Mengapa harus cemberut, bila tersenyum lebih melegakkan ?

Suatu malam, di sebuah serambi masjid terlihat seorang paruh baya tersenyum simpul, sementara disampingnya seorang paruh baya lagi wajahnya cemberut. Terlihat si wajah cemberut berulang kali menanyakan sesuatu, namun lagi – lagi si wajah tersenyum, membalas dengan senyuman. Inilah sebenarnya yang sedang mereka obrolkan antara si wajah tersenyum dengan si wajah cemberut.

”kang, saya harus gimana ya ? menghadapi si Sastro kutu kupret itu. Sewaktu dia susah, saya bimbing dia dalam berbisnis, tiga tahun dengan ikhlas saya ajari dia. Eh, la kok ujung – ujungnya dia rebut konsumen saya, apa nggak sontoloyo” begitu celoteh si wajah cemberut.

Mendengar cerita itu, si wajah tersenyumpun tidak bosan – bosan memberi senyuman sebelum berbicara.

”ikhlas kok, ngomong – ngomong ?” si wajah tersenyum membalas.

“kan, saya manusia biasa..lumrah kan ? saya ngeluh begini…”

”Ya …. yang bilang sampeyan nabi ya siapa ? lumrah ya….tapi yang lumrah belum tentu bener kan ?”

”ya…ya…..terus gimana ?”, tanya si wajah cemberut.

”Sampeyan, ga usah ngedumel dan selalu pasang wajah cemberut….. ga ada untungnya. Dengan cemberut sampeyan malah tambah stress, dan membuat orang yang melihat sampeyan ikut – ikutan stresss..”

”he..he…, jadi sampeyan mau ngasih khotbah ke saya tentang sebuah teori baru ? judulnya ”teori senyuman” begitu ?” tanya si wajah cemberut yang mulai agak tersenyum.

”Suatu hari seorang sahabat mengungkapkan isi hatinya kepada Rasulullah SAW. “Ya Rasulullah, dengan apa dan bagaimana kami harus bershadaqah?”. Lalu apa jawab Rasulullah SAW ? “Inna abwabal khoiri lakatsiirun”. Sesungguhnya pintu−pintu kebaikan itu sungguh amat banyak. Diantaranya mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil (dzikir), amar ma’ruf nahi mungkar, menyingkirkan (duri, batu) dari jalan, menolong orang, sampai memberikan senyuman kepada saudara pun adalah bershadaqah. Jadi, kalau tersenyum merupakan shadaqoh …. mengapa harus cemberut ?”

Mendengar uraian itu, si wajah cemberut sedikit merenung, kemudian bertanya,

”kalo tersenyum merupakan shodaqoh, gimana kalo tersenyum sinis ? tersenyum ngledek ? tersenyum menggoda ?, apalagi yang menggoda cewek ? masak itu shodaqoh ?”

”Sampeyan ya ada – ada saja ….., begini tersenyumlah yang bersumber dari kejujuran, ketulusan hati… bukan sebuah kepura – puraan, dan tipu muslihat….jadi haru dikaji sumber dan tujuan sebuah senyuman…”

”ga paham kang ?” tanya si wajah cemberut.

”tersenyumlah sebagai ungkapan rasa syukur, karena kesulitan apapun yang dihadapi sebenarnya ada hikmahnya, dan bila disyukuri selalu ada hikmah dan bisa jadi, jalan menuju kenaikan derajat.”

”Jadi, saya harus gimana menghadapi Sastro kutu kupret itu ?” tanya si wajah cemberut.

”Mulailah…..dengan tersenyum…..”

Mendengar ungkapan terakhir, si wajah cemberut…. sedikit agak tersenyum…namun sebentar kemudian mulai cemberut lagi.

Sudahkah anda memilih berwajah tersenyum dibanding berwajah cemberut ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *