Ketika beban dunia menghimpitku

Langkah kakiku begitu terasa ngilu. Setiap langkah yang berusaha aku ayunkan, seolah ada yang begitu membebani. Berat nian kaki ini untuk melangkah, untuk berdiripun seolah tak sanggup. Tatapan mata inipun seolah kosong melompong, tanpa cahaya berbinar yang biasa menghias di setiap sorot pandanganku.

Beribu – ribu untaian kalimat motivasi sudah disandingkan di depan tubuhku. Beribu – ribu kalimat inspirasi telah disodorkan di depan pelupuk mataku. Namun, jangankan untuk menelannya, meliriknyapun tak mampu aku lakukan. Hanya desahan nafas, yang masih bisa aku lakukan, hanya rintihan yang tak berkesudahan yang aku luapkan.  

“Ndul…. Bangkit !!! “ 

Detak jantungku seakan copot mendengar gertakan suara nuraniku. 

“Bagaimana bisa, engkau mempertontonkan kegelisahanmu…..” 

“Bagaimana bisa, engkau meninabobokkan kemalasanmu…” 

“Bagaimana bisa, engkau mempublikasikan kerendahan harkatmu….” 

“Sedangkan Gusti Alloh menciptakanmu bukan dengan sia – sia ….. sadarlah Ndul ?” 

Nuraniku, masih mencoba membelaiku dengan gertakan – gertakan penyadarannya. Namun diri inipun tetap tak bergeming. 

“Ingatlah Ndul… begitu tebalkah hijab syetan yang membenam dalam dirimu, hingga kamu tak bergeming ?” 

“Bila engkau turuti hijabmu… aku akan menjauh……, namun mungkinkah ????” 

“Sadarlah Ndul….. kegelisahanmu hanyalah tipuan……” 

 “Kegelisahanmu….hanyalah pedaya syetan……” 

“Relakah dirimu…. Engkau sia – siakan waktumu hanya untuk sebuah tipuan ????” 

Kalimat gertakan nuraniku yang terakhir, menghentakkan kesadaranku….. kaki yang terasa berat, dada yang terasa sesak, seketika tergugah…… relakah waktuku disia-siakan untuk sebuah tipuan ?? 

Namun, belum pulih kesadaranku…..lamunan tipuanpun mulai menyambar kesadaranku… 

“tapi kan bebanku buanyakkkk, hutang melilit….. karyawan ga bisa dipercaya….. proyek terbengkalai….dan sambaran – sambaran sejenisnya, yang berbaju beban dunia keras menghimpitku.”

Terasa linglung tubuh ini, terkena sambaran – sambaran itu… 

Namun, nuranikupun dengan lembut membelaiku. 

“Istirahatkanlah dirimu dari mengatur yang akan terjadi dalam dalam hidup, karena segala sesuatu Allah telah menanggungnya darimu, kamu jangan mengerjakannya untuk dirimu sendiri” 

“Urusanmu sama Gusti Alloh masih banyak yang belum terselesaikan, dibanding urusanmu dengan duniamu” 

Bergantunglah kepada Alloh semata, bukan yang lain.” 

“Himpitan duniamu harusnya membuat lebih bisa bersyukur, karena bisa menyadarkanmu bahwa nikmat dari Alloh tak bisa engkau hitung dengan apapun” 

Kemudian akupun bangkit. 

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *