Sudahkah kita benar – benar berkurban ?

Kurang lebih jam 9 malam, perjalanan saya dan keluarga telah sampai di Limbangan Garut menuju Nagreg. Selama perjalanan dari Purbalingga sampai Limbangan jalanan sebenarnya relatif lancar. Di sepanjang perjalanan sesekali hujan gerimis mengguyur jalanan.

Ketika jam 9 malam, sampai di Limbangan, keliatan dari kejauhan kendaraan berbaris merapat, ”jalan macet nih..” gumanku. Dan memang bener di Limbangan terjebak kemacetan sekitar 1 sampai 2 jam. Seperti biasa, saya coba bergantian mengemudi, untuk sedikit mengurangi kepenatan.

Saat sedang mencoba ”menikmati” kemacetan, tiba – tiba di sebelah kanan sebuah kendaraan sedan, kebetulan berplat ”B” melaju kencang ke depan, tampaknya si pengemudi tidak mempedulikan bahwa, jajaran sebelah kirinya sudah mengantri sejak lama.

Sayapun tersenyum saja, melihat kendaraan itu, dan memang kejadian seperti itu, sering kita lihat. Namun yang membuat saya lebih tersenyum lagi, samar-samar terlihat kendaraan yang tadi berjalan di sebelah kanan saya, tiba – tiba mundur teratur. Saya lihat ternyata mobil tersebut dipaksa mundur, oleh bis yang kebetulan lewat ke arah kebalikan. Di sebelah saya celetuk, ”kapok lu…”.

Setelah kejadian itu, sayapun termangu – mangu. Saat sedang menerawang jauh mendengarkan sebuah alunan lagu dari sebuah radio, mendadak dikagetkan dari sebelah kiri menyerodok sebuah kendaraan dari sebelah kiri, dan yang membuat terkaget – kaget ternyata kendaraan tersebut.. adalah kendaraan yang tadi dipaksa mundur oleh bis, karena menerobos dari arah kanan.

”Weh … benar – benar nekat”, batin saya.

Coba kita renungkan, andai saja pengendara tadi barusan pulang ke kampung, kemudian di kampungnya melakukan qurban… apa yang menjadi persepsi keluarga ? tetangga ? hampir – hampir bisa dikatakan, ”orang ini cukup baik, mau mensyukuri hartanya dengan berqurban”.

Ketika ia telah berhasil mengeluarkan sebagian hartanya, untuk ”berqurban”, namun ia belum berhasil ”mengeluarkan egonya, mengendalikan nafsunya… untuk tertib di jalan”, bahkan yang terjadi ”ia telah mengorbankan orang lain, demi kepuasan nafsunya sendiri”.

Jadi, pertanyaannya,”benarkah orang ini bisa berkorban ?”. Namun yang menjadi pertanyaan lagi, bukan hanya orang ini ? namun bisa jadi kita ? … saya ? atau mungkin anda sendiri ? …..

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *