Kesandung hinaan

Selepas shalat isya, terlihat Somad dan beberapa teman – temannya menuju ke tempat Kang Soleh. Seperti biasa, mereka ngobrol ringan sambil menikmati teh manis dan pisang goreng. Sementara di masjid sebelah rumah Kang Soleh masih terlihat beberapa orang yang sedang mengaji.

Sebentar kemudian, terlihat Kang Soleh ikut nimbrung di tempat ngobrol. Somad yang dari tadi terlihat diam membisu, setelah melihat Kang Somad datang, mulai bicara.

” Saya lagi kesandung nih kang ? ” tanya Somad.

” Kesandung kerikil, Mad ? ” ledek Kang Soleh.

Kesandung hinaan ….” jawab Somad.

” Hem…. kok istilahmu mentereng begitu ……..” jawab Kang Soleh.

” Ya begitu kang, saya kan juga pernah ikut ngaji, kalau orang dihina… kita jangan membalas hinaan itu… justru balaslah dengan yang lebih baik. ” celoteh Somad.

” Lo… kamu udah tahu jawabannya to ? ” balas Kang Soleh.

” Masalahnya disitu kang, bukan saya tidak tahu…. tapi ketika benar – benar dihina, yang timbul justru rasa sakit yang ada…. ujung – ujungnya dendam ingin pamerkan kemampuan saya, bahwa saya tak pantas dihina…..”. Somad menyela.

” He..he… itu masalahnya….” Kang Soleh terkekeh-kekeh.

Sejenak kemudian, Kang Soleh melanjutkan kata – katanya.

Saat Rasululloh SAW dilempari batu, kerikil dan pasir oleh Bani Tsaqif, sampai – sampai kaki beliau berdarah, bahkan berjalanpun merangkak-rangkak. Hingga pada akhirnya sampai di sebuah kebun, datanglah malaikat menawarkan bantuan kepada Rasululloh,

“Jika engkau mau supaya aku melipatkan kedua gunung yang besar ini (Gunung Abu Qubais dan Qa’aiqa’an ) di atas mereka, niscaya akan aku lakukan.” kata malaikat.

Apa jawab Rasululloh SAW ? ternyata justru menolak tawaran malaikat tersebut, justru beliau berkata, ”Aku mengharapkan Alloh akan membangkitkan dari kalangan mereka satu generasi yang akan menyembah Alloh dan tidak menyekutukan Alloh dengan suatu apapun”.

Mendengar ungkapan Kang Soleh, Somadpun masih terdiam terpaku, fikirannya seolah terbawa ke peristiwa yang menimpa Rasululloh SAW.

Sejenak kemudian, Kang Solehpun berkata,

Bersyukurlah masih ada yang menghinamu, karena justru bila dipuji rata – rata kita, terperosok dalam kelalaian dan lupa, dan tanpa sadar terbawa ke arah kesombongan dan keangkuhan.

Mau pilih mana dipuji bisa membawa kesombongan, atau dihina yang sesungguhnya sedang dimuliakan ? Masihkah menganggap hinaan sebagai sandungan ?

Mendengar penuturan Kang Soleh, Somadpun sedikit tersenyum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *