Mengetuk pintu surga

“Bulan puasa kali ini, kayaknya saya banyak mengalami peningkatan nih…” celoteh Dulrokhim seorang supir angkot. Mendengar celoteh tersebut, buru – buru Sarmin tukang becak menyela, “ sampeyan kok ya bisa ngomong gitu to…kalo sampeyan jadi supir angkot, mana bisa sampeyan bilang bulan puasa kali ini ada peningkatan…kalo sampeyan bisa puasa aja, sudah beruntung.”

“Kamu, jangan ngrendahkan gitu Min….saya memang supir angkot, dan keseharian bergaul dengan terik matahari…tapi bukan berarti saya gampang untuk tidak berpuasa, asal kamu tahu… walaupun belum genap satu minggu, saya sudah hampir mengkhatamkan Al Qur’an.” Nada Dulrakhim agak ketus.

Mendengar perkataan Dulrokhim, Sarmin juga tidak mau tinggal diam mulai unjuk gigi, “wah..wah…pancen hebat sampeyan, tapi begini …kalo sampeyan bisa puasa…terus cepet mengkhatamkan Al Qur’an, ya….wajar saja, orang sambil nungguin penumpang sampeyan bisa tadarus…., dan tidak memerlukan tenaga yang besar.” “ Maksudmu apa Min ?” tanya Dulrokhim.

“Nah kalau saya Dul…..saya sebagai tukang becak, jelas lebih banyak mengeluarkan tenaga lebih banyak ketimbang sampeyan yang hanya supir…jadi mestinya nilai puasa saya ya…lebih berat dibanding sampeyan.., nah kalau soal khatam Al Qur’an dan amalan lainnya saya juga ga kalah kok, dibanding sampeyan….” begitu cerocos Sarmin tukang becak.

Cerita diatas, mungkin terlalu berlebihan namun esensinya biasa terjadi di lingkungan kita, atau bahkan diri kita sendiri yang berperan sebagai Dulrokhim ataupun Sarmin, terlepas status sosial yang kebetulan melekat dalam diri kita, entah seorang eksekutif perusahaan, seorang pengusaha, atau bahkan seorang dengan label ustadz.

Sebuah hal yang baik, dikala amal ibadah yang kita lakukan dari ramadhan satu ke ramadhan berikutnya menjadi lebih baik, sehingga tahun demi tahun yang kita lalui grafik kita semakin naik. Namun ukuran sebuah kebaikan tidak hanya dilihat dari aktivitas lahir semata, namun yang tidak kalah adalah kualitas batin ini.

Lapar yang kita rasakan di siang hari pada saat berpuasa sesungguhnya merupakan anugerah dari Allah sebagai bentuk penyempitan gerak syetan, karena syetan beredar pada diri anak Adam melalui peredaran darah, seandainya saja syetan tidak mengelilingi kalbu anak Adam, maka sesungguhnya anak Adam bisa melihat kerajaan langit, dengan puasa inilah dapat menghancurkan syahwat. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw berkata kepada Aisyah r.a., “Teruslah mengetuk pintu surga.”. Aisyah r.a. bertanya, “dengan apa ?”. Beliau menjawab, “dengan lapar.”

Puasa berkaitan erat dengan proses ”meninggalkan” seluruh sifat tercela keakuan, keegoisan diri yang bermuara pada nafsu pribadi, sehingga ia bisa benar-benar merasakan ”rasa laparnya kaum dhuafa”, serta dibalik semua itu ia juga bisa benar – benar mengekang dari segala keinginan nafsu pandangan, lisan, pendengaran, maupun perilakunya serta lintasan fikir dan bisikan hati dari segala sifat sombong, hasud, dan dengki.

Kita harus berhati – hati jangan sampai termasuk dalam kelompok yang oleh Rasulullah SAW disebut puasa yang sia-sia, selain hanya memperoleh lapar dan dahaga. Sabda Rasulullah saw, “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja!” (HR. an Nasa’i, Ibnu Majah). Hadits ini ada yang mengartikan pada orang yang berpuasa namun berbuka dengan makanan haram. Tetapi ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa, yang menahan diri dari makanan halal tetapi berbuka dengan daging dan darah manusia, dikarenakan mereka telah merusak puasanya dengan mengumpat orang lain. Ada juga yang menafsirkan bahwa mereka ini berpuasa tetapi tidak menjaga anggota tubuhnya dari berbuat dosa.

Setelah berbuka puasa, selayaknya hati kita terayun-ayun antara takut (khauf) dan harap (raja’). karena siapa pun tidak mengetahui, apakah puasanya diterima sehingga dirinya termasuk orang yang mendapat karunia Nya sekaligus orang yang dekat dengan Nya, ataukah puasanya tidak diterima, sehingga dirinya menjadi orang yang dicela oleh Nya.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *