Membuka ruang hati

Suatu hari seorang teman datang ke tempat saya. Setahu saya, ia memang masih muda namun telah memiliki beberapa usaha yang boleh dibilang cukup mapan. Bisnis yang ia jalankan terlihat cepat berkembang. Dengan dukungan modal yang cukup kuat, fokus dan memiliki networking yang luas, membuat pertumbuhannya kian cepat. Selain itu, ia dikenal cukup luwes dalam bergaul, serta memiliki kelihaian dalam meloby partner bisnisnya.

Hari itu kebetulan hari sabtu, dan seperti biasanya jika hari sabtu dan minggu saya dan keluarga lebih banyak menikmati waktu untuk acara keluarga dengan santai. Setelah ngobrol ngalor ngidul, teman saya inipun mulai bercerita tentang kesuksesan bisnis yang sedang ia jalani. Sayapun hanya mendengarkan dan mengangguk – angguk saja pada saat itu, namun setelah agak lama ia mulai sedikit berbicara dengan intonasi yang berbeda. Kalau tadi sewaktu cerita bisnis ia begitu berapi-api, sekarang jauh dari itu.

”Saya kemarin sempat tidak mau makan 3 hari”, katanya lirih dan sendu. ”hem, hebat banget …., memangnya lagi belajar debus..he..he…” sela saya. Namun ia tidak tergelitik dengan selaan saya, ia terus bercerita. ” Bukan hanya itu, sayapun nggak sholat, males banget rasanya…rasanya putus semua harapan …” begitu ia berceloteh. ”Nah ini gawat…..”kata saya. ”Saya sudah bertahun-tahun pacaran, dan saya serius untuk berumah tangga, tapi ujung-ujungnya setelah sekian lama sekarang putus….. karena orang tuanya tidak setuju…padahal saya sudah terlanjur cinta, sayapun sudah memberikan ia uang bulanan padanya.” katanya kepada saya. ”O…begitu…” kata saya sambil manggut-manggut.

Ketika malam sudah tiba, ia saya ajak makan malam di sebuah rumah makan. Kebetulan pada saat itu ada pertunjukan live music, dan memang saya sengaja bawa ia ke tempat ini supaya agak fresh fikir saya. Sesaat saya lihat iapun ikut lirih bernyanyi terlarut dalam alunan lagu yang sedang mengalun di rumah makan itu. Saya berkata dalam hati, ”hem…sedikit bisa melupakan.”.

Setelah selesai makan malam, kemudian ia saya ajak ke sebuah tempat belanja, Bandung Indah Plaza atau orang – orang sering menyebut BIP. Sudah menjadi rahasia umum, di BIP banyak terlihat cewek – cewek cantik yang sedang berbelanja, atau hanya jalan – jalan saja. Setelah masuk ke BIP, ternyata ga salah yang saya duga, ia berkata, ”bandung emang edun ei…” begitu bisiknya ke saya. Malam itupun berakhir di BIP, kemudian pulang, karena malam sudah semakin larut.

Minggu pagi, setelah jalan – jalan pagi, saya berkata kepadanya, ”mau nggak saya ajak yang lebih edun dibanding yang tadi malam ?”. ”Ayo….”, katanya kepada saya. Kebetulan hari minggu itu saya memang ada jadwal mengikuti sebuah pengajian, dan saya fikir, teman saya ini saya ajak ke pengajian dengan harapan ”pencerahan yang sebenarnya” bisa ia dapatkan.

Ketika sampai di masjid, ia berkata kepada saya, ”mana yang lebih edun ?”. Saya berkata, ”Lha…ini nanti di dalam masjid.”, kata saya. Setelah berkata itu, iapun ikut masuk ke dalam masjid tempat pengajian. Ketika sudah masuk, keliatanya ia sudah mulai mengerti maksud yang sebenarnya dari saya. Kebetulan pada saat itu pengajian membahas tentang indahnya memahami sebuah kegagalan, sebuah kajian kitab Al Hikam karya monumental dari Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary.

Setelah selesai pengajian, dari masjid sampai ke tempat tinggal saya ia diam seribu bahasa. Iapun tidak memprotes saya, karena ”kok yang lebih edun, kayak gini” misalnya.

Setelah hari berganti sore, ia mendekati saya dan mulai berkata, ” setelah saya renungkan memang betul, pengajian tadi lebih edun dari apa yang saya lihat semalam. Kalau tadi malam saya bisa sejenak melupakan masalah saya dengan alunan musik yang indah… dengan melihat cewek-cewek yang cantik….semua itu ternyata hanya sementara…., namun yang jauh lebih bisa menyembuhkan adalah…membuka pintu hati saya, untuk bisa memahami keindahan dibalik sesuatu yang dilihat dari kacamata lahir sebuah kegagalan. Kegagalan ini bisa jadi bentuk kasih sayang Allah kepada saya, supaya saya lebih tekun lagi beribadah….”

Begitu kata-kata terakhir yang ia ucapkan kepada saya hari itu. Sayapun hanya berkata kecil dan lirih,”alhamdulillah, Allah telah menganugerahkan sebuah cahaya pemahaman yang benar dan lurus dari problem yang sedang ia hadapi”.

Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *