Seribu keistimewaan

Suatu sore sehabis maghrib, terlihat seorang berusia empat puluhan tahun datang berkunjung ke tempat Kyai Ilyas. Orang itu berpakaian sederhana, berperawakan sedikit kerempeng, memakai baju koko hijau, dan berkain sarung, terlihat kopiah hitam menempel di kepalanya. Itulah ustadz Ahmad yang datang dari kampung sebelah bersilaturahim ke tempat Kyai Ilyas.

Setelah bercengkerama tentang keadaan keluarga, ustadz Ahmad mulai bercerita kepada Kyai Ilyas. ”Begini rama kyai, kemarin waktu hari jum’atan di masjid tempat saya biasa mengajar, ada seseorang yang begitu mengagumkan, rama kyai…” ungkap ustadz Ahmad mulai bercerita. ”Mengagumkan gimana…?” tanya Kyai Ilyas.

”Ada seseorang namanya Parmin, ia sebenarnya orang biasa yang pekerjaan sehari-hari asalnya tukang ngarit (pencari rumput) membuat kami semua terkesima. Tiga bulan ia pergi entah kemana, sekitar seminggu ini ia pulang kampung. Pada saat kencleng (kaleng/tempat infak di masjid) dikelilingkan, dan pas sampai ke dia, ia tiba-tiba mengeluarkan dari saku bajunya uang satu juta, terus dimasukkan ke kencleng sebagai infak.” ”Lo…apa hebatnya ?”, sergah kyai Ilyas.

”Begini rama kyai …..pertama, uang sebanyak itu di tempat saya bukanlah uang yang sedikit, apalagi mau menginfakkan, apatah lagi yang menginfakkan itu seorang Parmin yang dulunya tukang ngarit. Kedua, uang yang diinfakkan itu adalah uang yang tiba-tiba muncul di saku Parmin, karena orang – orang yang di sekelilingnya juga melihat, awalnya di saku Parmin kelihatan tidak ada uang sama sekali, apa itu namanya tidak hebat rama kyai ?” begitu cerita ustadz Ahmad.

Mendengar penuturan ustadz Ahmad, Kyai Ilyas menghela nafas panjang.

”Udah cuma itu saja ?” tanya Kyai Ilyas
”Belum….rama kyai…”, jawab ustadz Ahmad, dengan sedikit tersenyum. ”Setelah selesai sholat jum’at, iapun membagi-bagikan uang kepada beberapa orang temennya yang dulu sama-sama tukang ngarit, dan orang – orang yang memang tidak mampu, dan uang yang dibagi-bagikan itupun uang yang tiba-tiba ada di kantong sakunya.”

”O…begitu saja to….” sergah Kyai Ilyas.

”Belum selesai, rama kyai….” sergah ustadz Ahmad sambil sedikit tertawa. ”Sekarang rumahnya Parmin, ramai didatangi orang. Awalnya yang datang memang minta dibantu urusan hutang piutang, kemudian ada juga yang datang karena anaknya ada yang sakit..minta obat, dan sekarang ramai-ramai pemuda di kampung situ minta diajari ilmu kebal.” ungkap ustadz Ahmad dengan berapi-api.

Setelah mendengar cerita ustadz Ahmad, Kyai Ilyaspun terdiam. Melihat kyai Ilyas diam, ustadz Ahmadpun ikut terdiam. Agak lama mereka berdiam, sementara dari dalam masjid di pesantren itu, sayup – sayup terdengar seorang santri sedang tadarus Al Qur’an.

Sesekali, terlihat ustadz Ahmad mengambil teh poci yang sudah terhidang dari tadi di meja tamu.

”Begini……..”, tiba – tiba Kyai Ilyas mulai berbicara.

Suatu ketika, Syeikh Abu Yazid al-Bisthamy pernah didatangi muridnya, yang melaporkan karomah dan kehebatan seseorang.

“Dia bisa menyelam di lautan dalam waktu cukup lama…”
“Saya lebih kagum pada paus di lautan…”
“Dia bisa terbang…!” kata muridnya.
“Saya lebih heran, burung kecil terbang seharian…karena kondisinya memang demikian,” jawabnya.
“Lhah, dia ini bisa sekejap ke Mekkah…”
“Saya lebih heran pada Iblis sekejap bisa mengelilingi dunia…Namun dilaknat oleh Allah.”

Kyai Ilyaspun, kemudian berkata lagi,

“Yang mengagumkan bukannya orang yang memasukkan tangan ke kantong sakunya, lalu menafkahkan apa saja dari kantong itu. Yang mengagumkan adalah orang yang memasukkan tangannya ke kantong sakunya karena merasa ada sesuatu yang disimpan di sana. Begitu ia masukkan tangannya ke sakunya, sesuatu itu tidak ada, namun dirinya tidak berubah (terkejut) sama sekali.”

Jadi karomah itu sesungguhnya hanyalah cara Allah memberikan pelajaran kepada yang diberi karomah agar perjalanan ruhaninya tidak berhenti, sehingga semakin menanjak, semakin naik, bukan untuk menunjukkan keistimewaanya.

Yang istimewa adalah istiqomah sebab istiqomah itu lebih hebat dibanding seribu karomah, dan memang, hakikat karomah adalah istiqomah itu sendiri.

Mendengar ungkapan Kyai Ilyas, ustadz Ahmad hanya menunduk, dari bibirnya hanya lirih sebuah ucapan….astagfirullahhal’adzim….. Ia mulai merasa malu terhadap sikap kekagumannya terhadap Parmin.

Wallahu’alam.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *