Menuju Hati Yang Khusu’

Manusia yang hatinya paling khusu’, tentunya tidak ada lagi, kecuali hanya Rasulullah saw. Karena Beliau adalah orang yang paling kenal (ma’rifat) dan paling mencintai Allah Ta’ala, sehingga beliau paling yakin terhadap apa-apa yang dijanjikan Allah Ta’ala melalui firman-Nya.

Selanjutnya, baru orang-orang yang telah berhasil mengikuti Beliau dengan baik. Baik ilmu, amal, perjuangan, terutama pelaksanaan akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Mereka itu adalah para Keluarga (ahlu baitin nabi), Kerabat, Sahabat dan pengikut pengikut yang setia, kemudian orang-orang yang mengikuti pengikut-pengikut tersebut dengan baik sampai hari kiamat. Sesuai dengan kemampuan mereka mengikuti Baginda Nabi saw., mereka adalah orang yang hatinya paling khusu’ diantara orang – orang yang ada di sekitarnya. Yang demikian itu, karena Rasulullah saw. adalah “Uswatun hasanah”(suri tauladan yang baik). Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.al-Ahzab : 21)

Maksud ayat, untuk mampu menjadikan Rasul Muhammad saw. sebagai suri tauladan yang baik, syaratnya, terlebih dahulu orang tersebut harus mempunyai tiga pilihan hidup. Pertama, “yarjullah”, yaitu orang yang tujuan hidupnya hanya berharap mendapatkan ridho Allah semata, bukan karena ingin masuk surga maupun takut neraka. Kedua, “wal yaumal akhir”, yaitu orang yang orientasi hidupnya hanya mengharapkan kebahagiaan hari akhirat, yaitu ingin masuk surga dan selamat dari neraka. Dan yang ketiga, “wadzakarollaha katsiroh”, yaitu orang yang banyak berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Maka, yang dimaksud orang yang hatinya khusu’ itu adalah orang yang orientasi hidupnya hanya untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala, baik semata mengharap ridho Allah Ta’ala maupun kebahagian hidup di surga. Sebabnya, merekalah orang yang hatinya telah yakin, bahwa apapun yang diperbuatnya, baik urusan dunia terlebih urusan akhirat, kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala, baik dengan siksa di neraka maupun dengan kebahagiaan di surga. Allah Ta’ala menegaskan yang demikian itu dengan firman-Nya:

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, – (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(QS. al-Baqoroh : 45-46).

Yang dimaksud dengan “al-ladziina yadhunnuuna” (orang-orang yang menyangka) adalah orang-orang yang hatinya telah yakin bahwa mereka akan menjumpai Allah Ta’ala. Maksud ayat, orang-orang yang hatinya khusu’ itu adalah orang yang yakin akan menjumpai Allah, baik dengan wushul (interaksi secara ruhaniyah) melalui ibadah yang sedang dilakukannya saat itu, juga dengan pahala amal ibadah itu nantinya di surga.

Kalau tidak demikian, mereka yakin bahwa kelak akan dikembalikan kepada-Nya untuk menerima pahala ibadah dengan surga atau mempertanggung-jawabkan dosanya dengan siksa neraka.

Untuk membaca lebih lengkap silahkan download ebook “Menuju Hati Khusu’” karya Bapak Muhammad Luthfi Ghozali, dengan klik disini.

Untuk Abah, matur nuwun mengijinkan buku ini untuk dishare.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *