Memiliki tak selalu berarti menikmati

Dalam sebuah obrolan ringan dalam perjalanan keluar kota, seorang rekan bertanya, “mungkinkah orang-orang yang sudah mapan secara ekonomi, dan dikategorikan kaya hatinya bisa terus bergantung kepada Allah, sedangkan aktivitas lahir keseharian ia begitu sibuk dengan urusan bisnis ?”. Mendengar pertanyaan tersebut, rekan saya yang lain memberikan sebuah komentar, “Secara logika, sulit diterima, karena fikiran ini akan maksimal bila tidak bercabang, bagaimana mungkin hatinya bergantung bersama Allah, sedangkan aktivitas hariannya tidak mendukung ke arah itu.” begitu komentar rekan saya yang lain.

Obrolan itupun belum terhenti, rekan – rekan yang lain saling menambahkan. ”Sebagian orang kaya, justru sadar, bahwa aktivitas mereka bisa memalingkan dari keadaan bersama Allah, makanya diantara mereka ada yang membuat planning, setelah diatas umur 50 tahun, akan berhenti dari aktivitas bisnis kemudian terjun di aktivitas sosial dan keagamaan.” Begitu ungkap yang lain.

Agak lama, sayapun terdiam belum memberikan komentar apapun atas obrolan rekan – rekan ini, namun beberapa lama kemudian, saya teringat kisah seseorang yang protes kepada Syekh Abu Hasan As Syadzili. Sebagaimana kita ketahui Syekh Abu Hasan As Syadzili adalah seorang sufi yang diberi anugerah lahir memiliki kekayaan materi.

Seseorang bertanya kepada syekh, “ Ya Syekh, bagaimana anda bisa begitu jelas tawajuh kepada Alloh terus menerus bersama Alloh sedangkan Anda ini dengan kehidupan yang begitu mewah ?”, begitu pertanyaan seseorang. Mendengar itu, Syekhpun menjawab, “kamu ingin tahu jawabannya ?, kalau begitu mari ikut bersama saya, naik kereta kencana keliling kota, silahkan kamu bawa air didalam gelas ini, syaratnya air ini tidak boleh tumpah dari gelas”. Begitu ungkap syekh.

Setelah selesai keliling kota sampai begitu lama, kemudian turunlah sang syekh dan orang itu, setelah turun syekhpun bertanya, “ bagaiman menurut kamu pemandangan di kota ini, indah kan ?” begitu tanya syekh. Mendengar pertanyaan itu, orang itu menjawab, “ bagaimana saya bisa menikmati keindahan pemandangan kota, sedangkan saya terus menerus berkonsentrasi supaya air di gelas tidak tumpah.” begitu jawabnya. Mendengar jawaban itu, Syekh Abu Hasan As Syadzili berkata, “Begitulah hati saya ditengah kemewahan ini. Tidak sedikitpun saya menikmati kemewahan. Hati saya hanya untuk Alloh.”

Tanpa diduga, tiba – tiba terdengar dering telpon handphone rekan saya, yang bertanya tadi. Sepintas kedengaran telpon dari isterinya, namun yang jelas ia begitu asyik menikmati pembicaraan di telepon itu, hingga wajahnyapun terlihat berbinar-binar. Sedangkan rekan – rekan yang lain kelihatan berhenti membicarakan topik obrolan itu, mereka lebih asyik menikmati pemandangan alam pegunungan yang kebetulan sedang dilewati.

Setelah lebih dari setengah jam, rekan saya yang tadi ngobrol dengan isterinya lewat telepon kemudian berhenti dari telepon, sesaat kemudian ia kelihatan begitu riang gembira, tanpa basa – basi, ia berkata, ” alhamdulillah…. isteri saya hamil….” begitu ia berkata, spontan kemudian seluruh rekan – rekan dan sayapun menyalami ucapan selamat kepadanya.

Tak terasa perjalananpun sudah sampai ke tempat tujuan, ketika sudah turun dari kendaraan, seseorang rekan yang lain menyela, ” jadi gimana nih, jawaban dari pertanyaan tadi tentang ketergantungan kepada Allah, padahal aktivitasnya sibuk dengan urusan bisnis ?”, saya kemudian menjawab, ”sudah terjawab kok, tanya saja sama yang memberi pertanyaan.” begitu jawab saya. Mendengar itu rekan sayapun masih penasaran, kemudian sayapun berkata lirih, ”Tadi ketika ia ditelepon istrinya, ia menikmati indahnya pemandangan alam pegunungan yang kita lihat ga ?” tanya saya. Rekan saya menjawab, ”ia lebih asyik dengan telepon istrinya”, jawabnya. Sayapun berkata, ”nah itu jawabanya…”

Setelah itu, rekan saya terlihat manggut – manggut, dan saya yakin ia telah menemukan jawabannya.

Wallahu a’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *