Kemiskian dan kekufuran

Seorang Direktur sebuah perusahaan swasta, terlihat duduk termenung di sebuah kursi mewahnya. Sementara mejanya terlihat banyak berkas menumpuk di sana.

Wajahnya kelihatan lesu, tatapan matanyapun tidak bercahaya, pandangannya kelihatan kosong. Keindahan lukisan pemandangan yang ada di ruanganya, terlihat tidak mampu memberikan kesejukan ke dalam hati sang Direktur. Dinginnya AC yang selalu on di ruangan itupun tidak memberikan dinginnya fikiran sang Direktur.

Kebijakan yang tidak tepat sasaran, in efisiensi di berbagai bidang serta diperparah efek dari krisis global, ternyata membuat perusahaan yang ia pimpin di ambang kehancuran. Kalau dulu, hari – harinya ia habiskan dengan berbagai negosiasi dan meeting dengan partner bisnisnya, dan malamnya disibukkan dengan berbagai agenda entertaint entah di klub malam ataupun karaoke, maka keadaan sekarang mulai berubah total.

Hari – hari yang ia lalui, sekarang adalah deringan telepon dari bagian penagihan bank tempat ia dulu diberi kredit. Kolega – kolega yang dulu ia sering ajak berkaraoke, maupun dientertaint justru sekarang semua menjauh, dan mencibirnya.

Lama sekali ia termenung, hingga suatu saat ia menatap sesuatu yang telah lama ia tinggalkan. Sesuatu yang dulu waktu masih dalam kekurangan selalu ia baca di setiap petang. Bukan hanya itu, iapun mau dan menyempatkan diri mengkaji dan mempelajari lebih mendalam. Yah, itulah Al Qur’an. Di sudut lemari arsipnya terlihat sebuah al Qur’an, iapun perlahan mengambilnya. Iapun membuka lembaran – lembarannya sedikit demi sedikit sambil membacanya dengan lirih dan perlahan.

Selang lima menit kemudian, ia sedikit kelihatan agak tenang kemudian ia tutup Al Quran tersebut. Sesaat ia terlihat menarik nafas panjang, kemudian ia teringat sebuah hadits dari Rasulullah SAW., ”Kemiskinan itu hampir-hampir membawa seseorang itu kepada kekufuran”. Iapun kemudian berkata lirih dalam hatinya, ”kemarin – kemarin saat posisi saya bagus, cashflow perusahaan surplus, setiap akhir tahun berhasil mencetak profit yang mencengangkan….saya terjerembab dalam sebuah komunitas maksiat. Kemudian waktu terus berjalan, hingga pada saat sekarang kondisi berbalik seratus delapan puluh derajat, bila dihitung secara keuangan posisi neraca keuangan defisit, dalam bahasa sederhana berarti masuk kategori miskin masih juga malas untuk beribadah. Jadi kesimpulan saya, saya kaya bergelimang maksiat, lagi jatuh miskin juga belum bertobat. Jadi sebenarnya makna apa yang terkandung dalam hadits tersebut”.

Di mata karyawan, kebetulan sang Direktur ini akhir – akhir ini juga kelihatan bertindak ngawur dan tidak menggunakan akal sehatnya. Di tengah kesulitan yang sedang ia hadapi seringkali mencari jalan keluar instan dan tidak masuk akal sehat. Dalam beberapa minggu saja ia mendatangkan berbagai paranormal sebagai konsultan untuk mencari solusi atas kesulitan yang sedang terjadi, dan sudah bisa ditebak apa saran paranormal – paranormal itu. Ada yang menyarankan tanam kepala kerbau di pekarangan kantornya, ada pula yang menyarankan sirami dengan kembang tujuh rupa, pokoknya yang aneh – aneh. Susi, sebut saja begitu sekretaris sang Direktur kelihatan sudah mulai resah melihat kelakuaan bosnya yang mulai aneh.

Hari itu, tanpa disangka sang Direktur kebetulan kedatangan tamu teman lamanya, mitra bisnisnya lima tahun yang lalu. Penampilannya tidak mencerminkan ia seorang bisnisman, berpakaian sederhana walaupun dilihat dari merk bajunya terlihat bukan baju murahan.

Setelah basa – basi dan bercerita tentang keadaan bisnis sang Direktur, terlihat tamu tersebut bersama sang Direkturpun pergi. Susi, sang sekretaris hanya diberi tahu, kalo mereka akan pergi makan siang. Rupanya, tamu tersebut membawa si bos ke seorang ustadz yang kebetulan tinggal tidak terlalu jauh dari kantor sang Direktur.

Setelah sampai di tempat ustadz, Sang Direkturpun dikenalkan oleh temannya, bahwa ia rekan bisnis lima tahun yang lalu. Namun anehnya, temannya tidak menceritakan keadaan sang Direktur yang sedang ditimpa kesulitan. Sang Direkturpun belum berani menceritakan kesulitan yang sedang ia hadapi, malahan juga ikut terlibat diskusi ringan tentang berbagai topik politik di negeri ini yang sedang terjadi.

Setelah cukup lama, akhirnya sang Direktur mulai bertanya kepada sang ustadz, ”saya membaca hadits, ”Kemiskinan itu hampir-hampir membawa seseorang itu kepada kekufuran, apa itu betul ustads ?” tanya sang Direktur. ”Itu betul.”, jawab sang ustadz pendek. ”Tapi kenapa ustadz ?, saya dulu pernah kaya, tapi selalu berperilaku maksiat, sedangkan di saat ini, bisa dikatakan miskin, juga susah untuk bertobat ustadz ?”, begitu keluh kesah sang Direktur kepada ustadz. Mendengar perkataan itu, sang ustadz agak diam sebentar.

Tak lama kemudian, ustadz mulai berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw duduk bersama para sahabatnya tiba-tiba tertawa. Beliau bertanya: “Ada yang mau tau mengapa saya tertawa?” Lalu para sahabat bertanya: “Kenapa Rasulullah tertawa?” “Aku kagum dengan orang beriman ; semua perbuatannya dijadikan kebaikan: Jika mereka mendapatkan kebaikan (kenikmatan) mereka memuji Allah; Jika terkena musibah (kemiskinan dll) yang tidak disukainya, mereka bersabar, maka jadi kebaikan buatnya. Sehingga semua masalah yang menimpa orang-orang mukmin semuanya menjadi kebaikan.” demikian dalam sebuah hadits Rasulullah saw.”

”Lalu, hubungannya apa ustadz ?” sergah sang Direktur. ”Kamu tahu nggak miskin yang sebenarnya itu apa ?” tanya sang ustadz. ”Ya … ga punya duit” begitu jawab sang Direktur. ”Kalau miskin itu hanya dimaknai tidak punya duit, coba kita lihat Khalifah Umar, pemimpin negara penakluk Romawi, hidup dengan roti kering dan pakaian penuh tambalan, namun tidak kufur. Sekarang juga kita lihat para koruptor yang ditangkap KPK itu, apakah manusia yang kekurangan duit ?” sang ustadz balik bertanya.

Kemudian sang ustadzpun memberi penegasan, “ ˝Sesungguhnya orang yang miskin adalah orang yang tak pernah merasa cukup˝. Banyak orang yang berpotensi atau berpeluang memperkaya diri, tapi tidak mau melakukannya. Rasulullah dan khalifah, adalah teladan umatnya. Muhammad SAW, sang pemimpin dunia malah berdoa pada Allah agar “dimiskinkan”. Kebanyakan penduduk surga kata Rosul adalah kalangan miskin. “Dan beliau bersama mereka bagaikan dua jari yang saling berdekatan”. “Kalau kemiskinan berwujud seperti manusia, akan dibunuh” kata Sayidina Ali seorang imam dan pemimpin negara yang tetap miskin, tapi benci kemiskinan. Kenapa? Ya, karena hakekat kemiskinan adalah merasa kurang cukup. ”

“˝Jangan kagum terhadap orang yang memperoleh harta secara haram. Sesungguhnya bila dia bersedekah atau menafkahkannya, itu tidak diterima Allah, dan bila disimpan tidak berkah. Bila tersisa pun hartanya akan jadi bekalnya di neraka˝, demikian dalam sebuah hadits Abu Dawud”, ungkap sang ustadz.

Terlihat sang Direktur menarik nafas panjang, kepalanya mengangguk – angguk dari lidahnya mendesah terucap lirih…..astaghfirullohal ’adzim…..

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *