Hari – hari yang bertumbuh

Pergantian tahun baru biasanya disemarakan dengan berbagai kegiatan, dan yang tidak lepas dari moment itu adalah adanya kembang api dan terompet. Kemeriahan pergantian tahun baru, rupanya tidak berlaku bagi Somad.

Somad seorang pebisnis makanan, melewatkan pergantian tahun baru tidak diisi dengan berlibur, namun ia lebih memilih berkunjung ke tempat kang Soleh.

“Nggak jalan – jalan Mad ? tanya Kang Soleh.

“Ini barusan jalan – jalan kang, dari rumah ke tempat Kang Soleh.” Jawab Somad sambil tersenyum.

“He..he… bisa saja, kamu Mad…”

“Saya cuma takut kang… “ tanya Somad.

“Takut apa ? “ tanya Kang Soleh.

“ Takut pas niup terompet, justru malaikat Izroil niup terompet kematian sama saya….” Jawab Somad. “ Wah..wah….. hebat Mad. “ jawab Kang Soleh. 

“ Namun gini kang, saya agak sulit memahami kalimat “jika hari ini lebih baik dari kemarin berarti beruntung, jika hari ini sama dengan hari kemarin berarti rugi ; dan bila hari ini lebih jelek dari hari kemarin berarti celaka.” Tanya Somad. 

“ Bingungnya yang mana ?” tanya Kang Soleh. “ Jika hari ini sama dengan hari kemarin berarti rugi “, jawab Somad. 

“ Memang rugi…….” jawab Kang Soleh. 

“Ruginya yang mana kang ?, saya biasa jualan makanan, kalau hari kemarin saya laba satu juta, hari ini juga satu juta, itu kan sama saja kang, alias tidak rugi.” Jawab Somad. 

Mendengar penuturan Somad, Kang Soleh mengernyitkan dahi, wajahnya sedikit tersenyum sambil menarik nafas dalam – dalam. 

Sejenak kemudian Kang Soleh berkata, “Mad….ambil wudhu dulu sana…. “ perintah Kang Soleh. “ Kenapa kang ? “ tanya Somad. 

“ Untuk mencuci otakmu…….” Jawab Kang Soleh tanpa ekspresi. 

Mendengar perintah Kang Soleh, dengan tersungut – sungut Somadpun tetap melakukannya. Ia kemudian ke belakang mengambil air untuk berwudhu. Setelah selesai iapun kembali ke ruang tamu rumah Kang Soleh. 

Melihat tingkah laku Somad, Kang Soleh tersenyum – senyum. 

“Cara berfikirmu itu, terpengaruh duit ….. duit… dan duit….. makanya saya suruh cuci dulu.” kata Kang Soleh. Somadpun, terlihat ikut tersenyum. 

“Kamu dikasih hidup, yang ngasih modal hidup siapa ?” tanya Kang Soleh. 

“Gusti Alloh…..” jawab Somad singkat. 

“Modal apa yang paling berharga dalam hidup ?” 

Somadpun melongo, menerawang jauh…dan akhirnya terdiam. 

“Modal waktu……” kata Kang Soleh. 

“ Terus jawabannya apa kang ?”sergah Somad tidak sabar. 

“ Andaikan waktu sama dengan uang……. Kamu yang punya modal sebagai investor, sedangkan saya yang menjalankan bisnisnya. Kemarin saya dikasih modal sepuluh juta, dapat laba satu juta. Hari ini modalnya kamu tambahi sepuluh juta lagi sehingga menjadi dua puluh juta, namun ternyata labanya hanya satu juta saja. 

Kamu yang punya duit, gimana rasanya ? “ 

“Ngapain saya tambahi sepuluh juta kang, kalau labanya sama dengan yang kemarin, kan sama saja rugi saya, modal sepuluh dapat satu, modal duapuluh dapat juga satu.” Sergah Somad. 

“Nah, itu jawabannya….” kata Kang Soleh. 

“Maksudnya ? “ tanya Somad. 

“Setiap hari kita selalu dikasih modal waktu sama Gusti Alloh, hari demi hari yang kita lalui sebenarnya tambahan demi tambahan, yang seharusnya dipergunakan untuk meningkatkan kualitas amaliah kita kepada Alloh swt. Setiap hari yang kita lewati, setiap tahun yang kita jalani, harusnya semakin meningkatkan kedekatan kita kepada Gusti Alloh. Hari – hari yang kita lalui, hendaknya hari – hari yang semakin bertumbuh.” 

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *