat.

Seperti rutinitas tahun – tahun sebelumnya, sepanjang perjalanan relatif padat karena kebetulan malam tahun baru masehi 2009, sehingga dalam perjalanan dari Sumedang hingga Brebes jalan – jalan diramaikan dengan berbagai konvoi kendaraan. Hingga kurang lebih jam 01.30 dinihari, rasa kantuk mulai menyerang saya, hingga saya masuk ke sebuah SPBU di tegal timur, saya tidak ingat persis, tapi yang jelas sudah mendekati daerah Pemalang.

Ketika mulai memasuki SPBU, saya lihat keadaan sepi, yang parkir justru kebanyakan truk gandeng, saya hanya melihat sebuah kendaraan carry pick up yang sedang parkir. Sambil melihat kanan kiri, sayapun memarkir kendaraan di sebelah kanan carry pick up tersebut. Setelah ambil nafas panjang sebentar, sayapun bergegas menuju tempat wudhu, untuk berwudhu, kemudian menuju kendaraan lagi, dengan niat untuk tidur sesaat karena kantuk begitu terasa.

Namun, sebelum saya masuk ke kendaraan, entah mengapa, saya mendekati seorang nenek yang duduk persis di sebelah kanan tempat parkir kendaraan saya. Terlihat seorang nenek dengan muka telah keriput, berkerudung hitam, berbaju abu- abu, sedang duduk tenang. Sementara di depannya terlihat sebuah bakul, dengan diatasnya terjejer makanan seperti lontong, gorengan, dan sejenisnya. Pada saat itu, situasi benar – benar sepi, mungkin kalau bukan karena rasa kantukpun saya cepat pergi dari tempat ini.

Kembali ke nenek itu, setelah saya mendekat mencoba duduk di sebelah nenek itu, sambil tangan saya memijit – mijit kaki saya, untuk melepas rasa capek. ”sampai jam berapa nek, kalau jualan ?” tanya saya kepada si nenek. ”ya sampai sehabisnya, kadang jam 3, kadang juga lebih.” jawab nenek. ”Tidurnya kapan ?”, tanya saya lagi. ”Sehabis shubuh saya baru tidur.” jawab nenek.

Di tengah rasa capek, dan ngantuk sayapun mencoba menatap sang nenek, ”kasihan sekali”. batin saya. Sayapun memandang ke bawah,sambil termenung, ”di saat hampir sebagian besar orang sedang tidur, si nenek justru terbangun. Di saat seusia ia, kebanyakan orang menikmati masa tuanya, justru ia masih bekerja mencari nafkah.” Lintasan fikiran sayapun terus berkelana, hingga dalam hati berkata, ”alhamdulillah, keluarga saya, bapak saya, ibu saya, ataupun nenek dan kakek saya, tidak ada yang mengalami nasib seperti si nenek ini. Nenek sayapun sudah lanjut usia, namun di usia yang sudah senja, aktifitas hariannya hanya duduk, nimang cucu, serta nunggu saat sholat tiba, karena kebetulan rumah di komplek masjid.”

Saat lintasan diatas terus berkelana, sebagai ungkapan rasa syukur, justru saya jadi teringat cerita seorang wali Allah, Syeikh Sariy as Saqathy yang pernah berkata, ”Tiga puluh tahun aku beristighfar memohon ampun Allah atas ucapanku sekali, Alhamdulillah”. ”Lho bagaimana itu ?”, tanya seseorang yang mendengarnya. Kemudian syeikh menjelaskan, ”Ada kebakaran di kota Baghdad, lalu ada orang yang datang menemuiku dan mengabarkan bahwa tokoku selamat tidak ikut terbakar. Aku waktu itu spontan mengucap, ”Alhamdulillah!”, maka ucapan itulah yang kusesali selama tiga puluh tahun ini. Aku menyesali sikapku yang hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain.”

Tigapuluh tahun menyesali perbuatannya, dan memohon ampun kepada Allah, hanya karena secara spontan berkata ”Alhamdulillah”, sebagai refleksi atas keegoisan diri, di tengah – tengah penderitaan lingkungan. Sayapun jadi malu, jangan – jangan ”rasa syukur” saya hanyalah ”luapan egoisme diri belaka”.

Dan ternyata, rasa malu sayapun tak berhenti disitu. Setelah agak lama terdiam di tengah lintasan fikiran saya, sang nenek berkata, ”Saya jualan ini, karena dengan jualan makanan seperti ini, saya bisa berharap dapat pahala, karena saya telah menjual makanan, yang dengan makanan ini, orang mempunyai tenaga, dengan tenaga itu seseorang bisa beribadah. Selain itu, sambil menunggu orang yang beli, sayapun bisa sambil bertasbih seperti yang diajarkan guru ngaji di mushola kampung saya.”

Astaghfirullah…., diam – diam bergolak batin saya, ternyata nenek yang saya hadapi adalah laksana malaikat yang sedang mengingatkan kelalaian saya. Tak terasa air mata inipun meleleh, rasa kantuk yang tadinya melanda hilang seketika. Saat tertatih tatih rasa malu saya, sayapun mohon ijin kepada si nenek, untuk pergi ke mushola untuk sholat. Setelah sholat sayapun bersimpuh ke Illahi Rabbi, sambil terisak…. atas kelalaian yang terlintas di benak saya.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *