Jangan hanya liat penampilan

Suatu petang saya sholat maghrib di Masjid Alun – Alun Ujungberung, Bandung, sewaktu wudhu, eh… ternyata liat orang muda yg dandanannya gaul abis.

Rambut model ditinggikan, celana jeans yang melorot, jam tangan yang gede, dan tentu kaos oblong.

Sayapun teringat orang muda ini, yang ketemu saya di sebuah Pesantren di Ujungberung atas, pas saat mau sholat maghrib juga. Dan orang ini pula yang ketemu saya nongkrong di warung kopi di Ujungberung.

Ya… sebenarnya biasa aja, yang menjadi ga biasa adalah cara pandang saya terhadap penampilannya.

Penampilan gaul sy perspektifkan seseorang yang senengnya ongkang2, ngumpul hura2, dan ga memperhatikan ibadah.

Penampilan berjubah, bergamis,berkopiah, saya pandang sebagai seorang yang alim.

Dan alur seperti itu, saya juga bawa ke ranah yang lain, seperti tampilan rapih, necis, bermobil mewah, saya terjemahkan sebagai seorang yang kaya. Sebaliknya tampilan sederhana,bermotor, dan tak rapi, saya tafsirkan sebagai seseorang yang tak berpunya. Padahal, sayapun diketemukan orang yang bermotor kemana-mana, ketika mau transaksi ditunggu di Bank Mandiri Prioritas, hehehe.

Dan ketika, alur itu saya bawa ke diri pribadi lebih sedih lagi. Ketika shalat lebih banyak sekedar menunaikan rukun dan syarat syahnya saja, penghayatan akan makna dan kekhusyukan masih jauh.

Ketika tilawahpun, lebih banyak karena tuntutan kejar setoran, tanpa penghayatan makna dan keagungan kalam Ilahi yang sedang dibaca.

Dan hari ini, saya disadarkan lagi… karena Alloh menghadirkan orang berpenampilan gaul yang rajin jamaah di masjid.

Komentar

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *