Klakson ketidaktahuan

Di sebuah sore, saya keluar lewat pintu tol Pasteur Bandung. Seperti biasa menuju perempatan jalan agak macet, sementara itu di kanan kiri terlihat beberapa orang menawarkan barang dagangannya.

Setelah lampu hijau sayapun jalan kembali melewati perempatan itu, berjalan dan terus berjalan hingga mendekati Mall BTC di Jalan Dr. Djunjunan. Apa yang terjadi ?? Terlihat jalanan mulai macet, sayapun mengambil jalan sebelah kiri, karena prediksi saya kemacetan akibat tempat balik arah di depan BTC, yang dari arah timur mau ambil kanan untuk balik kea rah timur, sementara yang dari arah barat mau balik ke arah barat, jadi memang biasa macet.

Namun sore itu, nampaknya ada hal lain diluar kejadian seperti biasa. Mobil tepat di depan saya, kelihatan membunyikan klakson beberapa kali dengan suara yang agak tinggi, samar – samar terlihat si pengemudi sambil marah – marah, karena mobil depan tidak cepat jalan. Saya agak beruntung agak bisa kekiri, sehingga bisa perlahan jalan sehingga melewati si pengemudi tadi, perlahan – lahan saya bisa sejajar dengan mobil di depan yang berhenti.

Fikiran saya, mobil itu berhenti memang karena menunggu giliran jalan karena banyaknya mobil yang memutar balik, namun apa yang saya lihat ? Ternyata sang pengemudi dengan senyum tulus mempersilahkan seorang nenek sedang tertatih – tatih menyeberang jalan…. hem… ternyata ini yang menyebabkan kenapa mobil berhenti.

Setelah beberapa saya, nenekpun telah menepi ke pinggir jalan, sebentar kemudian si pengemudi yang dibelakang mobil menyalip dengan kencang seolah – olah meluapkan kemarahannya, sepertinya dia tidak mengetahui bahwa mobil di depannya berhenti karena mempersilahkan sang nenek menyeberang.

Astaghfirullah…

Begitulah, kita terkadang menemui kejadian – kejadian yang barangkali sejenis, mirip – mirip dengan peristiwa tadi. ”Kemarahan kita terhadap sesuatu lebih sering karena ketidaktahuan terhadap apa yang sebenarnya terjadi.” Padahal dengan meluapkan kemarahan bukan solusi yang akan kita dapat, bukan ketenangan yang akan kita peroleh, namun menambah beban bagi kita sendiri.

Marah timbul, karena ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu. Kecenderungan mengikuti hawa nafsu hanya akan membawa tidak hanya ketidaknyamanan hidup, namun solusi atas suatu masalah itu sendiri tidak akan diketemukan, apalagi hikmah dari sebuah permasalahan.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *