Menuju Haji Mabrur, Menuju Kubur

Menjadi haji yang mabrur, merupakan tujuan semua jamaah haji kita, namun mungkin karena terlalu husnudzon penjelasan tentang haji mabrur itu sendiri terasa porsinya lebih sedikit dibanding yang lain, bimbingan manasik hajipun lebih ke arah langkah – langkah proses haji itu sindiri. Berikut sengaja saya kutipkan tulisan dari Bapak KH. Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah. Tulisan berikut saya kutip dari grup sufinews.

Bagi mereka yang akan menunaikan ibadah haji, ada anjuran yang sampai sekarang oleh banyak orang masih diturut meski tidak terlalu ketat. Disamping -atau bersamaan dengan-acara pamit-pamit, calon haji dianjurkan untuk meminta maaf atas segala kesalahan dan meminta halal bila ada hak-hak adami orang lain yang mungkin katut.
Biasanya karena masalah teknis dan waktu, calon jamaah haji mengambil praktisnya; mengundang sanak famili, kenalan dan tetangga dalam acara pamitan sekaligus tasyakuran, yang sengaja diselenggarakan di rumah.

Dalam acara semacam itu, umumnya si calon haji tidak bicara sendiri, tapi mewakilkan kepada seseorang untuk pamitan dan meminta maaf dari para undangan yang hadir. Galibnya sang wakil ini mirip pidato wakil shahibul musibah, ketika mewakili ahli waris dalam acara pelepasan jenazah. Bahkan pada saat pelepasan calon haji, biasanya juga diadakan azan segala. Pendek kata, ada banyak kemiripan antara acara pelepasan calon haji ke Baitullah dengan pelepasan jenazah ke kubur, termasuk suasana yang haru biru.

Untuk pergi haji, berbeda dengan pergi ke tempat-tempat lain, diperlukan persiapan-persiapan khusus yang cukup menyibukkan calon haji yang bersangkutan. Disamping urusan ini-itu, calon haji juga mempersiapkan tetek-bengek perlengkapan dan bekal, termasuk kain putih pembungkus dirinya saat ihram kelak. Lalu pasrah-pasrahan kepada yang ditinggalkan.

Untuk ongkos perjalanan sendiri, calon haji harus menyetor uang jutaan rupiah, meskipun banyak calon haji yang tidak tahu persis perincian ongkos yang jutaan itu (sudah begitu saja kadang-kadang tidak jadi berangkat) di samping banyak komponen untuk transportasi dan akomodasi, misalnya banyak yang tidak tahu bahwa ada komponen yang namanya living cost; paling-paling tahunya nanti di pondok gede dibagi amplop berisi uang reyal Saudi.

Dari sekian ribu calon jamaah haji kita (yang dari jawa saja misalnya), barang kali masih banyak sekali yang belum pernah menginjak bumi Jakarta atau Surabaya , bahkan mungkin Semarang. Jadi bisa dibayangkan nunuk-nunuk -nya mereka disana. Mereka yang sudah ‘pengalaman’ saja, sering kali masih mengalami kasus salah jalan atau tersesat.
Juga dalam hal pelaksanaan ibadat hajinya sendiri, meski sudah ditatar-bahkan banyak yang masih mengguru lagi kepada kiai atau ustad-umumnya masih ada saja penyesalan-penyesalan, karena merasa belum pas benar pelaksanaan ibadatnya. Ini barangkali termasuk salah satu faktor penting yang menyebabkan setiap haji masih terus ingin kembali naik haji lagi dan lagi.

Demikianlah, maka kelancaran perjalanan haji dan kemabrurannya banyak tergantung kepada persiapan dan persiapan calon haji yang bersangkutan diperlukan bekal yang cukup, pengertian seluk-beluk ibadatnya sendiri dan pengenalan terhadap lika-liku perjalananya, juga tidak kalah pentingnya adalah noto ati, niat yang benar lillah.
Syahdan, memang seringkali orang mengibaratkan ibadah haji, khususnya ketika wukuf di Padang Arafah, seperti Hari Kebangkitan (dari kubur) kelak. semua. Semua orang dibalut kain putih-putih, dikumpulkan di suatu padang terbuka yang sangat terik untuk dihisab dihadapan sang Maha Hakim. Allah swt. Bahkan konon, setiap jamaah haji ketika di Tanah Suci mengalami hal-hal aneh – baik yang menyenangkan atau menyakitkan-mengingatkan perilaku sebelumnya.

Dengan mempertimbangkan ibarat tersebut atau tidak. kiranya sejak berangkat dari tanah air, orang naik haji memang nyaris seperti atau katakanlah mirip dengan menjalani ‘latihan’ menjadi orang mati yang akan berangkat ke kubur atau akherat. Bedanya, orang naik haji masih diberi kesempatan untuk kembali bagi menyempurnakan lagi amaliah; sedangkan orang banyak yang berangkat ke kubur dan akherat, betapapun inginnya, tak bakal bisa lagi kembali mengulang-perbaki kehidupannya seandainya ‘di sana’ mengalami penyesalan-penyesalan.

Jadi dibanding naik haji, ditinjau dari segi mana pun. jauh dan liku-likunya perjalanan, kerasnya medan dan tantangan yang menghadapi, ditambah faktor kurang atau tidak adanya bekal ‘pengalaman’, pergi menuju kubur dan akhirat tentulah diperlukan kesiapan dan persiapan yang jauh lebih sempurna. kesiapan dan persiapan lahir-batin yang lebih mantap; kendaraan dan bekal yang lebih meyakinkan, termasuk living cost yang lebih banyak sampai tinggalan yang lebih memadai.

Untuk keberangkatan yang ini, kita termasuk daftar tunggu. Nah, sudah siapkah kita?

Menuju kubur….. persiapan yang harus dilakukan seharusnya jauh – jauh lebih banyak…lebih hati – hati…., dibanding persiapan menuju haji.
Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *