Maasyaa Allah, ini 8 fakta ilmiah menakjubkan dalam shalat

image

Barangkali sebagian dari umat Islam ada yang menganggap shalat hanya sebatas kewajiban dan ibadah ritual kepada Allah subhanahu wata’ala. Sehingga banyak sekali dari Muslimin ketika imannya sedang turun yang menggap hal itu membosankan sampai-sampai meninggalkan shalat dengan urusan duniawi semata.

Namun, di balik itu semua kita pasti akan terkejut saat mengetahui fakta ilmiah yang sarat manfaat di balik gerakan dan bacaan itu. Pada Ramadhan 1436 Hijriyah ini, mari kita renungkan manfaat yang Allah berikan kepada kita melalui syari’at shalat lengkap dengan bersuci. dikutip dari arrahmah.com

Continue reading “Maasyaa Allah, ini 8 fakta ilmiah menakjubkan dalam shalat”

Sebaiknya Gunakan Mushaf Al Qur’an Cetak

Terkait maraknya berbagai aplikasi Al Qur’an Online, baik via brower, maupun perangkat android dan ipad, seperti iQuran Lite.  Seperti dilansir oleh harian Republika ketika mengutip pernyataan Kepala Bidang Pengkajian Alquran LPMA Muchlis M Hanafi mengungkapkan khawatir terhadap rawannya penyelewengan teks alquran pada aplikasi perangkat teknologi komunikasi yang berbentuk dana digital.

Kita khawatir kesempatan ini dimanfaatkan bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk merusak keshahihan teks Alquran di tengah masyarakat,” ujar Pak Muchlis.


Sebab, ungkap dia, pengawasan yang dilakukan LPMA sebagai lembaga yang berada di bawah Kemenag masih fokus mengawasi teks Alquran yang bentuknya mushaf cetak atau hardcopy. Untuk pengawasan teks mushaf Alquran cetak ini, LPMA pun telah turun ke lapangan mengecek setiap percetakan dan toko buku penjualan Alquran.


Karenanya, ia mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati menggunakan aplikasi Alquran di gadget dan perangkat mobile. “Kalau bisa dicek terlebih dahulu teksnya apakah sesuai terjemahan Kemenag atau tidak.


Oleh karena itu, utamakan menggunakan mushaf cetak, untuk melakukan tilawah, apalagi bagi sahabat yang mengikuti Program ODOJ.


Semoga bermanfaat.

Inilah Passive Income yang sesungguhnya…

Sahabat tentu mengetahui apa itu Passive Income kan ?, nah ini ada tulisan yang saya ambil dari republika, yang saya maksud dengan passive income adalah amalan yang pahalanya terus mengalir. Apa itu ?? –>>  ya… amal jariyah.

Amal Jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah wafat. Amalan tersebut terus memproduksi pahala yang terus mengalir kepadanya.

Hadis tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang berman­faat, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).

Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang disebar­luaskannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah).

Di dalam hadis ini disebut tujuh macam amal yang tergolong amal jariah sebagai berikut.

1. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, seperti diskusi, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah me­nulis buku yang berguna dan mempublikasikannya.

2. Mendidik anak menjadi anak yang saleh. Anak yang saleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia. Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang dipeibuat oleh anak saleh pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah wafat tanpa mengurangi nilai/pahala yang diterima oleh anak tadi.

3. Mewariskan mushaf (buku agama) kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya.

4. Membangun masjid. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Orang yang membangun masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di mas­jid itu.

5. Membangun rumah atau pondokan bagi orang-orang yang bepergian untuk kebaikan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk istirahat sebentar maupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membangunnya.

6. Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tampat-tempat orang yang membutuhkannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau didiami orang banyak. Setelah orang yang mengalirkan air itu wafat dan air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.

Semakin banyak orang yang memanfaat­kannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membangun sebuah sumur lalu diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan mem­berinya pahala kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).

7. Menyedekahkan sebagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

Sumber : Ensiklopedi Hukum Islam

Keajaiban itu bisa diakses oleh para kekasih Tuhan

Masalah hidup sesungguhnya adalah masalah persepsi. Persepsi bisa membuat suatu masalah menjadi lebih berat atau menjadi lebih ringan.

Para salikin, karena kepasrahannya secara total kepada Allah, tidak pernah merasakan beban hidup yang berat karena dia yakin bahwa Allah meringankan dan mengangkat seberat apa pun beban kehidupan itu. 

Sebagaimana firman-Nya, “Dan Kami telah meng hilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)-mu”. (QS Al-Insyirah [94]: 2-4). 

Para salikin merasakan tangan-tangan Tuhan mengangkat masalahnya dengan berbagai cara, antara lain, 

Pertama, masalah dan beban hidup itu nyata adanya, tetapi Allah melapangkan dada ham ba-Nya selebar samudera sehingga masalahnya ibarat sebotol tinta tidak memberikan warna sedikit pun pada air samudera, berbeda dengan segelas air dapat diubah warnanya oleh setetes tinta.  

Kedua, masalah dan beban hidup itu nyata, tetapi semua orang yang melihat dan mengetahuinya prihatin dan memberi dukungan pada dirinya sehingga tidak ada beban dan rasa malu yang harus diemban.  

Ketiga, masalah dan beban hidup itu nyata adanya, te api diyakini dan dinikmatinya cara Tuhan untuk membersihkan dosa masa lampaunya.  

Keempat, wujud masalah dan beban hidup itu dihilangkan oleh Allah SWT. 

Di kamar Maryam selalu tersedia menu makanan lengkap tanpa diketahui asal muasalnya, Nabi Ibrahim selamat dari bara amukan dan bara api, Nabi Musa dan Nabi Yunus selamat dari kedalaman laut, dan banyak lagi kisah ajaib lainnya dalam Alquran. 

Orang yang yakin penuh terhadap Tuhan, maka semua makhluk-Nya hakikatnya mencintai dan tidak akan mencederainya. Bahkan, dengan serta-merta mereka akan menolong kekasih Tuhannya. 

Para salikin berkeyakinan seperti ini. Di dunia ini penuh keajaiban dan keajaiban itu bisa diakses oleh para kekasih Tuhan.

Dikutip dari : Jalan Hidup Salikin (3) oleh Prof Dr Nasaruddin Umar
Sumber : republika.co.id

Masihkah belum bisa bersyukur ?

Tak seperti biasanya, hari sabtu pagi fikiran saya terbebani dengan berbagai bayang – bayang beban yang menumpuk.

 Dalam fikiran yang terlintas, bukannya hal – hal yang sudah saya terima, namun keinginan – keinginan yang belum didapat. Muka kusut, wajah cemberut menghiasi pagi saya…. duh….kok gini, guman saya dalam hati. 

Sayapun tidak mau berlarut – larut dengan keadaan seperti itu, sayapun kemudian keluar rumah untuk melihat pekerjaan di proyek. 

Kotornya jalanan, dengan tempelan lumpur bekas hujan semalam sama sekali tidak menjadi beban. 

Setelah selesai sayapun mendekat ke pos satpam, ternyata…. dari sinilah, saya merasa ditegur sama Alloh. 

Seorang satpam mendekat ke saya, dengan penuh sumringah dan bangga bercerita bahwa gajinya bulan Januari akan naik. 

Gajinya akan dinaikkan bulan Januari mendatang menjadi 1.5 juta. 

Melihat sumringahnya dia, dan bangganya dia menceritakan tentang rencana dapat kenaikan gaji, saya jadi tertegun. 

Dalam hati saya berbicara, ia bisa sumringah dan bangga hanya karena akan dapat kenaikan gaji 1.5 juta per bulan….. lah saya ???? 

Kok ga bisa bangga dan sumringah, padahal penghasilan jauh diatas itu…kenapa tidak bersyukur.. 

Sayapun kemudian pulang, bersujud dan beristighfar… mohon ampun atas berkurangnya rasa syukur saya. 

Masihkah kita kurang bisa bersyukur, hanya karena keinginan kita belum kita dapat. 

Masihkah kita kurang bersyukur, di saat orang lain di bawah kita, sudah bisa bersyukur ? 

Masihkah kita kurang bersyukur, padahal yang kita terima jauh lebih banyak dibanding apapun ?